All posts by Adi Setiadi

Assalamualaikum. Blog Ini dibuat karena ketertarikan saya akan pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Buah fikiran dan curahan hati saya semoga dapat dibaca oleh siapapun dan dimanapun. Terima kasih atas partisipasi aktif anda dalam pengembangan blog ini. Untuk kemajuan blog ini saya berharap pembaca bersedia memberikan saran dan kritik yang membangun. Semoga bermanfaat.

International Seminar on Tropical Horticulture

Kegiatan Seminar Internasional yang diadakan oleh Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) mengambil tema “The Future of Tropical Horticulture” dilaksanakan pada tanggal 28-29 November 2016 di IPB International Conference Center Bogor. Kegiatan seminar dilakukan dengan menghadirkan beberapa pembicara bagi dari dalam maupun luar negeri.

Hari pertama, tanggal 28 November 2016, topik perkenalan :

  1. Sanjeet Kumar (World Vegetable Horticulture Taiwan) dengan judul “Science and art of Tropical horticulture: Stories, Impacts, and Prospects”
  2. Prof Sobir ( Indonesian Center of Excellence for Tropical Horticulture) dengan judul “ Tripical Horticulture: Past, Present, and Future.”
  3. Gregori Hambali, M.Sc (Mekarsari, Indonesia) dengan Judul “Managing Tropical Fruits Collection”
wp-1481697135285.jpeg
Prof. Muhammad Firdaus

Peluang Industri Komoditas Hortikultur Tropika

  1. Prof Muhammad Firdaus (Institut Pertanian Bogor) dengan judul “Enchanging the Competitiveness of Tropical Horticulture Products.”
  2. Mohd Desa Haji Hasim (International Tropical Fruit Network, Selangor Malaysia) dengan judul “Issues and Challanges in the global Tropical Fruit Market”
  3. Parson Saradhulat, Ph.D (Department of Horticulture, Kasestart University Thailand) dengan judul “Tropical Horticulture Business in Thailand)
wp-1481697098510.jpeg
Dr. Darda Efendi

Kualitas Produk Hortikultura

  1. Dada Efendi (Center for Tropical Horticulture Studies, Indonesia) dengan judul “Quality Issues in Tropical Horticultural Products”
  2. Tatas H. P. Brotosudarmo, Ph.D (Ma Chung University) dengan judul “Non Optical and Optical Spectroscopy as Metabolomic Platform for Determining the Quality of Horticultural Products”
  3. Irmanida Batubara (Tropical Biopharmacha Research Center) “Quality Control on Herbal Medicine”

Hari kedua, tanggal 29 November 2016 dengan tema : Teknologi Hortikultur Tropika :

  1. Prof Masayoshi Shigyo (Yamaguci University, japan) dengan judul “Proposal for a Forwarding Model in Order to Encourage Social interaction among HRs and/ PGRs Platform Operation Based on Research Collaboration in Indonesian Vegetable Crops.”
  2. Prof Sri Hendrastuti Hidayat, (Department of Plant Protection Faculty of Agriculture Bogor Agricultural University) dengan judul “Integrated Disease Management for Vegetable Crops: Concepts and Practices.
  3. Catur Hermanto, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI) dengan judul “Pest and Disease Threats and Challenges for Future Vegetable in The Tropic”.
wp-1481697074755.jpeg
Dr. Irmanida Btubara

Presentasi poster dilakukan di hari pertama. Poster yang ditampilkan berjudul Morphology and Phytochemical Analysis of Several Black Turmeric (Curcuma aeruginosa Roxb.) in Indonesia.

Gambar 4 Presentasi poster hasil penelitian Temu Ireng

Dari kegiatan tersebut diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pertanian tanaman hortikultur harus diproduksi dengan intensifikasi berkelanjutan, tanaman eksentifikasi yang intensif.
  2. Teknologi produksi harus bisa meningkatkan permintaan produksi hortikultur, dengan lebih mengendalikan lingkungan, adaptasi terhadap biotik dan abiotik, penanganan pascapanen, dan tanggung jawab terhadap perubahan lingkungan.
  3. Usaha hortikultur di masa yang akan datang bukan hanya berhubungan dengan kuantitas, namun juga kualitas. Dengan kualitas yang baik nilai tambah yang kita peroleh akan lebih banyak.
  4. Tantangan yang akan kita hadapi di masa depan adalah jumlah penduduk yang semakin bertambah dari tahun ke tahun, serangan hama, dan penyakit tanaman hortikultur.

