Category Archives: Kimia Kayu

PANDUAN PRAKTIKUM HHBK

Cover HHBK

Pendahuluan :

1. KETENTUAN NILAI

2. TATA TERTIB

3. TATA WAKTU PRAKTIKUM

Materi :

1. Energi Biomassa pembuatan briket arang

2. MINYAK ATSIRI_Penyulingan daun

3. MINYAK ATSIRI_uji kayu putih

4. Minyak lemak 1

5. Minyak lemak 2

6. RESIN_pengolahan getah pinus

7. RESIN_pengolahan kutu lak

8. RESIN_pengujian kualitas gondorukem

9. TUMBUHAN OBAT_instan tumbuhan obat

10. TUMBUHAN OBAT_Simplisia Tumbuhan Obat

Pemanfaatan Biomassa Tropika Sebagai Cadangan Energi Masa Depan

Pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat di Indonesia mengakibatkan meningkatnya jumlah kebutuhan energi baik untuk industri, bahan bakar kendaraan bermotor maupun kebutuhan rumah tangga. Berada di daerah tropis, Indonesia memiliki sumberdaya alam yang melimpah didukung oleh bersinarnya matahari sepanjang tahun. Kelangkaan energi yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan perlunya energi alternatif khususnya berasal dari energi biomassa..

Kayu merupakan biomass yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kini kayu tidak hanya digunakan untuk membuat perabot rumah tangga ataupun furniture namun penggunaanya telah lebih jauh menyangkut sifat kimia kayu sebagai sumber energi terbaharukan (renewable resources) sebagai biomass berlignoselulosa. Bahan berlignoselulosa sebagian besar terdiri dari campuran polimer karbohidrat (selulosa dan hemiselulosa), lignin, ekstraktif, dan abu.

Bambu adalah satu sember biomasa yang memiliki potensi sebagai sumber energi. Secara tradisional bambu telah banyak dipakai sebagai bahan bangunan daerah tropis maupun sub tropis. Secara luas penggunaan bambu digunakan untuk keperluan industri baik kertas, kayu lapis, kerajinan, kesenian dan bahan makanan. Pemanfaatan bambu sebagai bahan energi hanya sebatas pada proses pembakaran langsung, padahal apabila kita melihat penggunaanya di lapangan masih jarang dimanfaatkan lignoselusonya.

Pengembangan bioenergi seperti bioetanol dari biomassa sebagai sumber bahan baku yang dapat

diperbarui merupakan satu alternatif yang memiliki nilai positif dari aspek sosial dan lingkungan Etanol yang mempunyai rumus kimia C2H5OH adalah zat organik dalam kelompok alkohol dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Pada umumnya etanol diproduksi dengan cara fermentasi dengan bantuan mikroorganisme oleh karenanya sering disebut sebagai bioetanol.

Dengan penggunaan bioteknologi dimanfaatkan menjadi produk yang mempunyai nilai tambah (added value). Bambu yang termasuk biomassa mengandung lignoselulosa sangat dimungkinkan untuk dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif seperti bioetanol atau biogas. Dengan pemanfaatan sumber daya alam terbarukan dapat mengatasi krisis energi terutama sektor migas.

 

 

 

Grafting of acrylonitrile onto cellulosic material derived from bamboo (Dendrocalamus strictus)

R. Khullarl, V. K.Varshneyl*, S. Naithani, P. L. Sonil

Pencangkokan atau okulasi kopolimerisasi dari selulosa adalah proses penggabungan polimer sintetik dengan selulosa, untuk menghasilkan materi yang memiliki sifat-sifat terbaik dari kedua senyawa tersebut, seperti:

  • Karakter hidrofilik dan hidrofibik
  • Memperbaiki keelastisitasnya
  • Penyerapan air, dan
  • Kemampuan pertukaran ion dan tahan terhadap panas

Bahan yang digunakan dalam proses okulasi ini adalah bambu (Dendrocalamus strictus), Ceric Ammonium Nitrate (CAN), asam nitrat, toluena, dan dimetil formamide tanpa pemurnian. Tahapan pemurnian akrilonitril pada selulosa yang terdapat di dalam bambu dilakukan dengan cara mengekstrasi selulosa dengan larutan natrium hidroksida 7% kemudian dicuci dan dibilas air destilata beberapa kali, dikeringkan di atas anhydrous kalsium klorida dan beri air destilata kembali. Tahap okulasi dilakukan dengan merendam 1 gr selulosa dalam 30 ml larutan CAN (0,01-0,02 M) selama 0,5-2 jam, kemudian tambahkan campuran larutan toluena 20 ml dan akrilonitril 12,3-30,7 mol/agu, aduk dengan pengaduk magnetik, lalu bersihkan dengan air destilata dan methanol kemudian disaring, keringkan ke dalam oven dengan suhu 50°C selama 4 hari, ekstrak dengan dimethyl formahide selama 48 jam, lalu hitung persentase hasil okulasi (%G) dan efiesiensi persen okulasi (%GE).

