Etilen atau dikenal dengan naman ripening hormon terlibat dalam regulasi proses fisiologi khususnya proses perkembangan dari perkecambahan sampai senesen pada organ-organ dan stress terhadap lingkungan. Etilen merupakan hidrokarbon sederhana berupa gas, telah dikenal sejak 50 tahun yang lnamun biosintesisnya baru diketahui sekitar tahun 1980. Gas etilen mudah diisolasi dan dikuantifikasi dari bahan tanaman. Etilen dihasilkan pada jaringan dan berdifusi pada fase gas secara interseluler keluar jaringan. Konsentrasi etilen pada fase gas yang terlarut dalam air (suhu 25oC) sebesar 4,4 X 10-9 M. Karena dalam fase gas inilah etilen mudah hilang dari jaringan dan memiliki pengaruh terhadap organ lainnya, sifat ini dimanfaatkan selama proses penyimpanan sayuran dan buah-buahan (ethylene trapping system). KmnO4 dapat digunakan untuk menangkap gas etilen dan mengurangi konsentrasinya pada penyimpanan buah apel hingga 10 µL/L. Terdapat beberapa analog dari gas etilen diantaranya propylene, CO, asetilen, dan 1 butene.

Etilen mampu dihasilkan oleh bakteri, cendawan dan organ tanaman. Biosintesis etilen pada tanaman lebih sederhana bila dibandingkan dengan zat pengatur tumbuh lainnya. Metionin yang merupakan asam amino menjadi prekursor pada pembentukan etilen. Methionine melewati tahapan Yang’s cycle menjadi dengan melibatkan 3 enzim kunci yaitu SAM (S-adenosylmethionine) sintase, ACC (1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid) sintase, dan ACC oksidase. Dalam biosintesis dikenal senyawa penghambat yaitu Aminoethoxy-vinil-glysine (AVG) dan aminooxyacetic acid (AOA) yang memghambat konversi Adomet menjadi ACC.

Dalam biosintesis etilen kandungan metionin dalam jaringan tanaman sangatlah terbatas sehingga untuk mempertahankan laju produksinya sulfur yang berada pada metionin harus di recycle kembali.

Efek

  1. Pemecahan dormansi
  2. Differensiasi dan pertumbuhan tajuk
  3. Differensiasi dan pertumbuhan akar
  4. Perakaran adventif
  5. Absisi tanaman (mempercepat senesen)
  6. Induksi dan senesen pada bunga
  7. Ekspresi sex
  8. Penyerbukan
  9. Perkembangan dan pemasakan buah
  10. Senesen daun

Penghambat kerja etilen :

  1. CO2 Walaupun mekanisme kerjanya belum diketahui namun patut diduga CO2 sebagai competitive inhibitor pada etylene binding site, mengambat respirasi, memiliki dampak terhadap pH sel, fotosintesis dan kinerja enzim tertentu. Teknologi ini telah banyak digunakan khususnya sebagai Controlled atmosphere Storage sehingga proses pemasakan buah dapat ditunda sementara.
  2. Ag+. Penggunaan Ag+ ini telah banyak digunakan oleh petani bunga untuk memperpanjang vase life bunga potong dan dikenal dengan penghamb dalam setiap fase pertumbuhan dan perkembanbiakan tanaman. Ag+ pun menganggu fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman,
  3. NBD (2,5 Norbonadiene). Bahan ini berkompetisi dengan etilen pada binding site yang sama dengan membentuk olefine-reseptor complex yang memilki kinerja seperti etilen sehingga dapat memblok etilen yang akan terikat. Penggunaan NBD ini lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan Ag+ karena sifatnya yang volatil (mudah menguap) sehingga bisa diaplikasikan ketika penggunaan Ag+ tidak memungkinkan untuk dilakukan. Kerugian penggunaan bahan ini adalah boros karena kita menggunakan konsentrasi yang sangat tinggi (mencapai 2000 µl/l ) dan kesulitan dalam menjaga agar konsentrasi bahan yang kita tambahkan benar-benar telah sesuai dengan konsentrasi yang kita kehendaki.
  4. DACP (Diazo-siklo-pentadiene) merupakan hormon yang di design sebagai penghambat kinerja ethylene binding site dengan sifat yang sama seperti NBD namun aktif menghambat kerja etilen pada konsentrasi rendah, irrevesibel (reaksi nonbalik) apabila diberikan cahaya selama perlakuan (foto afinity label). Penelitian terkini menunjukan bahwa DACP tidak toksik.