Musim hujan adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap orang. Setelah bergelut dengan cuaca panas dan debu selama musim kemarau, turunnya air hujan akan mendatangkan suasana lebih sejuk dan bersih. Air hujan yang turun menyapu debu yang ada di permukaan daun, atap rumah, dan jalanan. Turunnya hujan mengisi sumur-sumur, sungai dan danau yang dangkal atau kering selama musim kemarau. Selain itu tanah yang tandus dan gersang menjadi subur sehingga ditumbuhi tanaman hijau.

Dari berbagai sumber air yang telah terisi penuh dengan kehadiran air hujan maka lahirlah berbagai teknis pengairan. Betapa pentingnya air untuk pertumbuhan tanaman manusia berusaha mengembangkan teknologi agar tanaman selalu mendapatkan air. Tanaman yang paling banyak memerlukan air adalah tanaman padi sawah, apalagi beras adalah makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Berdasarkan sistem pengairannya pengairan sawah dibedakan menjadi tiga yaitu : sawah berpengairan teknis (mendapatkan air sepanjang tahun), sawah berpengairan setengah teknis (kekurangan air saat musim kemarau) dan sawah tadah hujan (tergantung sepenuhnya pada hujan).

Tentunya bagi petani yang memiliki ladang, pengairan dengan hujan akan dirasakan berbeda dengan apabila kita melakukan penyiraman secara manual. Saya memiliki sebuah ladang penelitian, saat musim kemarau sebulan yang lalu harus melakukan penyiraman secara manual. Hasilnya berbeda dengan penyiraman menggunakan air huja. Air yang kita siramkan pada pagi hari seberapa banyak pun akan cepat teruapkan oleh panasnya sinar matahari saat siang datang dan menjelang sore. Namun apabila hujan datang, seberapa panas pun udara saat itu kandungan air pada tanah cenderung lebih lambat mengalami penguapan.

Di dalam al-Qur’an manfaat hujan Allah sampaikan pada surat Yunus : 24 dan An- Nahl 10-11;

yunus 24Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya Karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu Telah Sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di waktu malam atau siang, lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang berfikir (QS Yunus 24).

Annahl 1011Dia-lah, yang Telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan (An-Nahl 10-11).

Dalam kedua ayat di atas telah dengan jelas disebutkan bahwa dengan air hujan maka kita dapat memanfaatkan air tanah sebagai minuman dan menumbuhkan tanaman yang kita tanam di tanah tumbuh dengan subur. Karena air tersebut maka tanaman yang tumbuh dapat dimanfaatkan oleh manusia dan binatang ternak. Selain itu ditumbuhkannya berbagai macam tumbuhan baik itu tanaman sayuran maupun buah-buahan.

Begitulah Allah SWT memberikan karunia-Nya kepada kita semua, kewajiban kita semua mensyukuri dengan apa yang telah kita ambil manfaatnya. Kita harus menyadari bahwa hujan adalah rahmat Allah yang sangat besar oleh karena itu ketika datang hujan bersyukur dan perbanyaklah berdoa, seringkali kita lupa dan akhirnya kita terjebak, menggerutu ketika datang hujan dengan alasan yang bermacam-macam seperti pakaian yang tidak kering, sulit untuk beraktivitas saat hujan ataupun seribu alasan lainnya.

Kita harus ingat bahwa Allah memiliki kuasa untuk untuk menurunkan azab baik siang maupun malam sehingga disebutkan dalam ayat tersebut “ lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Dan lagi-lagi Allah SWT menyeru kita untuk terus berfikir, menganalisa atas apa-apa yang terjadi di alam semesta ini, termasuk hujan. Wallahu’alam.