Category Archives: Pertanian

Curcuma, Harta Karun Asia

Genus Curcuma merupkan anggota famili zingiberaceae yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Asia, khususnya Indonesia. Tanaman ini tersebar secara alami mulai dari Asia Selatan, Asia tnggara, Asia Timur hingga Australia. Di Indonesia, tanaman ini lebih dikenal dengan sebutan tanaman temu-temuan atau empon empon. Sebagai contoh tanaman genus Curcuma adalah kunyit, temu lawak, temu ireng, temu mangga, temu kunci dan lain-lain.  berasal dari bahasa Arab yaitu “Kurkum” yang berarti berwarna kuning. Penggunaan kata Curcuma untuk pertama kali digunakan oleh oleh Linnaeus dalam bukunya yang berjudul Species Plantarum. Anggota genus Curcuma dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional, rempah, tanaman hias, industri kosmetik dan farmasi.

Tanaman genus Curcuma memiliki habitus berbatang semu, bentuk daun lanceolate, dan memiliki rimpang yang berkembang di bawah permukaan tanah. Tanaman genus ini berbunga setelah 6 hingga 8 bulan setelah tanam, namun beberapa penelitian menunjukan bunga tanaman genus Curcuma  seringkali mengalami gagal berbiji karena disebabkan oleh sterilnya putik atau benang sari. Karena keindahan bunganya beberapa species tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai bunga potong.

Temu Hitam Pictures from jurnal

Dibalik Varietas IPB 3s dan 4s

Beberapa pekan yang lalu, media tanah air baik surat kabar maupun media online diramaikan dengan berita kunjungan Presiden Joko Widodo ke Desa Cikarang, Kecamatan Cilamaya Wetan Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kedatangan Jokowi untuk menyaksikan panen raya padi varietas baru, yaitu IPB 3S dan IPB 4S. Bahkan di akun twitternya beliau menggunggah foto beliau bersama dengan pemulia dari IPB.

Slide2
Dari kiri ke kanan Bapak Dr. Hajrial Aswidinnoor, Presiden Joko Widodo, Dr. Sugianta, dan Dr. Ernan Rustandi

Hadir pula Menteri ‎Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Desa PDT dan Transmigrasi Marwan Jafar, dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki. Presiden yang didampingi Ibu Negara Iriana Widodo mengungkapkan, bibit varietas itu baru diujicobakan di lahan 500 hektare. Setelah itu langsung akan ditanam di lahan 100 ribu hektare‎.

Para pemulia tanaman jenis padi unggul tersebut dipimpin oleh Dr. Hajrial Aswidinnoor dengan anggota Willy Bayuardi S., Desta Wirnas, dan Yudiwanti WE Kusumo. Sementara, terlibat pula para peneliti yaitu Toni Eka Putra, Sutardi, Titiek Ismaryati, Asep Suryana, Said Gatta, Winda Halimah, Deni Hamdan Permana, Sumiyati, Baehaki, dan Triny S Kadir.

Bibit padi IPB 3S adalah jenis padi yang cocok ditanm di sawah tadah hujan dan lahan irigasi. Jenis padi ini memiliki produktivitas 7 ton per hektare (ha) dan berpotensi menghasilkan 11,2 s.d 14 ton per ha. Sama halnya dengan IPB 3S, IPB 4S juga baik dibudidayakan di lahan sawah tadah hujan dan lahan irigasi dengan produktivitas 7 ton dan berpotensi menghasilkan 10,5 ton per ha. Baik IPB 3S dan IPB 4S memiliki ketahanan terhadap tungro, agak tahan terhadap penyakit blast, dan agak tahan terhadap hawar daun bakteri.

Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang sebelumnya IPB telah memperkenalkan varietas tersebut dengan mengadakan International Seminar and Launching Varieties Agriculture Adaptation di IPB International Convention Center (IICC), yang dihadiri petani dari Cianjur, Karawang, desa lingkar kampus, serta pakar di bidang pertanian baik dalam maupun luar negeri.

