Haploid dikenal sebagai istilah yang digunakan ketika sel, jaringan, organ dan atau organisme tanaman memiliki jumlah kromosom yang sama dengan sel gametnya. Apabila sel somatik adalah 2n, maka sel gamet bisa kita sebut sebagai n. Bicara tentang haploid tentunya kita harus memahami terlebih dahulu hubungan antara penggunaan istilah ploidi dengan jumlah set kromosom. Ploidi menunjukan banyaknya genum dasar yang dimiliki oleh suatu organisme. Dikenal ada beberapa variasi jumlah kromosom yaitu euploidi dan aneuploidi.

Euploidi terjadi apabila setiap inti sel somatik memiliki jumlah kromosom yang jumlahnya kelipatan dari seluruh genom. Set kromosom biasanya dilambangkan dengan x. Satu set kromosom disebut sebagai x (monoploid), dua set kromosom 2x (diploid), 3 set kromosom 3x (triploid) dan seterusnya. Haploid tidak berhubungan langsung dengan dengan jumlah x kromosom sehingga n bisa saja sejumlah x, 2x, 3x dan seterusnya bergantung pada organisme yang kita amati. Pada tanaman budidaya sebagai contoh pada tanaman bawang merah, pada sel somatik diketahui 2n=2x=16 (diploid), yang artinya terdapat 16 kromosom individu. Pada sel gamet terdapat 8 kromosom atau  n=x=8 (haploid)

Aneuploidi dapat terjadi apabila jumlah kromosom pada inti selnya bukan merupakan kelipatan dari jumlah kromosom haploidnya. Perbedaan jumlah kromosom tersebut terjadi karena adanya penambahan atau kehilangan satu atau beberapa kromosomnya pada genomnya. Lebih rinci hal ini disebabkan oleh ketidaknormalan segregasi kromosom pada proses meiosis.

Dari manakah asal tanaman haploid ?

Tanaman haploid bisa terjadi melalui proses alami dan buatan (diinduksi). Pada proses alami tanaman haploid dapat terjadi karena

  1. Ginogenesis yaitu perkembangan embrio haploid dari inti sel gamet betina/telur yang tidak dibuahi (Partenogenesis) atau dibuahi tidak sempurna dan dari inti sinergid dan antipodal.
  2. Androgenesis yaitu perkembangan embrio haploid dari inti sel gamet jantan.
  3. Eliminasi kromosom dalam persilangan antar spesies dan
  4. Poliembrioni yaitu terbentuknya lebih dari satu embrio dalam satu biji, seperti twin seedling.

Proses induksi yang memicu terbentuknya tanaman haploid dapat terjadi karena :

  1. Penyerbukan yang ditunda, pseudogami yang terjadi ketika polen yang dihasilkan tanaman abortif dan persilangan antar spesies yang jauh kekerabatannya.
  2. Perlakuan fisik (melakukan radiasi pada polen) dan kimiawi.
  3. Proses in vitro yang menggunakan antera, mikrospora, atau ovul.

Untuk pertama kali produksi tanaman haploid secara alami dilaporkan oleh A.D Bargner pada tahun 1921 pada tanaman Datura stamonium selanjutnya pada tanaman Nicotiana tabacum oleh Causin dan Mann 1924; Triticum aestivum (Gains dan Aase 1926). Peluang kejadian tanaman haploid jarang ditemukan dalam kondisi alami, sekitar 0,001-0,01 % apabila kita ingin menggunakannya dalam program pemuliaan tanaman.

Pemuliaan tanaman haploid telah berhasil dilakukan oleh Chese pada tahun 1952 dengan memproduksi jagung dengan cara seleksi haploid partenogenik dan double kromosom. Kemudian pada tahun 1964 Guha dan Maheswari telah berhasil memproduksi tanaman haploid melalui spesies Datura innoxia melalui kultur anter secara in vitro. Bahkan Kasha dan Kao telah berhasil melakukan persilangan jauh (wide crossing) pada tanaman barley. Kultivar haploid ganda untuk pertama kalinya berhasil di rilis 58 tahun setelah ditemukannya tanaman haploid yaitu Mingo (sejenis barley).

Datura stanmonium
Datura stanmonium
220px-Illustration_Hordeum_vulgare0B
Barley
nicotiana tabacum
Nicotiana tabacum
triticum aesticum
Triticum aesticum

Sumber gambar : http://www.wikipedia.com