Hari-hari ini merupakan waktu akhir bagi para siswa baik SD, SMP maupun SMA menjalani ulangan kenaikan kelas (UKK). Tes yang menguji kompetensi dari apa yang telah dipelajari selama setahun di grade / level yang digunakan sebagai prasyarat untuk naik ke grade selanjutnya. Ada beberapa bentuk tes yang digunakan untuk mengukur kompetensi dan apakah siswa tersebut sudah memahami pelajaran yang telah disampaikan oleh guru melalui soal dengan format pilihan ganda. Bentuk tes ini paling sering digunakan untuk mengukur kemampuan siswa karena dianggap lebih praktis, mudah dan efisien. Baik guru maupun siswa lebih menyukai bentuk tes pilihan ganda, karena memiliki “kelebihan” dibandingkan dengan bentuk lain seperti uraian / essay. Bagi guru / pendidik, dengan memberikan soal bentuk pilihan ganda, memudahkan dalam mengkoreksi karena pastinya lebih cepat dan efisien. Selain itu, para pendidik ini juga tidak perlu kesulitan untuk memahami jawaban siswa terkadang tidak sesuai dengan inti pertanyaannya. Belum lagi jika tulisan dari siswa tersebut agak sulit untuk dibaca, yang tentu membuat waktu untuk mengkoreksi makin panjang / lama.

Sedangkan bagi siswa, soal pilihan ganda lebih “diminati” bila dibandingkan soal uraian atau bahkan soal-soal tentang analisa kasus. Berdasarkan pengamatan penulis sebagai guru, siswa menganggap bentuk soal pilihan ganda lebih memudahkan mereka untuk menjawab. Alasan lainnya ialah lebih efisien dan jawaban dapat diprediksi, sehingga jika tidak tahu jawabannya, mereka dapat menebak-nebak dari pilihan yang sudah ada dan jika “beruntung” maka jawaban dapat benar / sesuai.

Hambat Kreativitas

Lalu yang menjadi pertanyaan ialah, apakah bentuk tes pilihan ganda tidak tepat untuk menguji tes atau kompetensi yang sudah dipelajari siswa ? Jika pertanyaan ini diberikan kepada para pendidik, maka jawaban yang diberikan akan beragam. Di satu sisi akan ada pihak yang setuju karena praktis dan lebih efisien. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang menyatakan bahwa dengan bentuk pilihan ganda, sebenarnya sedang menghambat kreativitas dan analisa berpikir siswa. Sebagai contoh : dalam soal pilihan ganda, alur berpikir siswa sudah dikotakkan oleh pilihan A, B, C, D dan E. Hal ini tentu berbeda jika soal uraian atau analisa kasus, dimana siswa diminta untuk mengeksplorasi jawaban dan bukan tidak mungkin nantinya mereka justru menemukan teori baru dari hasil pemikiran mereka. Hal yang tentu tidak didapat jika bentuk soal adalah pilihan ganda.

Selain itu, dengan memberikan soal dalam bentuk analisa kasus dan bukan pilihan ganda, maka siswa akan diajak untuk berpikir “out of the box” atau diluar kebiasaan yang ada. Inilah yang menjadi ciri khas dari seseorang yang dikatakan kreatif dan inovatif yaitu mampu menciptakan suatu hal baru karena pemikirannya tidak terkotak pada pilihan yang sudah ada. Soal uraian dan analisa kasus juga akan membuat siswa berpikir 2-3 kali untuk menjawab. Selain harus memahami dulu pertanyaannya, jawaban yang ditulis juga harus terkait dengan soal yang ditanyakan. Berbeda dengan bentuk pilihan ganda, jika siswa tidak tahu atau lupa, mereka akan langsung menerapkan “rumus hitung kancing” alias menebak salah satu jawaban yang ada dengan harapan keberuntungan akan jawabannya bisa benar.

Ujian Nasional maupun Ujian Sekolah bagi siswa untuk menentukan kelulusannya juga diukur oleh bentuk soal pilihan ganda. Padahal beberapa mata pelajaran seharusnya untuk kelulusan tidak hanya dengan soal pilihan ganda, contohnya : pelajaran olah raga, fisika, dan kimia. Dalam beberapa pelajaran tersebut memang ada Ujian Praktek, akan tetapi seringkali bobot penilaiannya lebih besar melalui Ujian Nasional tertulis yang seringkali menggunakan soal-soal pilihan ganda. Tidak hanya Ujian Nasional bagi siswa, bahkan untuk tes pegawai negeri sipil (PNS) juga menggunakan soal-soal pilihan ganda untuk menguji para calon yang hendak menjadi “abdi negara”.

Dari tulisan ini, penulis tidak sepenuhnya setuju jika pilihan ganda langsung dihapuskan dan tidak lagi digunakan untuk mengukur kompetensi seseorang. Seharusnya bentuk soal bisa dikombinasi dan juga disesuaikan dengan pelajaran atau materi yang diujikan. Jika memang suatu pelajaran atau materi memang harus menggunakan pilihan ganda, maka baru digunakan, akan tetapi jika tidak maka seharusnya materi tersebut tidak usah dipaksakan. Karena biar bagaimanapun dengan soal-soal jawaban terbuka (bukan pilihan ganda), maka siswa akan berpikir dan menganalisis untuk dapat menyelesaikan setiap soal-soalnya. Disinilah kreativitas seseorang nantinya juga akan berkembang, karena mereka dilatih untuk berpikir . Maka nantinya bangsa ini akan mempunyai suatu generasi muda kreatif dan inovatif yang akan membuat bangsa ini juga makin maju.