Slide1
Judul penelitian dan karya ilmiah Pak Hajrial yang terekam dalam googlescholar

Atas prestasi membanggakan tersebut Bapak Hajrial Aswidinnoor pada tanggal 9 Desember 2014 yang lalu menperoleh Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) 2014 dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kategori Pemulia Varietas Tanaman. Dalam ajang ini, Pak Hajrial dan timnya memperoleh penghargaan sebesar Rp 250.000.000.

Setidaknya ada delapan varietas padi unggul yang beliau dan tim kembangkan selain dari IPB 3S dan 4S yaitu IPB 1R Dadahup, IPB 2R Bakumpai, IPB BATOLA 5R, IPB BATOLA 6R, INPARA IPB KAPUAS 7R, INPAGO IPB 8G. Padi unggul yang dikembangkan beragam, mulai dari padi rawa, padi sawah irigasi, padi lahan pasang surut hingga padi gogo.

Sebagai gambarann jenis IPB Batola 5R diperuntukan bagi lahan pasang surut dan lebak. Padi jenis ini memiliki produktivitas 4.3 ton per ha dan berpotensi menghasilkan 5,3 ton per ha Gabah Kering Giling (GKG). Kemudian, jenis IPB Batola 6R memiliki produktivitas 4,2 ton per ha dan berpotensi menghasilkan 4.9 ton per ha GKG.

Terakhir, jenis IPB Kapuas 7R merupakan varietas unggul padi bagi daerah rawa. Jenis padi ini berhasil mendapatkan SK dari Kementan 7 Juli 2012 dengan produktivitas 4,5 ton per ha dan berpotensi menghasilkan 5,1 ton ha GKG. Varietas ini tahan terhadap penyakit blast, agak peka pada wereng batang coklat, tahan cekaman Al dan Fe, serta tahan cekaman Menurut beliau khusus untuk varietas lahan pasang surut atau rawa (Batola 5R, Batola 6R dan Kapuas 7R), berasal dari hasil penyilangan padi siam dengan padi lainnya. Ini karena kebanyakan masyarakat Kalimantan (yang memiliki lahan pasang surut) lebih menyukai beras dengan bentuk lonjong seperti padi siam. Diharapkan dengan penampakan dan rasa yang mirip serta produktivitas yang lebih tinggi, varietas ini bisa diterima oleh masyarakat

Dengan peluncuran kelima varietas ini, IPB telah melepas 24 varietas unggul sejak 2010. Ke-24 varietas itu adalah tujuh varietas padi, lima varietas pepaya, lima varietas melon, tiga varietas cabai, satu varietas kentang, satu varietas alpukat, satu varietas pisang, dan satu varietas nanas. Kandidat varietas lain yang juga akan diluncurkan, yakni cabai, kedelai hitam, kedelai tahan tanah asam, kedelai gogo, dan padi tahan tanah asam.

Hal yang patut kita renungkan sebagai seorang peneliti dan akademisi adalah pernyataan yang diungkapkan oleh Pak Hajrial yaitu “ Permasalahan bahwa masih sedikit hasil penelitian yang dimanfaatkan masyarakat dan industri salah satu penyebabnya adalah akibat timbal balik dari keunggulan dan kemutakhiran hasil penelitian kita dibanding yang dihasilkan peneliti kompetitor. Selain itu, alih-alih mendanai penelitian terapan yang bersifat demand driven dan berjangka lebih pendek, Hajrial rasa sepatutnya pemerintah lebih memperhatikan penelitian jangka panjang yang hasilnya kelak bisa menjadi trend-setter baru dalam peradaban umat manusia”.

HARI PANGAN SEDUNIA : Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Hari Pangan Sedunia : Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia.

