Ada pepatah yang mengatakan “ siapa yang menanam pohon maka ia akan menuai buah ” yang bermakna barangsiapa yang menanam kebajikan maka ia akan memperoleh sesuatu yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Sore ini saya bertemu dengan siswa saya yang saat ini baru selesai melewati tahap yang paling membuat setiap jantung siswa berdetak kencang yakni “UN Nasional”, walaupun tensinya sudah mulai turun karena terbitnya peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nasional yang baru mengenai sarat kelulusan bagi siswa SD, SMP dan SMA. Peraturan baru tersebut menyatakan bahwa UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan, ada komponen lain yang harus dipertimbangkan sehingga keputusan kelulusan kini tidak otomatis bisa diketahui setelah pengumuman hasil UN Nasional melainkan melalui rapat yang dilakukan oleh pihak sekolah. Semoga keputusan ini berdampak positif bagi psikologis siswa kita yang setelah beberapa tahun terakhir seolah-olah tidak percaya diri , terlalu takut dan menganggap UN sebagai sebuah teror pendidikan.. Ada-ada saja.

Baiklah, sebut saja siswa saya bernama Fulanah, terlihat ceria, semangat, dan lebih optimis. Ia datang kepada saya dan memohon pamit karena Alhamdulillah telah diterima di Jurusan Hubungan Internasional UGM Yogyakarta. Jurusan yang merupakan bagian dari Fakultas FISIP POL UGM tersebut menjadi incarannya sejak dulu, sesuai dengan cita-cita yang sempat disampaikan kepada saya : menjadi seorang diplomat!!

Saya turut senang dengan hasil yang telah ia capai, kegembiraan seorang guru adalah ketika muridnya telah mencapai hasil yang optimal sesuai dengan kapasitasnya. Siapapun dan dimanapun guru itu mengajar, kelelahan yang selama ini dieasakan dalam kegiatan proses belajar mengajar seolah terlupakan oleh keberhasilan yang diraih oleh siswanya. Dan saya pun faham selama berinteraski di kelas ia adalah sosok siswa yang cerdas dan kritis, artinya ia memasuki jurusan dengan bekal softskill yang cukup dan itu tentunya akan menjadi bekalnya untuk menggapai masa depan kelak.

Pesan saya kepadanya pertama, seperti apapun profesinya nanti apakah menjadi seorang diplomat negara ataukah  bekerja di lembaga internasional tentunya nilai-nilai keislaman yang selama ini dianut harus tetap dipertahankan atau bahkan ditingkatkan lagi. Jadilah seorang muslim yang profesional dan memperjuangkan kebaikan umat muslim pada khususnya dan manusia seluruh dunia tentunya. Kedua, janganlah menjadi kabur dan gelap mata setelah bergaul di level internasional, ingatlah jati diri kita sebagai bagian bangsa Indonesia. Kelak sebaiknya ketika pikiran kita sudah menglobal harus bertindak secara lokal, supaya dampak kebaikan lebih dirasakan oleh kebanyakan orang.

Inilah buah yang dipanen oleh seorang guru, keberhasilan anak didiknya. Barakallah, Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan hidup untuk diriku, guruku, muridku, dan tentunya kaum muslimin di  belahan bumi manapun.   Amiin

Wallahu’alam,