Lignin merupakan salah satu komponen kmia penyusun dinding sel kayu selain selulosa dan hemiselulosa. Keberadaan lignin di alam berbentuk polimer yang tersusun atas unit fenil propana yang bercabang banyak dan membentuk struktur berdimensi tiga. Lebih dari dua pertiga unit penyusun lignin berikatan antara satu dengan yang lainnya melalui ikatan eter dan sisanya karbon. Lignin adalah polimer yang lebih kompleks daripada selulosa serta memiliki bobot molekul yang tinggi. Lignin terdapat pada dinding sel dan diantara sel-sel. Konsentrasi lignin terbesar terdapat pada lapisan lamela tengah dan semakin menurun menuju lapisan sekunder.

Lignin memiliki fungsi sebagai perekat alami mengikat sel-sel serat agar tetap bersama-sama. Keberadaan lignin dalam dinding sel memberikan ketegaran pada sel, memperkecil perubahan dimensi dan mengurangi degradasi terhadap selulosa (physical barier). Berdasarkan strukturnya lignin dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok yaitu lignin guaiasil yang disusun oleh 90% unit guaiasil (p-koniferil alkohol ) dan sisanya p-hidroksil  yang terdapat pada kayu daun jarum, siringil-guaiasil (sinapil alkohol dan p-koniferil alkohol dengan nisbah tertentu) terdapat pada kayu dari golongan daun lebar. Keragaman proporsi guaiasil dan siringil unit penyusun lignin juga ditemukan pada jaringan kayu yang berbeda dalam satu batang pohon yang sama. Sel serat umumnya lebih banyak mengandung lignin dengan proporsi siringil yang lebih dominan sedangkan sel pori lebih banyak disusun oleh unit lignin guaiasil.

Dalam pengolahan kayu lignin sering dilarutkan untuk memperoleh serat selulosa melalui proses pulping. Dalam suasana asam lignin cenderung melakukan kondensasi. Peristiwa ini menyebabkan bobot molekul lignin berubah dan dalam keadaan yang sangat asam lignin yang telah terkondensasi ini akan mengendap. Inilah yang menjadi dasar penentuan kadar lignin dengan menggunakan metode klason yakni mengukur lignin yang tidak terlarut dalam suasana asam.

Sebagian lignin akan terlarut di dalam asam pada tahap hidrolisis ke dua dari proses lignin klason. Proporsi lignin terlarut asam dalam kayu daun lebar lebih besar dengan kadar lignin klason yang rendah dan kandungan metoksil yang lebih tinggi. Kandungan lignin terlarut asam pada kayu daun lebar mencapai 4% sedangkan pada kayu daun jarum hanya mencapai 1%. Kadar lignin terlarut asam yang tinggi pada kayu daun lebar menunjukan bahwa terdapat hubungan antara perbandingan siringil dan guaiasil dalam lignin. Semakin tinggi perbandingan siringil dan guaiasil dalam kayu menyebabkan kandungan metoksil yang semakin tinggi pula sehingga lignin menjadi loebih reaktif. Proporsi lignin siringil akan memudahkan penghilangan lignin pada proses pulping.

Dalam penentuan lignin kekeliruan bisa saja terjadi yaitu hasil analisis bisa lebih besar karena diduga sebagian polisakarida belum terlarut sempurna ataupun analisis bisa lebih kecil karena diduga cukup besarnya lignin yang terlarut asam. Lignin terlarut asam merupakan salah satu sifat kimia yang menunjukan kandungan serta reaktifitas lignin dalam kondisi asam.