Buah tin dan sikonium

Apakah anda pernah melihat dan memperhatikan buah Tin? Buah tin termasuk ke dalam genus Ficus, keluarga Moraceae. Tumbuhan yang berasal dari genus ini memiliki sistem perbungaan yang khas, yakni sistem perbungaan tertutup atau disebut sebagai sikonium. Secara lebih mudah dan sederhananya sinokium merupakan reseptakulum yang membesar sehingga membentuk bulatan seperti guci dan di dalamnya terdapat ratusan bunga-bunga yang berukuran kecil. Sikonium tumbuh pada reseptakel yang membentuk hipantium menyerupai cawan yang tertutup oleh pori kecil (ostiol) pada bagian ujung apeksnya.

Perbungaan sikonium terdiri atas sekelompok bunga jantan dan bunga betina yang masing-masing tidak memiliki perhiasan bunga. Bunga jantan tersusun atas satu sampai lima stamen, sedangkan bunga betina tersusun atas satu pistilum dengan stilus yang pendek pan panjang.

presentation14
Morfologi bunga Sikonium

Yang menjadi pertanyaan apabila bunga tersebut terdapat di dalam bagaimana penyerbukan bisa terjadi? Ternyata Allah SWT menyiapkan tawon penyerbuk yang akan masuk ke dalam sikonium. Polinasi pada bunga ini dibantu oleh serangga yang masuk ke dalam bunga melalui ostisol. Pada saat pembentukan buah, yang dipicu oleh dengan adanya polinasi dan fertelisasi pada bunga-bunga betina, hipantium bunga sikonium ini akan membesar dan berdaging sehingga berbentuk buah yang dinaman buah hipantodium.

Bunga pada buah tin berbeda dengan bunga pada umumnya.

Interaksi antara bunga Ficus dengan sejenis tawon yang dikenal dengan tawon agonin tersebut adalah simbosis mutualisme obligat. Ficus hanya bisa diserbuki oleh tawon dan tawon hanya bisa bereproduksi di dalam sinokium.

Secara teknisnya di dalam sikonium tawon akan menyerbuki bunga lalu meletakan telurnya ke dalam ovarium. Tawon yang telah menyelesaikan tugasnya akan mati di dalam sikonium. Telur tawon yang telah berkembang menjadi dewasa kemudian kawin di dalam sikonium, lalu tawon betina akan terbang ke sikonium yang lain untuk melalukan penyerbukan dan meletakan telurnya.

Sumber :

Chen C. Song Q. 2008. Responses of the Pollinating Wasp Ceratosolen solmsi marchali to Odor Variation Between Two Floral Stages of Ficus hispida.

Bahaya pestisida, amankah makanan kita?

Pestisida merupakan bahan kimia atau bahan lain  yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama yang menyerang tanaman. Biasanya yang dikategorikan sebagai hama sangatlah beragam, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Selain itu dikenal pula penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (cacing dengan ukurang mikroskopis).

183742584-56a5cffc3df78cf77289faa9
Sumber : verywell

Pestisida tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya sangat banyak, namun yang sering digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering dipakai adalah karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, posfor, klorin dan sulfur. Sedangkan yang berasal dari logam atau semi logam adalah besi, tembaga, mercuri, zink dan arsenik.

