Setiap berhadapan dengan teman atau keluarga kita, khususnya yang akan melangsungkan akad pernikahan kita sering mendoakan si calon pengantin tersebut dengan doa keberkahan, kelancaran acara serta harapan agar dicapainya keluarga sakinah, mawadah dan rahmah (SMR). Sebenarnya apakah sakinah mawadah dan rahmah tersebut? Sebagaimana diketahui bersama bahwa kata sakinah mawadah dan warahmah diambil dari kitab suci al-qur’an :

“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram (sakinah) kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar-Rum 21).

Kemudian kita bertanya sejenak dalam hati, seperti apakah sakinah, mawadah dan rahmah itu ?

Sebagai ilustrasi, ketika jam menunjukan pukul 16.00 WIB dan dan jam kantor akan berakhir kita merasa ingin cepat-cepat pulang. Kita rindu dengan istri kita di rumah yang juga sudah menunggu di rumah. Rasanya perasaan ini jadi tentram kalau sudah tiba di rumah, sehingga apapun aktivitas kita kerinduan akan rumah dan suasananya sangat besar. Itulah perasaan sakinah. Begitu pun istri kita di rumah, saat jam menunjukan pukul 17.00 istri kita sudah tidak sabar menunggu kedatangan kepulangan kita dari kantor, menyiapkan makanan terlezat untuk kita santap, berdandan secantik mungkin sebagai amalan untuk menyambut kita, maka sang istri memiliki perasaan sakinah. Bagi keluarga sakinah semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Mawadah biasanya muncul pada pasangan suami istri yang baru menikah atau pasangan pengantin baru dimana sisi fisik sangat kuat mewarnai cara pandang dan perasaan keduanya. Jika kita bertanya kepada pasangan yang baru menikah, mengapa lelaki menikahi perempuan yang sekarang menjadi istrinya ? tentunya ia akan menjawab bahwa pasangan peremmpuannya saat ini sungguh cantik menarik hati, tinggi, dan lain-lain. Alasan yang muncul berhubungan dengan fisik semata. Begitu pula dengan sang istri, ia mungkin akan menjawab dengan alasan yang sama yakni suaminya saat ini adalah suami yang paling ganteng, gagah, berwibawa, tinggi, manis parasnya, atau bagus model rambutnya. Bagi masing-masing pasangan, pasangannyalah yang paling unggul secara fisik dibanding dengan laki-laki atau perempuan lainnya, dan itu menjadi salah satu alasan mengapa pernikahan tersebut terjadi. Inilah mawadah. Mawadah ini mewakili sebuah perasaan cinta membara, yang menggebu-gebu berupa kasih sayang pada lawan jenisnya.

Biasanya rahmat muncul pada pasangan yang sudah lama berkeluarga dimana tautan dan perasaan hati sudah sangat kuat diantara mereka, saling membutuhkan satu sama lain, saling menerima atas kekurangan/kelebihan masing-masing, dan saling memahami keinginan/pikiran pasangannya. Dorongan fisik seperti kecantikan dan ketampanan sudah tidak lagi dominan, karena seiring dengan berjalannya waktu terjadi kemunduran kualitas fisik seperti kulit yang mulai keriput, badan yang mulai renta/lemah dan menurunnya kemampuan dalam hal ingatan, pendengaran maupun pengelihatan. Biasanya perasaan ini dapat kita temukan pada pasangan yang sudah lama mengarungi samudera pernikahan. Sebagai contoh seorang kakek berusia 80 tahunan yang hidup harmonis, saling menyayangi, saling menghormati, melindungi dan melayani bersama nenek yang usianya mungkin tak jauh berbeda. Pernikahan mereka bukanlah pernikahan seumur jagung, canda tawa suka dan duka telah dilalui bersama, namun mereka tetap tegar dan kokoh menjalani pernikahan hingga ajal menjemput. Inilah perasaan rahmah.

Kelauarga sakinah, mawadah dan rahmah adalah keluarga idaman bagi setiap keluarga muslim, termasuk saya. Meri kita berusaha dengan sekuat tenaga mewujudkannya. Dan semoga Allah SWT senantiasa membimbing rumah tangga kita selalu dalam jalan Nya hingga menggapai keridhaanNya.

Wallahualam bishawab

Salam SuksesBelajar

BP Pajajaran 30/10/2014 14.09 WIB