Tujuan

Mengetahui teknik pengukuran wilayah jelajah rayap dengan menggunakan teknik pemantauan rayap bertanda

 A. Bahan dan Alat

  1. Bahan penanda rayap (nile blue A)
  2. Kertas Saring Whatman
  3. Aquadestilata
  4. Kayu umpan rayap
  5. PVC
  6. Penutup PVC
  7. Cawan Petri

 B. Prosedur Kerja

1. Pembuatan Kayu Umpan

2. Deteksi Lokasi Kehadiran Rayap

Kayu umpan (stakes) yang digunakan dibuat dari kayu Pinus merkusii atau Hevea brasiliensis berukuran 2,5 x 4 x 28 cm3 dalam keadaan kering udara. Bagian atas kayu umpan dicat dengan warna terang (merah) untuk membantu menandai lokasi kayu selama pengamatan dilakukan.

Pemasangan Kayu Umpan

Pemasangan kayu umpan dilakukan pada tanah yang lembab atau dekat system perakaran tanaman yang diperkirakan tidak terganggu oleh aktivitas yang dilakukan di daerah tersebut . Kayu umpan tidak dipasang di dekat batas struktur pondasi bangunan karena berpotensi dipengaruhi oleh termisida tanah. Setiap kayu dibenamkan secara vertical ke dalam tanah sedalam 23 cm; bagian kayu umpan yang muncul di atas permukaan tanah setinggi 5 cm (gambar 1) Jarak antar kayu umpan 5-10 meter. Pengamatan kayu umpan dilakukan setiap bulan selanjutnya sebuah stasiun pengamatan ditetapkan pada kayu umpan yang terserang rayap.

Pembuatan Stasiun Pengamatan

Tanah di sekeliling kayu umpan yang terserang rayap digali dan dibuang sehingga membentuk liang diameter 17 cm dengan kedalaman 13 cm. Sebuah pipa PVC berukuran diameter 17 cm tinggi 15 cm dan tebal 0.8 cm dimasukan secara vertical ke dalam masing-masing liang untuk membatasi tanah dan ruangan yang terbetuk ileh rongga pipa PVC. (gambar 2).

Sebuah kotak kayu umpan (solid  block)  yang telah dikeringkan pada suhu 105oC selama 24 jam ditempatkan pada stasiun pengamatan. Kotak kayu umpan tersebut dihubungkan satu sama lain dengan 4 lempeng papan kayu pinus berukuran 1.0 x 6.0 x 12.5 cm3 di bagian ujung sehingga merupakan kesatuan dengan jarak antar lempengan papan 0.2 cm. Selanjutnya di bagian pipa atas PVC ditutup kembali dengan tutup plastic dan ditimbun di tanah.

Pengukuran Wilayah Jelajah

Wilayah jelajah rayap dukur dengan mengamati pergerakan rayap bertanda di stasiun  pengamatan. Tahap kerja sebagai berikut :

 Penangkapan specimen rayap

Kotak kayu umpan yang terserang rayap dikumpulkan untuk kemudian dipisahkan dari rayap dan kotoran.

Penandaan

Seluruh specimen rayap tertangkap diberi tanda dengan menggunakan larutan nile biru (nile blue A). Prosedur penandaan specimen rayap adalah sebagai berikut :

  • Kertas filter (whatman No. 1;5:5 cm) diwarnai dengan larutan nile blue A pada konsentrasi 0.05 % dengan pelarut air sterill.
  • Selanjutnya kertas filter tersebut dihamparkan di dalam cawan Petri (diameter 5.5 cm ) yang diberi sedikit pasir.
    • Pada cawan Petri ditambahkan 0.75 ml aquadestilata
    • Setiap cawan Petri merupakan satu unit pewarnaan. Pada masing-masing unit pewarnaan ditempatkan 100 ekor rayap pekerja dan 10 ekor rayap prajurit. Unit pewranaan disimpan di ruang gelap dengan suhu 28+1oC;RH 85% selama tiga hal :

Pelepasan

Rayap yang telah ditandai di laboratorium dilepaskan kembali ke satu unit stasiun pengamatan semula.

Penangkapan kembali

Satu minggu setelah pelepasan specimen rayap bertanda, kotak kayu umpan dari masing-masing stasiun pengamatan dikumpulkan kembali. Rayap dari semua stasiun diamati untuk mencari rayap bertanda.

Pendugaan wilayah jelajah

Pendugaan jelajah (foraging territory) ditentukan berdasrkan luas daerah yang dibentuk oleh hubungan antar stasiun pengamatan dimana pada stasiun pengamatan tersebut dijumpai rayap bertanda.