Pestisida dapat menyebabkan efek akut dan jangka panjang bagi petani yang bekerja dengan pestisida. Paparan pestisida dapat menyebabkan efek yang bervariasi, mulai dari iritasi pada kulit dan mata hingga efek yang lebih mematikan yang mempengaruhi kerja syaraf, mengganggu sistem hormon reproduksi, dan menyebabkan kanker. Sebuah studi pada tahun 2014 yang dimuat pada “International Journal of Environmental Research and Public Health,”  Non-Hodgkin-limfoma (NHL)/ kelompok penyakit kanker sel darah  menunjukan hubungan positif dengan paparan pestisida.  Bahan-bahan pestisida yang berkaitan dengan NHL diantaranya :

  • Phenoxy herbicides, seperti 2,4-D
  • Carbamate seperti  Carbaryl, or Sevin
  • Organophosphorus seperti  malathion
  • The organochlorine  seperti  Lindane
  • Glyphosate, yang dikenal sebagai roundup pada pembasmian gulma.

Berita yang cukup mengejutkan datang dari WHO dan UNEP memperkirakan bahwa setiap tahunnya sekitar 3 juta pekerja pertanian mengalami keracunan pestisida, dan 18000 diantaranya meninggal. Dan kemungkinan 25 juta orang mengalami gejala keracunan pestisida ringan setiap tahunnya. Bunuh diri dengan meracuni diri sendiri dengan pestisida merupakan cara bunuh diri paling populer ketiga di dunia. Wanita pada usia kehamilan 8 minggu yang hidup dekat dengan ladang yang disemprot pestisida organoklorin jenis dikofol dan endosulfan memiliki kemungkinan mendapatkan anak yang lahir dalam kondisi autis.

aneka
Sayuran dan buah yang terkena paparan pestisida harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi

Bahaya pestisida pada makanan juga tidak bisa kita anggap remeh, karena dapat berdampak mengganggu kesehatan dan sumber penyakit tertentu. Dalam jumlah sedikit biasanya tubuh mampu menetralisir, namun apabila mengendap dan terakumulasi di dalam tubuh dalam waktu yang cukup lama maka akan mengganggu kesehatan seperti timbulnya penyakit kanker, gangguan syaraf, dan gangguan reproduksi.

Pestisida sebenarnya adalah racun untuk hama atau penyakit yang mengganggu tanaman selama proses pertumbuhan tanaman hingga tanaman tersebut dipanen. Membersihkan buah dan sayuran memang tidak semudah mencuci mobil ataupun motor. Buah buahan memiliki kulit yang berpori sehingga bisa jadi menurut pandangan kasat mata sudah bersih, ternyata masih ada sisa pesisida yang terdeposit pada rongga yang dan pori. Kita juga tidak bisa sembarangan menggunakan sabun karena sayuran dan buah merupakan bahan makanan yang akan kita konsumsi.

  Berikut ini adalah menghilangan sisa paparan pestisida yang mungkin menempel pada sayuran dan buah-buahan yang kita konsumsi, cara yang dapat dilakukan adalah :

