PEMANFAATAN LAK SEBAGAI HASIL HUTAN BUKAN KAYU

Lak merupakan suatu jenis resin alam dihasilkan oleh sekresi insekta yang disebut Laccifer lacca Kerr, dimana sekresi ini digunakan oleh serangga untuk membuat rumah, dan melindungi diri dari serangan musuhnya. Lak berasal dari kata laksa (sansekerta) artinya 100.000 yaitu ungkapan karena begitu banyak jumlah larva yang menetas dan berkembang biak. Lak yang tersebar di Indonesia diambil dari India dan dikembangbiakan pada cabang pohon kesambi (Schleisbera oleosa Merr) di daerah Probolinggo Jawa Timur dan DIY Yogyakarta. Selain kesambi pohon akasia (Acacia villosa wild), polso (Butea monosperma), dan widara (Ziziphus jujube Lam) juga bisa digunakan sebagai pohon inang.

Di Indonesia lak telah digunakan sebagai bahan bahan vernish untuk barang meubel, sedangkan di luar negeri lak digunakan sebagai bahan pelapis makanan (coklat dan permen) serta untuk industri farmasi. Disamping itu lak banyak digunakan sebagai bahan isolasi listrik, bahan piringan hitam, bahan tinta cetak, bahan perekat, bahan campuran dalam industri semir sepatu dan bahan penyamak kulit.

Dalam pengolahannya dikenal istilah lak cabang dan lak butir. Lak cabang diperoleh dari penguduhan atau pemanenan pohon inang yang ditulari yaitu cabang dan rantingnya. Diameter ranting maksimal 2 cm, panjang potongannya 10-20 cm. Pada prosesnya lak cabang hasil unduhan disortir menjadi lak cabang bibit (Al) dan lak cabang bukan bibit. Waktu pemanenan harus dipertimbangkan dengan baik karena keterlambatan dalam pengunduhan membuat kutu lak telah terlebih dahulu meninggalkan selnya sehinga lak bibit menjadi kosong, biasanya umur uduhan normal selama 155 hari.

Lak cabang yang telah diperoleh dari lak hutan dilepaskan dari kayunya dengan mesin penggerus (chrusher) menjadi lak kerokan. Lak ini kemudian diayak dengan pengayakan yang bertahap kemudian butiran yang sudah bersih dari kayu dan pengotor lainnya direndam dalam triatolamine  dengan konsentrasi 250 cc/ton selama 24 jam sedangkan limbahnya dikembalikan lagi ke mesin pengayak. Lak kemudian ditambung dalam wadah berisi air. Lak akan tenggelam sedangkan limbah dan pengotornya akan terapung. Lak yang sudah bersih kemudian dikeringkan secara alami oleh sinar matahari. Apabila musim kemarau waktu pengeringan bisa mencapai satu minggu namun bila musim hujan selama dua minggu.

Lak kuning di peroleh dari pengolahan Lak butiran, melalui proses pemanasan dan penyaringan. Lak butiran akan mencair dan sekaligus akan tersaring.  Hasil lak dapat diperoleh sesuai dengan cetakan yang kita buat sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pasar.

2 thoughts on “PEMANFAATAN LAK SEBAGAI HASIL HUTAN BUKAN KAYU”

  1. salam rimba… bwt sesama mahasiswa kehutanan
    saya mahasiswa kehutanan USU Medan, ada hal yang ingin saya tanyakan mas.
    saya mencari SNI tentang kemenyan, tetapi selalu saja tidak dapat saya temukan.
    mungkin mas dapat membantu masalah saya ini karena hal itu penting untuk penelitian saya.
    karena penelitian saya mengangkat tentang kemenyan (HHBK), dan memerlukan SNI tentang kemenyan.sedangkan yang saya temukan hanya SII 2044-87.

    mohon bantuannya
    terimakasih
    Salam Rimba

    Like

    1. salam rimba mas, saya sudah mencoba untuk mencarinya namun smpai sekarang belum erhasil mendapatkannya. nanti akan saya cba tanya teman-teman lain ya. terima kasih.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s