Hasil yang diperoleh dari proses okulasi, penggunaan toluena pada proses okulasi akrilonitril dengan kapas selulosa memberikan kualitas okulasi yang tinggi dan penggunaan toluena menghambat difusi CAN pada serat, dengan demikian mengurangi pembentukan homopolimer dan dalam larutan serta meningkatkan ketersediaan akrilonitril. Hubungan antara waktu dengan %G dan %GE adalah peningkatan %G dan %GE yang drastis dalam waktu satu jam. Hubungan antara temperature dengan %G dan %GE adalah persentase hasil okulasi maksimum (174,8%) pada saat temperaturnya sebesar 40°C setelah itu pelahan cenderung menurun dan hubungan antara waktu polimerisasi terhadap %G dan %GE yaitu nilai persentase hasil okulasi akan naik drastis dalam kurun waktu 4 jam dan akan terus naik.

Syarat-syarat untuk mengokulasi akrilonitril pada materi selulosa agar mendapat hasil yang optimal:

  • Butuh Waktu 1 jam untuk memasukkan selulosa ke dalam larutan Ceric Ammonium Nitrate.
  • Konsentrasi larutan CAN yaitu 0,02M.
  • Konsentrasi akrilonitril 24,6 mol / agu.
  • Dengan temperatur 40oC dan waktu polimerisasinya selama 4jam.
  • Sampel optimal %G sebesar 210.3 % dan % GE sebesar 97%.

Oleh:

Dita Amilya E24100048 Arif Rahmatullah  E24100062 Helga  Dara Dwin Kharisma E24100092 Siti Maryam Subandi E24100094.

LIGNIN DEGRADATION IN WOOD-FEEDING INSECTS

LIGNIN DEGRADATION IN WOOD-FEEDING INSECTS
Geib SM, Filley TR, Hatcher PG, Hoover K, Carlson JE, Maria del MJG, Nakagawa-Izumi, Sleighter RL, dan Ming Tien

Pembahasan oleh: Dwi Kresnoadi, Qisthya Octa, Wihdatul Sa’adah, dan Ahmad Alkadri

Lignin adalah polimer non-struktural alami yang dapat ditemukan pada setiap jenis kayu, berfungsi dalam mengikat selulosa dan memberikan bentuk serta kekuatan bagi kayu. Sebagaimana kita ketahui, terdapat spesies-spesies serangga di alam yang mengkonsumsi kayu sebagai bahan utamanya. Sebagian besar dari mereka diketahui mencerna selulosa secara spesifik guna memperoleh energi mereka. Namun, dalam degradasi lignoselulosa kayu yang mereka makan, berbeda dengan selulosa, lignin masih belum diketahui dengan jelas proses lanjutan yang menimpanya. Apakah dia mengalami degradasi sebagaimana selulosa, ataukah tidak? Jika ya, maka bagaimana proses degradasinya?

Untuk mengetahuinya, dilakukan analisis terhadap isi perut dua jenis serangga pemakan kayu, yaitu Anoplophora glabripennis, yang memakan kayu yang masih sehat, serta Zootermopsis angusticollis, yang memakan kayu yang sudah mati. Analisis dilakukan dengan menggunakan C-TMAH dan Kromatografi. Setelah itu, dilakukan pula tes DNA terhadap isi perut tersebut, untuk mencari kehadiran organisme lain yang mungkin bisa berkontribusi dalam pendegradasian lignoselulosa, dalam hal ini lignin. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa lignin terdegradasi melalui proses oksidasi rantai samping, hidroksilasi, dan demetilasi oleh enzim-enzim yang disekresi oleh kompleks jamur yang terdapat di dalam perut serangga tersebut. C-TMAH membuktikan kehadiran tiga produk hasil degradasi lignin tersebut, begitu pula dari Kromatografi. Hal ini menunjukkan bahwa lignin benar-benar terdegradasi dalam perut serangga pemakan kayu.

Karakteristik Reaksi Lignin dalam Cairan Ionik; Gliserol Jenis Enol-Eter sebagai Produk Dekomposisi Primer Model Senyawa β-O-4

Karakteristik Reaksi Lignin dalam Cairan Ionik; Gliserol Jenis Enol-Eter sebagai Produk Dekomposisi Primer Model Senyawa β-O-4

Lignoselulosa (polimer karbohidrat) terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Lignin merupakan Struktur polimer yang kurang dipahami karena sifat kimianya yang kompleks. Ada 2 metode yang dilakukan dalam isolasi lignin yaitu MWL (milled wood lignin) dimana MWL terutama diambil dari lamela tengah karena  lignin total berada pada daerah tersebut, dan EMAL (enzymatic mild acidolysis) dimana metode ini dapat mencapai hasil yang tinggi dan persiapan kemurnian yang tinggi pula. EMAL memiliki potensi untuk menjadi metode yang baik untuk persiapan lignin.