  1. Buah buahan dan sayuran sebaiknya dicuci dalam keadaan utuh tanpa harus dipotong-potong. Hal ini dilakukan agar kita tidak kehilangan nutrisi penting yang mungkin dapat hilang selama proses pencucian.
  2. Menggunakan air bersih yang mengalir untuk membersihkan dari zat kimia yang menempel pada batang atau daunnya akan lebih efektif bila dibandingkan dengan merendamnya. Perendaman dapat kita lakukan sesaat setelah pencucian dengan air yang mengalir. Walaupun dengan mencuci ini kita tidak dapat menghilangkan residu pestisida hingga 100%, namun setidaknya pestisida yang menempel di permukaan akan larut. yang perlu diperhatikan adalah apabila bahan makanan kita terpapar insektisida dari jenis sistemik maka dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk dihilangkan.
  3. Selain mencuci dengan air mengalir kita juga dianjurkan untuk merendam sayuran dan buah buahan dengan air bersih selama kurang lebih 10 menit atau lebih. Perendaman hanya efektif untuk menghilangkan pestisida organik. Untuk membersihkan pestisida yang sukar larut dalam air bisa menggunakan larutan pencuci buah dan sayuran. Saya kira sudah banyak diproduksi dan dijual di pusat-pusat perbelanjaan. Larutan cuka 10% pun bisa digunakan untuk merendam sayuran dan buah untuk menghilangkan pestisida yang dilakukan kurang lebih selama 20 menit.
  4. Menggunakan larutas basa, atau alkali. Insektisida yang mengandung posfor cepat larut dala kondisi basa. Sayuran bisa kita rendam sekitar 10 menit, untuk buah-buahan bisa lebih. Adakalanya digunakan perasan air lemon yang ditambahkan dengan natrium bikarbonat atau natrium bikarbonat (soda kue) serta air.
  5. Mengupas kulit pada buah-buahan bisa dapat menyingkirkan pestisida yang cukup banyak yang menempel pada kulit buah dan sayuran. Ini akan efektif apabila kulit buah atau sayuran tersebut memiliki kulit yang cukup tebal sehingga kita bisa mengupasnya. Namun apabila buah dan sayuran tersebut memiliki kulit yang cukup tipis dan kandungan vitamin tertenu mungkin saja terdapat pada kulit maka  cara pengupasan ini akan kurang efektif.
  6. Memanaskan sayuran  dan buah dengan air panas sangat cocok untuk sayuran yang diberikan pestisida dari jenis asam amino. Prakteknya kita bisa mencelupkannya selama 1-2 menit kemudian dibilas dengan menggunakan air bersih. Proses pencelupan harus dilakukan sesingkat mungkin karena khawatir terlalu lama mencelupkan akan melarutkan zat yang bermanfaat pada sayuran atau buah.
  7. Penggunaan alat penghilang pestisida bisa menjadi alternatif, namun harganya masih cukup mahal. Proses ozonisasi pada alat tersebut mampu memecah pestisida dan hanya bekerja pada kulit permukaannya saja tanpa mempengaruhi kandungan vitamin dan mineral pada buah dan sayuran yang akan kita konsumsi. Alat yang telah dikembangkan dalam skala laboratorium dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
presentation2
Ozone mircobubbles yang dikembangkan oleh Masahiko Tamaki dan Hiromi Ikeura yang digunakan pada sampel buah tomat, selada, dan strawberi.

Sayuran yang ditanam secara organik sebenarnya memiliki tingkat keamanan yang lebih baik. Sayuran dan buah yang ditanam secara organik tidak menggunakan pestisida ataupun insektisida, namun harga sayuran dan buah- buahan organik jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan sayuran yang ditanam oleh petani melalui cara konvensional. Pada buah dan sayur yang ditanam secara organik biasanya menggunakan biopestisida, yakni pestisida yang dibuat dari bahan alam sehingga mudah tercuci oleh pencucian baik air hujan maupun pencuian produk pascapanen. Untuk menjamin keamanan bahan makanan kita dari pestisida, pada akhirnya Good Agriculture Practice memang sudah saatnya diterapkan secara massal  di Indonesia.

Akiba S. Insecticide: Fungicide and Fumigant Use in the Agricultural Health Study., ed. PLoS ONE. 2014;9(10)

Dich J, Zahm SH, Hanberg A, Adami HO. Pesticides and cancer. Cancer Causes Control. 1997; 8: 420-443.

Masahiko Tamaki and Hiromi Ikeura. Removal of Residual Pesticides in Vegetables Using Ozone Microbubbles. http://dx.doi.org/10.5772/48744

BUKAN SIAPA-SIAPA

2016-10-06_12_22_26.jpg

Ada ayah dan bunda yang tak lelah berdoa di sepanjang malam. memohon dengan doa yang tulus. Ada isteri dan keluarga tercinta yang selalu memberikan semangat. Bersabar atas perhatian yang terbagi. Membuka ruang untuk untuk menerima keluh dan kesah. Setia mendampingi dalam berbagai kondisi, lapang dan sempit. Ada guru-guru hebat yang telah membimbing dan mengarahkan. Membuka wawasan dan nalar, demi sebuah karya besar. Ada pekerja di lahan, rekan laboratorium yang yang secara teknis membantu setiap tahapan. Ada lembaga dan rekan kerja yang memberikan berbagai keleluasaan, dan ada orang-orang baik yang rela berbagi kebaikan tanpa pamrih. Tak ingin dikenal dan tak ingin pula diketahui.

