Di dalam suatu reaksi kimia, perbandingan mol zat-zat pereaksi yang ditambahkan tidak selalu sama dengan perbandingan koefisien reaksinya. Hal ini menyebabkan ada zat pereaksi yang akan habis bereaksi lebih dahulu. Pereaksi demikian disebut pereaksi pembatas.

Contoh:

1. Satu mol larutan natrium hidroksida (NaOH) direaksikan dengan 1 mol larutan asam sulfat (H2SO4) sesuai reaksi:

2 NaOH(aq) + H2SO4(aq) –> Na2SO4(aq) + 2 H2O(l)

Tentukan:

a. pereaksi pembatas

b. pereaksi yang sisa

c. mol Na2SO4 dan mol H2O yang dihasilkan

a. Mol masing-masing zat dibagi koefisien, kemudian pilih hasil bagi yang kecil sebagai pereaksi pembatas

mol NaOH/koefisien NaOH

=1/2 mol

= 0,5 mol

mol H2SO4/koefisien H2SO4

=1/1 mol

= 1 mol

Karena hasil bagi NaOH < H2SO4, maka NaOH adalah pereaksi pembatas, sehingga NaOH akan habis bereaksi lebih dahulu.

b. pereaksi yang sisa adalah H2SO4

c. mol Na2SO4 yang dihasilkan = 0,5 mol

mol H2SO4 yang dihasilkan = 1 mol

2. 100 mL larutan Ca(OH)2 0,1 M direaksikan dengan 100 mL larutan HCl 0,1 M sesuai

reaksi:

Ca(OH)2(aq) + 2 HCl(aq) → CaCl2(aq) + 2 H2O(l)

Tentukan pereaksi pembatas!

Jawab:

mol Ca(OH)2 = M × V = 0,1 mol/liter × 0,1 liter = 0,01 mol

\frac{mol\: CaOH_{2}}{koefisien\: CaOH_{2}} = 0,01 mol / 1 = 0,01 mol

\frac{mol\: HCl}{koefisien\: HCl} = 0,01 mol / 2 = 0,005 mol

Karena hasil bagi mol mula-mula dengan koefisien pada HCl lebih kecil daripada Ca(OH)2, maka HCl merupakan pereaksi pembatas (habis bereaksi lebih dahulu).

Jadi, pereaksi pembatas adalah larutan HCl. (James E. Brady, 1990)