Poliamin adalah senyawa hidrokarbon dengan tambahan gugus amin (-NH2) meliputi senyawa putresin, spermidin, dan spermin.

Prekursor pada biosintesis poliamin adalah senyawa arginin yang nantinya akan menjadi putresin dan metionin yang produknya nanti spermidin dan spermin yang terkait dengan biosintesis dari etilen. Dalam biosintesis spermin dan spermidin melalui jalur metionin penambahan gugus amonopropil berasal dari senyawa S-adenosil metionin (SAM), perbedaanya spermin hanya memiliki satu gugus amonopropil sedangkan spermidin memiliki dua buah gugus amonopropil. Oleh karena itu SAM dikenal sebagai prekursor intermediet pada biosintesis etilen.

Apakah ada hubungan antara kerja poliamin dan etilen? Jawabannya adalah ada, namun memiliki aktifitas yang saling berlawanan khususnya dalam proses senesen pada tanaman. Poliamin dikenal sebagai penghambat senesen sedangkan etilen sebagai penginduksi senesen.

Pada kondisi dan genotipe tertentu konsentrasi poliamin dalam bentuk konjugat lebih besar bila dibandingkan dengan senyawa bebasnya. Pada pH seluler berbentuk ion dan berasosiasi dengan makromolekul ionik bermuatan negatif seperti DNA, RNA. Fosfolipid, dan protein tertentu sehingga secara tidak langsung poliamin berpengaruh terhadap sintesis makromolekul, permeabilitas membran, miosis dan mitosis.

Fungsi poliamin :

  1. Menjaga stabilitas dan struktur membran. Penambahan poliamin pada tanaman dapat menstabilkan protoplas (sel tanpa dinding/sel telanjang) pada tanaman oat terhadap lisis, mengurangi bocornya betasianin dari jaringan akar yang terluka dan mampu mempertahankan struktur tilakoid pada daun barley.
  2. Poliamin yang berinteraksi dengan DNA membentuk kompleks spm-DNA mampu menstabilkan DNA terhadap aktivitas denaturasi thermal secara in vitro dan ekstraksi DNA.
  3. Poliamin mampu mengontrol struktur protein dan aktifitas enzim seperti mengendalikan posforilasi protein pada nukleus.
  4. Pada beberapa penelitian telah dilaporkan bahwa biosintesis dan konsentrasi poliamin pada beberapa banyak tipe sel menyebabkan sintesis PA in vitro meningkat.
  5. Sebagai buffer (penyangga) pH sel. Pada umumnya membran sel bermuatan negatif (-) maka dengan adanya poliamin yang bersifat polikation mampu menjaga pH sel. Karena poliamin merupakan molekul yang mudah larut dalam pH seluler maka akan sulit menentukan lokasi keberadaanya sehingga secara umum lokasi dan enzim yang terlibat dalam biosintesis poliamin belum banyak diketahui.