Ada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya. Anugerah kenikmatan ilmu dan pemahaman, berbagai kemudahan selama proses belajar. Rezeki yang selalu datang tanpa disangka-sangka.

SUNGGUH AKU BUKAN SIAPA-SIAPA

Mari Kita Kembangkan Jamu Indonesia

Jamu memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Walaupun rasanya pahit, namun jamu secara empiris dipercaya dapat menyembuhkan penyakit oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu. Ketika pengobatan modern belum mengambil peran seperti sekarang, jamu telah menunjukan eksistensinya dengan memelihara  kesehatan dan mengobati berbagai macam penyakit. Dilihat dari sisi historis, kapan jamu untuk pertama kalinya digunakan memang belum diketahui secara pasti. Ada yang menghubungkan dengan kebiasaan-kebiasaan pada kerajaan Hindu Mataram Kuno di Indonesia, dimana jamu telah digunakan oleh puteri kerajaan untuk menjaga kesehatan dan kecantikannya. Bukti lain penggunaan jamu adalah telah ditemukan di berbagai literatur-literatur kuno, seperti pada relief berbagai macam candi, naskah Gatotkaca (Mpu Panuluh), serat Centhini dan Serat Kawruh Bab Jampi-jampi Jawa.

Pada saat pemerintah Kolonial Belanda datang  mencari rempah-rempah beberapa abad yang lalu turut berperan penting dalam catatan sejarah jamu di Indonesia. Telah dilaporkan bahwa seorang botanis yang hidup sekitar tahun 1775 Masehi, Rumphius  telah melakukan penelitian tentang penggunaan jamu di Indonesia. Bukunya yang terkenal berjudul “Herbaria amboniensis”.

Perkembangan penelitian tentang jamu dan tumbuhan obat terus berlangsung hingga sekarang. Dari penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan pada tahun 2012 telah berhasil memperoleh data sekitar 1.889 spesies tumbuhan obat, 15.671 ramuan untuk kesehatan, dan 1.183 penyembuh/pengobatan tradisional yang disurvei dari 2009 etnis . Total etnis di Indonesia sekitar 1.128 etnis (Kemenkes 2015).

Bagaimana pandangan masyarakat Internasional terhadap pengobatan tradisional ?

Badan kesehatan dunia (WHO) telah sepakat untuk memajukan pemanfaatan pengobatan tradisional, mendorong pemanfaatan keamanan dan khasiat pengobatan tradisional melalui regulasi produk, praktek dan partisipan. Dalam dunia internasional sendiri pengobatan tradisional lebih dikenal sebagai : traditional medicine, complementary and alernative medicine, integrative medicine, medical herbalism, phytotherapy, datural medicine, dan lain-lain.

Karena jamu telah diakui oleh dunia internasional, terlebih jamu juga merupakan warisan budaya Indonesia sudah sepantasnya kita lebih bersemangat dalam mengembagkannya sehingga jamu mampu memainkan perannya secara optimal. Ramuan jamu lebih banyak menggunakan bagian tumbuhan seperti akar, batang, daun, bunga, buah, dan rimpang. Jamu pun biasa dikemas dalam berbagai bentuk sediaan, seperti simplisia, infus, ekstrak dan lain-lain. Karena jamu memiliki rasa yang cukup pahit, terkadang dalam penggunaannya ramuan jamu  ditambahkan gula merah dan madu. Walaupun memiliki rasa yang cukup pahit jamu memiliki banyak khasiat dan manfaatnya. Dengan berorientasi pada khasiat dan manfaatnyalah kita sebaiknya menentukan arah pengembangan jamu, sehingga lebih bisa dirasakan oleh masyarakat banyak.  Di bawah ini adalah 4 arah pengembangan jamu di Indonesia berdasarkan khasiat dan manfaatnya, yaitu :

  • Pengembangan jamu untuk kesehatan.

