Brasinosteroid (BR) adalah hormon endogen berupa steroid yang dapat memacu pertumbuhan dan dapat ditemukan pada biji, serbuk sari, dan jaringan vegetatif, oleh karena itu BR diduga disintesis pada berbagai jenis organ tanaman. Pada tahun 1979 BR diisolasi untuk pertama kalinya pada tanaman Brassica napus. Sama halnya dengan asam jasmonat, BR berfungsi pada konsetrasi yang sangat kecil yaitu mencapai nanomolar untuk dapat memengaruhi proses fisiologis pada tanaman. BR juga berinteraksi dengan hormon tanaman yang lain contohnya auksin serta faktor lingkungan untuk meregulasi secara keseluruhan bentuk dan fungsi tanaman. Fungsinya yang penting bagi tumbuhan adalah untuk pemanjangan organ, diferensiasi jaringan pembuluh, kesuburan, perkembangan daun, rhizogenesis, senesen, absisi pada daun dan respon terhadap cahaya.

Salah satu contoh brasinosteroid adalah kastasteron yang ada pada tunas kacang polong dan berfungsi dalam proses pemanjangan tunas. Berdasarkan pengaruh utamanya terdapat hubungan yang erat antara IAA dan BR yaitu kerja antagonis saat BR menjadi inhibitor yang kuat untuk pertumbuhan akar, bahkan pada beberapa kasus BR memiliki persamaan seperti auksin, giberelin dan sitokinin. BR menginduksi etilen melalui stimulasi aktifitas ACC syntase, namun aktivitasnya bisa dihambat oleh AOA, Co2+, fusicocin dan inhibitor transport pada auksin (2,3,5-triiodobenzoic acid dan 2-(p-chlorophenoxy)-2-methylpropionic acid.

Sakurai dan Fujioka pada tahun 1997 mempelajari biosintesis brasinosteroid menggunakan kultur tapak dara (Cataranthus roseus) dan terdapat dua jalur yaitu early C6 oxidation dan late C6 oksidation. BR alami merupakan turunan hasil hidrosilasi dari 5 α-cholestan dengan variasi struktur pada pola subtitusi ring A, B dan C17 yang berpengaruh terhadap aktivitas senyawanya. Metabolisme BR melibatkan berbagai macam reaksi yang meliputi dehidrogenasi, dimetilasi, epimerisasi, esterifikasi, glikosilasi, hidroksilasi, side chain cleavage dan sulfonasi. Efek fisiologis hormon ini adalah bekerja sinergis dengan auksin dan kalsium sehingga mendorong produksi etilen. Induksi etilen oleh BR dapat dihambat dengan kehadiran cahaya. Aplikasi hormon ini pada akar tanaman hidroponik menunjukan peningkatan ACC dan peningkatan petiole. Walaupun efek dorongan terlihat pada berbagai kondisi cahaya namun pada kondisi gelap total aktivitas tidak terganggu.

Struktur BR sangat mirip dengan ecdysteroid (molting hormone pada serangga dan artropoda) yang mampu menginduksi perubahan energisasi plasmalema, serapan asimilasi, differensiasi xyleum, mendorong resistensi terhadap penyakit, herbisida dan cekaman garam. Selain itu dapat pula menorong perkecambahan sehingga menjadi kandidat yang lebih aman untuk mengendalikan hama bila dibandingkan dengan pestisida kimiawi.

Induksi pertumbuhan oleh BR tergantung pada sintesis asam nukleat dan protein. Pada tanaman kacang-kacangan BR mampu meningkatkan aktivitas DNA dan RNA polimerase dalam sintesis DNA, RNA, dan protein, namun mekanisme molekuler induksi pemanjangan oleh BR berbeda dengan auksin. Bila kita melihat kerjasama sinergis antara BR dan IAA adalah menginduksi ACC syntase. Dengan melihat full length cDNA (pAIM-1) merupakan salah satu gen yang mengkode ACC syntase yang diinduksi oleh IAA dapat juga terinduksi oleh BR.

Pengaplikasian BR secara eksogen pada tanaman tercekam salinitas telah diketahui dapat menjaga pertumbuhan dan hasil pada beberapa tanaman pertanian. Selain itu penambahan BR juga mampu mengurangi dampak akibat stress tanaman, menjaga keberadaan pigmen pada daun, dan meningkatkan aktifitas nitrate reductase. Berkurangnya kadar BR menyebabkan meningkatnya kerusakan pada nukleus dan kloroplas. Pada proses perkecambahan, ketika benih direndam menggunakan larutan campuran garam dan BR dampak terhadap penghambatan perkecambahan dapat dikurangi. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya asam nukleat dan protein yang terlarut.