Penggunaan tumbuhan obat merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. Obat tradisional mudah diperoleh dan pengolahannya mampu dilakukan sendiri karena tanaman obat berasal dari kearifan lokal masyarakat. Peningkatan konsumsi tumbuhan obat berdampak terhadap naiknya produksi tanaman obat dan rempah Indonesia dari sebesar 115 ribu ton pada tahun 2012 menjadi 135 ribu ton pada tahun 2013 dengan luas panen  tanaman obat mencapai lebih dari 14 juta hektar. Terdapat sekitar 31 jenis tanaman obat di Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional/jamu, bumbu serta untuk kebutuhan ekspor dengan volume permintaan lebih dari 1.000 ton/tahun. Pasokan bahan baku tanaman obat tradisional tersebut berasal dari hasil budidaya 18 jenis termasuk temu hitamdan 13 jenis dieksploitasi secara langsung dari hutan.

Dari ratusan bahkan ribuan jenis tanaman obat, famili Zingiberaceae adalah kelompok tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional, bahkan sebagian menggunakannya sebagai bumbu dan rempah, bahan pewarna, dan sebagai insektisida alami. Bahkan dalam pemanfaatannya sebagai bahan baku obat tradisional beberapa spesies dapat digunakan sebagai anti cendawan, anti mikroba, anti bakteri,  anti oksidan, anti radang, anti tumor dan penahan rasa sakit. Kementan (2013) menyebutkan bahwa Indonesia telah memiliki 6 varietas dari famili Zingiberaceae yang telah dilepas yaitu jahe (Cimanggu 1 dan Jewot); temu lawak (Cursina 1, 2, 3 dan Bathok) dan 13 varietas yang didaftarkan yaitu Jahe (Halina 1,2, 3, 4, Jahira 1,2); Kencur (Galesia 1,2,3 dan Papan Kentala); Kunyit (Turina 1, 2, dan 3).

Temu hitam atau Curcuma aeruginosa Roxb. tersebar secara luas di Asia bagian tenggara. Nama lokal hitam di Indonesia adalah temu erang (Sumatra),  temu ireng (Jawa Tengah, Jawa Timur), temu ereng (Madura), koneng hideung (Jawa Barat), temu lotong (Sulawesi dan Nusa Tenggara) merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman obat yang tumbuh di Indonesia. Tanaman ini sudah dikenal dan dibudidayakan secara besar-besaran di negara Asia lainnya seperti Malaysia, Myanmar, dan Kamboja. Produksi temu hitam di Indonesia masih relatif rendah, berdasarkan data Kementerian Pertanian produksi rimpang temu hitam pada tahun 2014 hanya mencapai 8 ribu ton, lebih kecil bila dibandingkan dengan produksi rimpang jahe pada tahun yang sama yang mencapai lebih dari 100 ribu ton.

Temu hitam merupakan tanaman semak, memiliki rimpang, berbatang semu, tingginya kurang lebih 50 cm. Rimpangnya terletak dalam tanah dengan ukuran yang cukup besar, bercabang merata. Daun alternate, entire, tunggal, tegak, warna hijau bercak kecoklatan pada kedua permukaan terkadang dengan semburat ungu pada masing-masing sisi ibu tulang daun. Pada saat musim kemarau temu hitam akan mengalami dorman, seluruh daun akan mengering dan luruh sehingga akan memudahkan untuk panen karena  sudah cukup tua untuk dipanen.

Slide1Gambar 1 Tanaman Temu Hitam (foto koleksi pribadi)

Rimpang besar berdaging, mengerucut panjang sekitar 16 cm tebal 3 cm tidak begitu rapat, permukaan luar abu-abu dan berkilau, ujung tunas merah jambu bagian dalam kebiruan atau biru hijau dengan korteks putih. Mudah dikenal jika rimpangnya yang tua dipotong atau diiris berwarna agak kebiruan seperti warna timah. Kulit luar rimpang kuning dan berkilat ujungnya berwarna merah muda. Bagian dalam rimpang muda berwarna biru pucat dengan batang berwarna hijau. Tanaman ini dibudidayakan sebagai apotek hidup dan  tumbuh liar di hutan-hutan jati, padang rumput pada ketinggian 400-750 m dari permukaan laut.