Kesehatan sangatlah penting dan mahal. Tanpa kesehatan yang baik kita tidak dapat melakukan aktifitas seperti orang sehat pada umumnya. Selain itu biaya kesehatan pada pengobatan modern membutuhkan biaya yang cukup banyak. Walaupun kini pemerinah telah memberikan banyak subdidi baik melalui pembelian obat generik, maupun BPJS namun kesehatan tetaplah yang paling utama. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sangat diperlukan oleh kita semua.  Ada beberapa jenis ramuan jamu yang digunakan dalam memelihara kesehatan dan mengobati penyakit, dari banyaknya ramuan jamu di bawah ini ada beberapa ramuan yang cukup dikenal di masyarakat diantaranya adalah :

  1. Jamu beras kencur. Sesuai dengan namanya jamu beras kencur memang dibuat dengan menggunakan bahan beras dan rimpang kencur. Selain bahan tersebut beberapa bahan ditambahkan seperti biji kedawung, rimpang jahe, biji kapulaga, asam, rimpang kunyit, dan jeruk nipis. Jamu beras kencur berkhasiat mengobati pegal linu, meringankan gejala batuk, dan menyembuhkan perut kembung.
  2. Jamu cabe puyang. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu ini adalah cabe puyang, rimpang temulawak, rimpang temu ireng, rimpang jahe, daun adas, pulosari, rimpang kunyit, merica, kedawung, keningar, asam jawa, dan temu kunci. Manfaat ramuan jamu cabe puyang adalah mengobati pegal-pegal dan nyeri pinggang serta memeilahara kebugaran.
  3. Jamu kunyit asam. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu ini adalah daun asam yang masih muda atau dikenal dengan daun sinom, rimpang temulawak, biji kedawung, jeruk nipis. Manfaat jamu kunyit asam dapat membantu melangsingkan badan, memperlancar siklus menstruasi, menjaga daya tahan tubuh, dan membantu meringankan gejala panas dalam.
  4. Jamu cekokan. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu cekokan adalah brotowali, daun meniran, lempuyang, lengkuas, serai, widoro laut, temu ireng, doro putih, babakan pule, dan biji adas. Jamu cekok berkhasiat menambah nafsu makan khususnya anak-anak, mengobati cacingan, dan lain-lain
  5. Jamu gepyokan. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu gepyokan adalah rimpang kencur, rimpang jahe, rimpang lengkuas, bangle, kunyit, temulawak, lempuyang, temu giring, dan daun katuk. Jamu gepyokan biasanya digunakan untuk meningkatkan produksi air susu ibu, menghilangkan bau badan yang tak sedap.
  6. Jamu kunci sirih. Bahan yang digunakan adalah temu kunci dan dan daun sirih, daun luntas, rimpang kunyit, rimpang jahe, kencur, serta kapulaga, kayu manis, potongan serai, dan asam jawa. Jamu kunci sirih dapat berkhasiat membantu mengatasi keputihan, bau badan yang tak sedap, merapatkan vagina dan memelihara kesehatan rahim.
  7. Jamu sinom. Bahan yang digunakan adalah sinom/daun asam yang masih muda, rimpang temulawak, rimpang kunyit, kapulaga, kayu manis, pala. Jamu ini berkhasiat mengatasi gejala panas dalam, menjaga kebugaran, dan membuang racun dari tubuh (detoksifikasi).
  8. Jamu temulawak. Bahan yang digunakan adalah rimpang temulawak, kencur, asam jawa, gula aren, daun pandan, serta jintan hitam. Jamu ini bermanfaat mengobati dan mencegah penyakit hepatitis, batuk, dan mengembalikan kebugaran tubuh.
  • Pengembangan jamu untuk kecantikan dan kebugaran.

Selain bermanfaat untuk kesehatan penggunaan jamu juga banyak digunakan untuk kecantikan dan kebugaran tubuh. Jamu memang telah banyak digunakan sejak dahulu oleh puteri kerajaan. Saat ini telah banyak pula pakar kecantikan yang merekomendasikan dan menggunakan jamu sebagai bahan dasar untuk membuat ramuan kecantikan.

