Sebagai orang tua kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Segala macam usaha kita tempuh untuk mencapai tujuan tersebut, bahkan sejak sang anak di dalam kandungan hingga tumbuh menjadi manusia dewasa. Bukankah salah satu amalan yang tak akan terputus hingga di alam kubur adalah anak shaleh yang mendoakan orang tuanya? Sungguh suatu kenikmatan yang luar biasa apabila kita dianugerahi anak keturunan yang shaleh dan shalehah. Seperti apakah anak yang shaleh silahkan baca Ayah Juara : Anak Shaleh, seperti apa?

Namun pada kenyataanya ada saja anak dengan karakter nakal (kebalikan dari anak shaleh) yang secara garis besar memiliki sifat dan perangai seperti  di bawah ini :

1. Mengatakan “ah” kepada orang tua dan mengeraskan suara di hadapan mereka ketika berselisih, dan tidak memberikan nafkah kepada orang tua bila mereka membutuhkan.

2. Tidak melayani mereka dan berpaling darinya. Lebih durhaka lagi bila menyuruh orang tua melayani dirinya dan mengumpat kedua orang tuanya di depan orang banyak serta menyebut- nyebut kekurangannya.

3. Menajamkan tatapan mata kepada kedua orang tua ketika marah atau kesal kepada mereka berdua karena suatu hal.

4. Membuat kedua orang tua bersedih dengan melakukan sesuatu hal, meskipun sang anak berhak untuk melakukannya. Tapi ingat, hak kedua orang tua atas diri si anak lebih besar daripada hak si anak.

5. Malu mengakui kedua orang tuanya di hadapan orang banyak karena keadaan kedua orang tuanya yang miskin, berpenampilan kampungan, tidak berilmu, cacat, atau alasan lainnya.

6. Tidak mau berdiri untuk menghormati orang tua dan mencium tangannya.

7. Duduk mendahului orang tuanya dan berbicara tanpa meminta izin saat memimpin majelis di mana orang tuanya hadir di majelis itu. Ini sikap sombong dan takabur yang membuat orang tuaterlecehkan dan marah.

Bagaimana seorang anak menjadi nakal?

Setiap anak dilahirkan dari mulai generasi awal hingga nanti generasi akhir dilahirkan dalam keadaan suci, orang tualah yang menentukan apakah anak tersebut termasuk ke dalam anak shaleh atau tidak, sebagaimana Nabi SAW bersabda: setiap anak dilahiran dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya? (HR Bukhari Muslim).

Dalam ilmu genetika tanaman yang menentukan karakter fenotipe (karakter teramati seperti tanaman tinggi, buah manis dll) adalah interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan. Sebagai contoh bibit pohon mangga yang diperoleh dari induk pohon yang manis belum tentu menghasilkan mangga yang manis, jika pohon mangga induk tersebut asalnya dari lingkungan yang kering dan tidak banyak hujan, kemudian bibitnya kita tanam di daerah yang lembab dan curah hujan yang tinggi.  Begitu pula seorang anak yang dilahirkan dari keturunan keluarga yang baik-baik namun ditempatkan pada lingkungan yang kesehariannya memperlihatkan akhlak yang tidak baik. Seiring dengan waktu anak yang secara keturunan baik bisa jadi berubah menjadi sebaliknya.

Yang tidak disadari oleh banyak orang tua adalah kenakalan anaknya berasal dari kebandelan orang tua. Apakah orang tua ada yang bandel ? tentu saja ada! sebagai contoh anak yang suka berbicara kasar kemungkinan besar tinggal di keluarga yang keras, tak mampu menahan amarah dan suka berkata kasar. Kebiasaan berbohong pada anak tanpa disadari tertular dari orang tua yang kerap sekali berbohong, ingkar janji sehingga membuatnya tak dapat dipercaya. Hal kecil yaitu kebiasaan membuang sampah sembarangan bisa muncul sebagai karakter anak karena sering kali melihat orang tuanya membuang sampah sembarangan. Itulah yang dimaksud dengan kebandelan orang tua, yang tanpa disadari ditiru oleh anak.

Semoga selaku orang tua kita mampu menjaga setiap niat, ucapan maupun perbuatan kita sehingga anak-anak kita bisa  tumbuh di lingkungan dengan akhlak dan kepribadian yang baik. Tentunya Rasulullah SAW lah sauri tauladan yang baik bagi kita semua.