Ditulis oleh Jim Clark pada 28-10-2007

Halaman ini membahas reaksi-reaksi dimana gugus -OH pada sebuah alkohol digantikan dengan sebuah halogen seperti klorin atau bromin. Disini juga dibahas sebuah uji sederhana untuk mengetahui keberadaan gugus -OH dengan menggunakan posfor(V) klorida.

Reaksi-reaksi yang melibatkan hidrogen halida

Persamaan reaksi umumnya dapat dituliskan sebagai berikut:

Reaksi dengan hidrogen klorida

Alkohol tersier bereaksi cukup cepat dengan asam hidroklorat pekat, tapi untuk alkohol primer atau sekunder, laju reaksi cukup lambat sehingga reaksi-reaksinya tidak terlalu penting.

Alkohol tersier bereaksi jika dikocok dengan asam hidroklorat pekat pada suhu kamar. Halogenalkana tersier (haloalkana atau alkil halida) terbentuk.

Penggantian gugus -OH dengan bromin

Untuk mengganti gugus -OH pada alkohol dengan bromin, pereaksi yang umumnya digunakan adalah campuran antara natrium atau kalium bromida dengan asam sulfat pekat (bukan asam hidrobromat). Campuran ini menghasilkan hidrogen bromida yang bereaksi dengan alkohol. Campuran dipanaskan untuk memisahkan bromoalkana melalui distilasi.

Penggantian gugus -OH dengan iodin

Pada penggantian ini alkohol direaksikan dengan sebuah campuran antara natrium atau kalium iodida dan asam posfat(V) pekat, H3PO4, dan iodoalkana dipisahkan dengan distilasi. Campuran iodida dan asam posfat(V) menghasilkna hidrogen iodida yang bereaksi dengan alkohol.

Asam posfat(V) lebih dipilih ketimbang asam sulfat pekat karena asam sulfat dapat mengoksidasi ion-ion menjadi iodin dan menghasilkan hidrogen iodida secara progresif.

Pengoksidasian seperti ini juga dialami oleh ion-ion bromida, sampai tingkatan tertentu, dalam pembuatan bromoalkana, hanya saja tidak sampai mempengaruhi reaksi utama yang terjadi. Meski demikian kita juga bisa menggunakan asam posfat(V) pada penggantian -OH dengan bromin.

Reaksi alkohol dengan fosfor halida

Reaksi dengan fosfor(III) klorida, PCl3

Alkohol bereaksi dengan fosfor(III) klorida cair (yang juga disebut fosfor triklorida) menghasilkan kloroalkana.

Reaksi dengan fosfor(V) klorida, PCl5

Fosfor(V) klorida padat (fosfor pentaklorida) bereaksi hebat dengan alkohol pada suhu kamar, menghasilkan awan-awan gas hidrogen klorida. Cara ini kurang baik digunakan dalam membuat kloroalkana, meskipun biasa digunakan sebagai reaksi uji untuk gugus -OH dalam kimia organik.

Untuk memastikan bahwa sebuah zat adalah alkohol, maka pertama-tama kita harus menghilangkan semua zat lain dalam larutan yang akan diuji yang juga bereaksi dengan fosfor(V) klorida. Sebagai contoh, asam-asam karboksilat (yang mengandung gugus -COOH) bereaksi dengan fosfor(V) klorida, begitu juga dengan air (H-OH).

Sebuah cairan netral yang tidak terkontaminasi air, yang jika ditambahkan fosfor(V) klorida membentuk awan-awan hidrogen klorida, berarti bahwa dalam cairan tersebut terdapat gugus alkohol.

Juga ada reaksi-reaksi sampingan melibatkan POCl3 yang bereaksi dengan alkohol.

Reaksi-reaksi lain yang melibatkan fosfor halida

Untuk reaksi yang melibatkan fosfor halida, alkohol biasanya dipanaskan dibawah refluks dengan campuran fosfor merah dengan bromin atau iodin, bukan fosfor(III) bromida atau iodida yang digunakan.

Fosfor pertama-tama bereaksi dengan bromin atau iodin menghasilkan fosfor(III) halida.

Selanjutnya fosfor halida bereaksi dengan alkohol menghasilkan halogenalkana yang sesuai yang bisa dipisahkan dengan distilasi.

Reaksi alkohol dengan sulfur diklorida oksida (tionil klorida)

Reaksi

Sulfur diklorida oksida (tionil klorida) memiliki rumus molekul SOCl2.

Biasanya, rumus molekul senyawa ini dituliskan seperti diatas, padahal menurut aturan penamaan moderen klorin harus didahulukan penulisannya dari oksigen (sesuai abjad).

Sulfur diklorida oksida bereaksi dengan alkohol pada suhu kamar menghasilkan sebuah kloroalkana. Sulfur dioksida dan hidrogen klorida dilepaskan. Kita perlu berhati-hati sebab kedua zat ini beracun.

Kegunaan reaksi

Kelebihan utama yang dimiliki reaksi ini dibanding penggunaan fosfor klorida adalah bahwa dua produk lain yang dihasilkan (sulfur dioksida dan HCl) adalah gas. Ini berarti bahwa kedua zat ini dengan sendirinya melepaskan diri dari campuran reaksi.