//
Anda sedang membaca...
Kimia Kayu Terapan

Akasia Sebagai Perekat Kayu Lapis

oleh :

Evie Nihayah

E24090027


                “The Whole tree utilization” mengandung arti :

  1. Memanfaatkan semua jenis kayu
  2. Memanfaatkan semua komponen kayu (lignin, selulosa, hemiselulosa)
  3. Memanfaatkan semua bagian dari kayu (akar, batang, cabang)

Kebutuhan kayu yang terus meningkat dan potensi hutan yang terus berkurang menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain dengan  memanfaatkan limbah kayu menjadi produk yang bermanfaat. Melalui konsep the whole tree utilization, disamping meningkatkan penggunaan bahan berlignoselulosa non kayu, dan pengembangan produk-produk inovatif sebagai bahan bangunan pengganti kayu. Berikut salah satu peningkatan nilai kayu dalam industry kayu lapis.

Industri bubur kayu banyak menyisakan limbah yang tak terpakai, yaitu berupa kulit kayu. Selama ini kulit kayu akasia belum dimanfaatkan dengan baik. Padahal, dengan sedikit sentuhan teknologi , kulit kayu akasia yang berasal dari limbah industri pulp ini bisa dimanfaatkan untuk perekat kayu lapis. Perekat merupakan faktor utama dalam produksi kayu lapis. Perekat yang umum digunakan di Indonesia adalah urea formaldehida yang menghasilkan emisi formaldehida, yaitu gas beracun yang bisa menimbulkan penyakit. Emisi ini dapat merugikan untuk kesehatan manusia karena jika terkena panas sedikit saja, gasnya dapat menyebar di udara. Emisi formaldehida memunyai efek negatif, yaitu menyebabkan penyakit kanker dan gangguan pada sistem pernapasan. Untuk menekan emisi yang tidak ramah terhadap kesehatan, pemanfaatan tanin merupakan langkah terobosan. Manfaat tanin yang terdapat pada serbuk kulit kayu akasia bisa digunakan sebagai perekat tambahan dalam proses perekatan.

*kayu lapis *

 Serbuk kulit kayu akasia juga mampu meningkatkan nilai ekonomis limbah kulit kayu, mengurangi emisi formaldehida dari perekat yang digunakan sehingga lebih aman untuk kesehatan dan mengurangi biaya produksi. Dari sisi ekonomi , pemanfaatan serbuk kulit kayu akasia membuat ongkos produksi lebih ekonomis. Berdasarkan penelitian, serbuk kulit kayu akasia mampu menjadi campuran pada lem kayu hingga 60 persen. Selain itu, dari segi ongkos produksi pemanfaatan serbuk kulit kayu lapis akan menurunkan suhu kempa pada proses pembuatan. Menurunnya suhu kempa akan mengurangi biaya energi untuk proses ini. Untuk pengempaan, biasanya digunakan suhu 130 derajat selsius, tujuannya untuk mendukung perekatan urea formaldehida. Sedangkan pada inovasi ini suhu yang dipakai antara 100 hingga 20 derajat selsius saja sehingga lebih hemat energi . Proses pembuatan perekat kayu lapis adalah dengan melebur kulit kayu akasia menjadi serbuk, menggunakan proses mekanis tanpa bantuan proses kimia .

Pertama adalah mengambil kulit kayu akasia yang masih dalam kondisi basah, dan dikeringkan pada suhu ruang tertentu hingga kering. Selanjutnya dibuat serbuk dengan menggunakan mesin cakram penggiling. Setelah itu diayak. Tujuannya untuk memperolah serbuk dengan kehalusan tertentu seperti yang disyaratkan. Setelah selesai, lantas dikeringkan. Serbuk kulit kayu akasia yang telah dikeringkan lalu ditambahkan pada perekat urea formaldehida untuk digunakan sebagai perekat tambahan kayu lapis dengan cara diaduk sampai sampai rata. Penambahan serbuk kulit kayu akasia ini bervariasi antara 10 persen hingga 60 persen dari berat campuran perekat urea formaldehida. Proses pembuatan kayu lapis dilakukan dengan mengoleskan campuran perekat pada permukaan venir (lembaran kayu) kayu pertama dan merekatkannya dengan permukaan venir kayu kedua, begitu seterusnya hingga beberapa lapis.

Setelah pelaburan selesai, dilakukan pengempaan dingin venir-venir atau lembaran serat kayu yang telah direkatkan pada suhu ruang dengan durasi dan tekanan tertentu. Langkah berikutnya adalah pengempaan panas venir-venir kayu yang sudah direkatkan tersebut pada suhu antara 100 hingga 120 derajat celcius dengan durasi tekanan tertentu sehingga dihasilkan kayu lapis. Keteguhan rekat mencapai angka lebih besar dari 7 kilogram force per sentimeter persegi. Angka ini menandakan bahwa kayu tersebut memenuhi standard untuk interior I dan interior II, yaitu interior dengan tingkat kekuatan sedang dan kuat.

Sumber : Anne Ahira.com

http://www.anneahira.com/kayu/kayu-lapis.htm

About theadiokecenter

Assalamualaikum. Saya membuat blog ini adalah karena ketertarikan saya akan pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Buah fikiran dan curahan hati saya semoga dapat dibaca oleh siapapun dan dimanapun baik di dalam maupun luar negeri. Terima kasih atas partisipasi aktif Anda dalam pengembangan blog ini. Untuk kemajuan blog ini saya berharap pengunjung bersedia memberikan saran dan kritikan yang membangun. Semoga dunia pendidikan kita semakin maju di masa yang akan datang. Amiin yaa rabbal 'alaminin.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Foto Saya

anda ingin berlangganan artikel di blog ini secara rutin? tuliskan alamat email dan anda akan memperoleh update tulisan terbaru

Bergabunglah dengan 3.296 pengikut lainnya.

JUMLAH PENGUNJUNG

Scholarships Grants Loan - Scholarships, Grants & Student Loan Information

Dies Natalis PSB 2014

Dies Natalis PSB 2014

ARSIP

KALENDER

April 2011
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Goodreads

%d bloggers like this: