Kayu yang terbentuk bukan hanya dipengaruhi oleh perubahan musim namun juga dipengaruhi oleh gaya-gaya mekanik. Pohon memberikan reaksi terhadap gaya regangan yang dialam oleh batang, cabang dan ranting dengan membentuk kayu reaksi. Pada batang, kayu ini terbentuk apabila batang utama suatu pohon miring dari arah vertikal (Gambar 1). Namun bukan berarti kayu ini terjadi karena proses lengkungan melainkan karena pengaruh gravitasi atau gaya berat.

Gambar 1

Lalu bagaimana gaya berat bekerja untuk menimbulkan pembentukan kayu reaksi ?Auksin dan asam giberelat menyebabkan terjadinya kayu reaksi. Pernyataan ini dikuatkan oleh penelitian bahwa pada pohon conifer konsentrasi auksin lebih tinggi pada sisi bagian bawah daripada sisi atas dan bahwa gaya berat juga berpengaruh terhadap distribusi auksin dalam tanaman. Sehingga dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang penting antara gaya berat-auksin terhadap pembentukan kayu reaksi.

Kayu reaksi yang dibentuk pada pohon conifer berbeda dengan daun lebar. Pohon konifer membentuk kayu tekan di daerah yang tertekan dan pohon daun lebar membentuk kayu tarik pada daerah tarikan. Namun dalam keduanya fungsi kayu reaksi sama yaitu untuk mengembalikan batang atau cabang ke posisi semula. Jaringan pada daerah tekan dan tarik memiliki perbedaan sifat-sifat anatomi, kimia, dan fisika dengan kayu normal.

Bila pohon melengkung sisi batang ke arah mana puncak dibengkokan menjasi lebih pendek akibat gaya tekan yang terjadi pada pohon conifer disebut kayu tekan. Sebaliknya sisi sisi yang lain (sisi atas) dari batang terentang karena gaya tarik pada pohon daun lebar disebut kayu tarik. Karakteristik utama kayu tekan (compression wood) adalah warnanya yang gelap yang disebabkan oleh kandungan lignin yang relatif tinggi, trakeid kira-kira lebih pendek 30% bila dibandingkan dengan kayu normal dengan bentuk membulat bila dilihat dari arah radial dan tidak adanya dinding tersier dan dinding skunder 2 dengan bentuk rongga spiral. Bila dilihat dari arah longitudinal ujung-ujung trakeid kayu tekan bengkok dan berlipat Faktor-faktor ini mengurangi kesesuaian kayu tekan untuk pembuatan pulp dan kertas. Selain itu kayu tekan memiliki penyusutan longitudinal yang cukup besar yaitu 6-7% bila dibandingkan dengan kayu normal dengan penyusutan 1-2%. Kayu tekan dapat dikenali secara visual apabila melihat pada permukaan yang halus dari arah transversal. Suatu potongan melintang yang mengandung kayu tekan memiliki lingkaran tahun yang sangat lebar pada sisi bawah atau sisi yang tertekan. Sebagai akibatnya empulur letaknya lebih dekat dengan sisi atas batang. Di samping itu pada lingkaran-lingkaran tumbuh yang lebar tersebut mengandung proporsi kayu akhir yang lebih tinggi.

Gambar 2

Gambar 2

Sama halnya dengan kayu tekan, kayu tarik juga memiliki sifat yang berbeda dibandingkan dengan kayu normal. Kayu tarik (tension wood) mengandung selulosa yang lebih tinggi, pembuluh yang lebih sedikit dan lebih kecil bila dibandingkan dengan kayu normal dan serabut mengandung lapisan dinding khusus yang disebut lapisan gelatin (gelatinous layer) atau sering disebut lapisan G. Bergantung pada jenis, lapisan G ini bisa menggantikan lapisan S2, dinding tersier atau sebagai tambahan terhadap lapisan dinding normal. Kayu tarik yang digunakan sebagai bahan baku pulp menghasilkan kertas yang lebih lemah walaupun dapat diperbaiki dengan perlakuan penghalusan. Karena kandungan lignin yang tidak begitu banyak maka pembuatan pulp pada kayu tarik lebih baik menggunakan metode mecanical pulping. Untuk pengolahan kayu tarik sebagai bahan gergajian cenderung kurang baik karena menghasilkan permukaan kriting. Hal ini menyebabkan gergaji menjadi terlalu panas dan menyulitkan penyelesaian akhir. Pada proses pengeringan kayu tarik cenderung mengalami collapse permanen. Collapse adalah pelekukan ke dalam atau pemipihan sel-sel kayu selama pengeringan sering mengakibatkan permukaan kayu mengalami perubah bentuk.