Surat di atas merupakan salah satu edaran yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti Kemdikbud) yang mewajibkan kepada mahasiswa S1, S2, S3, untuk mempublikasikan karya ilmiahnya sebagai salah satu syarat kelulusan. Ederan ini mulai diberlakukan Agustus tahun ini.

Suarat ini menunjukan kegalauan “DIKTI” sebagai penyelenggarakan pendidikan di perguruan tinggi. Kalau kita simak isinya tertulis bahwa latar belakang dari surat edaran tersebut adalah karena jurnal ilmiah tertinggal dari Malaysia secara jumlah dan itu dijadikan syarat kelulusan bagi mahasiswa S1, S2 dan S3.

Di salah satu sisi kebijakan ini memang baik untuk memacu terbitnya jurnal ilmiah mengingat jurnal ilmiah kita memeng belum banyak namun disisi lain kebijakan ini seolah isapan jempol belaka. Saya masih teringat ketika sedang menyelesaikan tugas akhir, menulis bukan hal yang mudah apalagi jika minim fasilitas dan pembimbingan. Menulis merupakan keterampilan yang kemampuannya akan sangat perlu dilatih secara bertahap, tidak bisa dibentuk sehari dua hari. jika melihat kebijakan ini saya merasa dikti seolah-olah menempatkan mahasiswa  sama dengan anak SMA yang bergelut dengan nilai minimal kelulusan UAN.

Kejadian ini seolah diputuskan sebagai kesan emosional saja, dengan argumen bahwa jurnal kita kalah apalagi dengan negara tetangga maka kita dipacu untuk ramai-ramai buat jurnal ilmiah tanpa didukung oleh perencanaan dan tujuan yang terukur. Akan lebih baik apabila keputusan di atas didukung oleh kebijakan yang mendukung seperti diperluasnya akses jurnal ilmiah internasional, dukungan dana penelitan dan juga dikti mempermudah penerbitan jurnal ilmiah.

Semoga kegalauan dikti segera berakhir !!

Salam SuksesBelajar