Saya selalu takjub ketika melihat air hujan mulai turun dari langit. Waktu kecil kebiasaan kami saat turun hujan adalah melihat derasnya hujan dari jendela. Saya berfikir dari mana air dengan jumlah sebanyak itu bisa turun dari langit?

Pertanyaan di atas dapat saya jawab setelah saya menginjak bangku sekolah dasar. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  saya mempelajari  melalui konsep yang cukup sederhana yaitu air hujan itu berasal dari air laut yang menguap dan membentuk awan kemudian dengan bantuan angin berjalan menuju daratan dan turunlah hujan. Proses tersebut terjadi tidak sekali namun berulang-ulang disebut sebagai siklus air.

watercyclesummary
Siklus air Sumber : http://water.usgs.gov/edu/watercycle.html

Seiring dengan bertambahnya ilmu yang diperoleh, konsep  siklus air pun berkembang, menjadi lebih luas maknanya. Seperti kita ketahui bersama bahwa evaporasi/ transpirasi yang terjadi merupakan kunci dari siklus air hujan. Tidak hanya air yang ada di laut, air yang berada di daratan, di sungai, di tanaman juga mengalami penguapan dan bergerak ke angkasa (atmosfer) untuk kemudian menjadi awan. Pada keadaan jenuh dengan uap air awan itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan (pada daerah tropis), dan salju, es (pada daerah kutub dan sebtropis).

Tidak cukup sampai di sana, air yang telah sampai ke permukaan bumi mengalami infiltrasi / perkolasi ke dalam tanah. Air kemudian bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah, pori-pori tanah, dan batuan menuju muka air tanah. Pergerakan air ini disebabkan oleh aksi kapiler sehingga air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah atau naik ke permukaan. Air bergerak di atas permukaan tanah melalui sungai dan danau. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut kembali. Siklus ini pun berjalan secara terus menerus hingga disebut sebagai siklus air/ hidrologi.

Itulah pemahaman yang dapat kita fahami saat kita belajar di bangku sekolah. Sejenak mari kita perhatikan ayat Al-Qur’an dalam QS. 25:48 :

25_48

“Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (QS. 25:48)

Subhanallah, wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW menjelaskan bagaimana siklus air hujan tersebut berjalan sesuai dengan hukum alam/sunnahnya. Sungguh Maha Kuasa, Allah SWT dengan kehendak-Nya menurunkan hujan dari langit dan dengan air hujan tersebut dihidupkanlah segala macam tumbuhan yang bisa kita nikmati sebagai karunia-Nya.

 30_24

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.” (QS. 30:24)

23_18

“Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu kami jadikan air itu menetap di bumi, dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS.23:18)

Pada ayat diatas disebutkan bahwa Allah SWT telah menetapkan ukuran tertentu dari air hujan yang diturunkan dari langit. Kita mengenal adanya hujan gerimis, hujan sedang bahkan hujan deras yang biasanya disertai dengan angin dan kilat yang menyambar. Bila melihat wilayah Indonesia pun kita akan melihat perbedaan curah hujan umumnya berkisar antara 100-300 mm2 per hari bergantung pada daerah tempat turunnya hujan.

Air yang menetap di bumi/daratan adalah air bawah  dan atas permukaan. Air di atas permukaan dapat kita jumpai pada danau atau sungai. Air bawah permukaan bisa kita ketahui saat memanfaatkan sumur atau pompa air. Kehadiran siklus air adalah nikmat yang wajib kita syukuri yakni dengan cara mempertahankan daearah-daerah tetap hijau dan pekarangan tanah sehingga resapan air air tidak terhambat. Selain itu dianjurkan untuk membuat lubang resapan biopori (lihat tulisan : Teknologi alternatif : Lubang Biopori) , sehingga dapat meningkatkan kemampuan serapan air oleh tanah dan mengurangi genangan air. Jika kita tidak menjaga siklus air ini dengan baik maka kemungkinan terburuk adalah terganggunya siklus air sehingga jumlah air yang dapat tertampung di daratan menjadi semakin berkurang. Apabila musim kemarau tiba, bersiap-siaplah untuk kekurangan air.

Beberapa abad yang lalu saat ayat ini turun, masyarakat belum dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup sehingga belum mampu menjelaskan ayat tersebut secara ilmiah. Berbeda dengan kita saat ini, pengetahuan sudah sampai pada tahap bisa digunakan sebagai alat untuk membantu mempelajari ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah SWT. Semoga bertambah keimanan kita🙂.