Untuk meningkatkan produktivitas sebuah tanaman diperlukan seleksi dan pembentukan varietas sehingga dihasilkan tanaman temu hitam yang memiliki produktivitas yang cukup tinggi. Selain produktivitas yang tinggi kandungan komponen bahan aktif yang tinggi merupakan salah satu parameter seleksi yang perlu dipertimbangkan.

Slide2

Gambar 2 Teknologi kultur jaringan tanaman menjadi solusi dalam menghasilkan propagula yang bermutu.

Penggunaan bioteknologi khususnya teknologi kultur jaringan tanaman dalam perbanyakan tanaman telah banyak digunakan di negara dengan pertanian yang cukup maju. Kultur jaringan adalah suatu teknik mengisolasi bagian dari tanaman baik berupa sel, jaringan maupun organ yang ditumbuhkan secara aseptik dengan lingkungan dan unsur hara yang terkendali hingga terbentuk individu baru. Penggunaan teknologi kultur jaringan tanaman dinilai mampu menghasilkan propagula bermutu dengan jumlah yang cukup banyak dalam waktu yang relatif lebih singkat bila dibandingkan dengan metode konvensional. Selain itu bibit yang dihasilkan relatif lebih seragam dan sifat unggul tanaman bisa dipertahankan. Tanaman temu hitam telah berhasil diperbanyak melalui kultur jaringan. Balai penelitian tanaman obat (BALITRO) melaporkan bahwa dengan penambahan zat pengatur tumbuh tanaman pada media kultur jaringan mampu menghasilkan sediaan bibit tanaman temu hitam dengan tingkat multiplikasi yang cukup tinggi dan telah berhasil hingga proses aklimatisasi di greenhouse dan lahan terbuka.

Rimpang temu hitam mengandung senyawa-senyawa aktif seperti saponin, flavonoid, polifenol, minyak atsiri khususnya 1.8 sineol, dan glukan. Penelitian fitokimia pada rimpang temu hitam menginformasikan terdapat tiga golongan sesquiterpen, yang diidentifikasi sebagai zedoarol, curcumenol, dan isocurcumenol. Selain itu aeruginon dan curcuminon telah berhasil diidentifikasi diidentifikasi sebagai senyawa penciri temu hitam.

Di Indonesia sebenarnya rimpang temu hitam telah digunakan sebagai bahan baku jamu gendong, yaitu ramuan cabe puyang yang berkhasiat mengobati penyakit rematik. Resepnya sangat mudah hanya menambahkan temu hitam dengan kunyit, kencur, temulawak, kayu manis, jeruk nipis, dan asam jawa. Pemanfaatan temu hitam pun cukup melegenda dan digunakan secara turun temurun oleh orang tua kita dalam mengatasi menurunnya nafsu makan anak-anak yang disebabkan oleh penyakit cacingan. Dikenal dengan nama jamu cekok. Resepnya pun cukup mudah yaitu dengan menghaluskan temu hitam, brotowali dan temulawak. Selain manfaat di atas temu hitam juga telah digunakan sebagai ramuan galian, anti inflamasi, penyakit kulit, anti mikroba, anti cendawan, dan anti androgenik.

Ada banyak tanaman di sekitar kita yang belum kita ketahui baik jenis maupun manfaatnya bagi kesehatan. Dengan belajar pada kearifan lokal masyarakat kita akan mampu mengenal dan mengetahui berbagai jenis dan fungsi tanaman obat yang bisa kita gunakan sendiri untuk meningkatkan kualitas kesehatan kita dan keluarga. Kita pun akan membantu melestarikan kearifan masyarakat resep obat tradisional untuk kesehatan kita semua.