Kayu keruing menjadi salah satu kayu alternatif  yang ditawarkan kepada saya untuk memenuhi kebutuhan meubel di rumah. Sebagai salah satu kayu yang memiliki kelas awet II dan kelas kuat II, konsumsi kayu keruing memang cukup tinggi. Kayu keruing atau keruing gunung memiliki nama ilmiah Dipterocarpus returtus  merupakan salah satu pohon famili Dipterocarpaceae yang terancam punah. International Union for Concervation of Nature (IUCN) bahkan telah menetapkan keruing gunung berstatus Critically endangered.

Tingginya pemanfaatan kayu keruing gunung bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemanfaatan kayu keruing sebagai bahan baku industri meubel pun turut mengundang peminat dari luar. Hal ini terbukti dengan nilai ekspor yang cukup fantastis, mencapai 30 miliar US$.

Hal yang sangat menarik ketika menghadiri seminar hasil penelitian saudara Abdul Azis mahasiswa Konservasi Biodiversitas Tropika yang berjudul Bioprospeksi Keruing Gunung (Dipterocarpus returnus) untuk stimulus konservasinya di Taman Nasional Gunung Rinjani dibawah bimbingan Prof. Dr. Ervizal AM Zuhud dan Dr Rita Kartika Sari. Sinergitas yang dibangun anatara potensi pohon keruing dengan masyarakat melalui pemanfaatan bagian dari pohon keruing sebagai obat merupakan solusi yang cukup baik dalam menjaga kelestarian pohon tersebut.

Dengan memanfaatkan kult kayu dan daun ( tanpa kayu )  penelitian ini nampaknya ingin memanfaatkan hasil hutan bukan kayu sebagai sumber biofarmaka. Tentunya hal ini sejalan dengan usaha melestarikan pohon tersebut, sehingga kita tidak harus menebang pohon untuk mendapatkan khasiat tanaman tersebut.

Hasil penelitian tersebut menunjukan hasil yang cukup menggembirakan. Pengujian anti bakteri ekstrak kasar saja telah mampu menghambat aktivitas bakteri tertentu yang sering menjadi penyebab penyakit kulit. Uji fitokimia yang dilakukan secara kualitatif telah mampu mengidentifikasi beberapa senyawa penting seperti alkaloid, flavonoid, fenol hidroquinon, steroid, triterpenoid, tanin dan saponin. Tentunya penelitian tersebut merupakan tahap awal untuk mengetahui potensi  tanaman kehutanan sebagai bahan baku biofarmaka. Diharapkan penelitian itu tidak berhenti samapai di sana, diperlukan penelitian lanjutan yang perlu dilakukan hingga tanaman tersebut benar-benar bisa bermanfaat bagi masyarakat dan memiliki nilai tambah yang tinggi.

Dipterocarpus-retusus_2
Bunga tanaman keruing (sumber : dsn.co.id)
kon23
Pohon keruing dengan pembanding manusia (Sumber : dsn.go.id)