Sebagai contoh adalah penggunaan kunyit untuk kecantikan. Kunyit  yang dicampur dengan tepung dan minyak zaitun telah lama digunakan untuk mengobati jerawat, keombe pada rambut, bahkan digunakan pula untuk mencegah dan mengobati kulit keriput karena faktor usia.

Bagi kaum hawa yang bermasalah dengan kulit kering atau berminyak, campuran kunyit dengan minyak zaitun dan bubuk kayu cendana bisa menjadi alternatif pilihan perawatan wajah. Kunyit dengan campuran munyak kelapa pun bisa digunakan untuk mengobati kulit pecah-pecah dan kering di sekitar lutut dan tumit. Bahkan untuk anda yang bermasalah dengan figmentasi kulit karena bekas jerawat bisa menggunakan campuran kunyit dan jus lemon.

Di indonesia jamu yang menjadi primadona dalam hubungannya dengan kecantikan adalah jamu beras kencur, jamu kunyit asam, dan jamu pahitan. Jamu jamu tersebut sangat bermanfaat untuk mengatasi bau badan, memelihara daerah kewanitaan, memperbaiki penampilan kulit termasuk mencerahkan, menghilangkan jerawat, dan pelangsing tubuh.

  • Pengembangan jamu untuk makanan dan minuman.

Makanan tradisional Indonesia memang kaya akan rempah. Rempah yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari adalah bahan-bahan yang sering digunakan untuk membuat ramuan jamu.

Sebagai contoh cengkeh bermanfaat menyembuhkan alergi dingin, jahe untuk mengangatkan badan dan menyembuhkan masuk angin, ketumbar bisa digunakan untuk memperlancar perncernaan dan produksi ASI, pala bisa digunakan untuk relaksasi tubuh, temu kunci digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, lengkuas untuk, kencur digunakan untuk gangguan tenggorokan, kayu manis untuk suplemen tubuh, kunyit digunakan untuk mengobati sakit maag, jinten untuk penyakit pernafasan, serai digunakan untuk mengatasi serangan serangga, kemiri untuk menghaluskan kulit dan rambut, daun salam , kluwek untuk mengatasi gangguan pencernaan, daun pandan penambah selera makan, bawang merah dan putih sebaga antibiotik, kapulaga mengatasi batuk dan gangguan pencernaan, dan merica mengobati gejala flu.

Minuman kesehaan dengan menggunakan bahan rempah tradisional telah menjadi minuman khas di indonesia. Wedang jahe adalah salah satu contohnya. Minuman yang berbahan dasar jahe, kayu manis dan sereh ini merupakan salah satu minuman yang sangat nikmat. Jahe anget juga nikmat,  cocok dinikmati saat udara dingin. Masih banyak minuman tradisional lain yang nikmat namun sekaligus menyehatkan diantaranya kunyit asem, bandrek, bajigur, wedang ronde, beras kencur, teh telur, sirup secang, sirup pala, dan lain-lain.

  • Pengembangan jamu untuk sebagai bagian dari budaya bangsa

Penggunaan jamu dalam hal pemeliharaan kesehatan, kecantikan dan produk konsumsi tidak boleh dipisahkan dari buadaya bangsa kita. Oleh karena itu sangatt penting memaknai jamu bukan hanya sekedar produk obat dan minuman saja, namun lebih pada produk budaya bangsa indonesia. Dari cara pemilihan bahan, proses pembuatan dan alat yang digunakan merupakan warisan budaya yang tetap harus dipertahankan. Karena melalui jalur budaya jamu yang kia nikmati saat ini mampu bertahan dari awal mula jamu tersebut dibuat hingga saat ini.

Arah pengembangan jamu Indonesia yang jelas  sebenarnya telah  mempermudah dan memfokuskan pelestarian jamu sebagai warisan budaya nasional. Diversifikasi dan inovasi dari beberapa produk jamu yang telah diproduksi saat ini akan lebih membuat jamu bisa diterima di masyarakat.  Dan pada akhirnya jamu Indonesia akan menjadi solusi atas permasalahan kesehatan masyarakat.