Hari Pangan Sedunia (HPS) mulai diperingati setiap tahunnya sejak organisasi pangan sedunia (Food and Agricultura Organization/FAO) menetapkannya melalui Resolusi PBB No. 1/1979 di Roma Italia. Dipilihnya tanggal 16 Oktober karena bertepatan dengan terbentuknya FAO. Maka sejak saat itu disepakati bahwa mulai tahun 1981, seluruh negara anggota FAO termasuk di dalamnya Indonesia memperingati hari pangan sedunia secara Nasional pada setiap tahun.  Tahun 2015 ini penyelenggara pameran hari pangan sedunia ke-35 adalah Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang akan dilaksanakan di Jakabaring Sport Center Palembang Sumatera Selatan. Sedangkan di tingkat Internasional akan dilaksanakan di Milan Italia.

header
Hari pangan sedunia di Indonesia akan dilaksanakan di Jakabaring Sport Center Palembang Sumatera Selatan (Sumber : neodamail.blogspot.co.id)

Seberapa pentingkah penyelenggaraan HPS bagi indonesia? Sangat penting. Penyelenggaraan HPS di Indonesia dapat dijadikan momentum bagi bangsa kita dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dan para stakeholder terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun untuk dunia. Kebutuhan akan pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi setiap saat sebagaimana kebutuhan sandang dan papan. Kebutuhan akan pangan merupakan salah satu hak azasi manusiasebagaimana tercermin dalam UUD 1945 dan Deklarasi Roma tahun 1996.

Dalam memperingati HPS tentunya kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan istilah pangan. Pengertian pangan menurut UU No 18/ 2012 tentang pangan  dan  PP Nomor 28/2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.

Dilihat dari pengertian pangan di atas saja kita bisa melihat bahwa betapa pentingnya pangan untuk kita. Tentunya bukan hanya sekedar pangan, namun pangan yang memiliki nilai gizi. Sehingga pangan dan gizi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Bayangkan tanpa ada pangan yang terhidang di atas meja dan piring kita, baik itu berupa makanan dan minuman, pertumbuhan dan perkembangan tubuh kita akan menjadi terhambat atau kekurangan gizi. Ketiadaan pangan dalam jangka waktu yang lama secara tidak langsung akan meningkatkan tingkat kejahatan di masyarakat. Bukankah perut yang kosong lebih mendekatkan seseorang dengan niat jahat dan kejahatan ?

Ketahanan pangan atau kedaulatan pangan ?

Pengertian ketahanan pangan, tidak lepas dari UU No. 18/2012 tentang Pangan. Disebutkan dalam UU tersebut bahwa ketahanan pangan adalah “kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.

Untuk menjamin ketahanan pangan negaranya, Pemerintah Indonesia telah mengalami ketergantungan impor pangan yang sangat mengkhawatirkan. Impor komoditas serealia (gandum, beras, kedelai, dan jagung) meningkat 61% pada tahun 2011-2013 dibandingkan tahun 2007-2009 (Food Outlook, FAO 2010- 2013). Persentase gandum sebagai bahan pangan pokok yang 14 tahun lalu sekitar 7,66% (2001) meningkat menjadi lebih dari 15%. Hal ini akan bertambah buruk karena gandum secara agronomi belum menjadi tanaman budidaya di Indonesia. Tidak hanya bahan pangan pokok, ketergantungan impor kita terhadap belasan jenis pangan lainnya dari bawang hingga daging sapi perlahan-lahan juga mulai meningkat.

Dengan potensi sumber daya alam yang cukup besar, sumber daya manusia yang unggul serta kearifan lokal yang bermartabat, memang sebaiknya pemenuhan kebutuhan pangan bagi rakyat Indonesia  bukan hanya sekedar tersedianya pangan yang cukup jumlahnya, namun lebih jauh negara dan bangsa diharapkan memiliki kemampuan menentukan kebijakan pangan yang menumbuhkan kemandirian terhadap pemenuhan kebutuhan akan pangan. Itulah kedaulatan pangan. Apabila ketahanan pangan hanya sebatas kegiatan pengadaan/pemenuhan stok pangan, sistem ekonomi, dan kegiatan ekspor impor, kemadirian pangan  menekankan kemampuan menghasilkan produksi pangan yang beraneka jenis sesuai dengan kearifan lokal, maka kedaulatan pangan berbicara hak bangsa dan negara menentukan kebijakan pangan demi menjamin hak atas pangan bagi rakyatnya.

Saat ini pemerintah melalui kementerian pertanian mentargetkan swasembada pangan di tahun 2017 untuk mencapai kedaulatan pangan meliputi swasembada beras, jagung, kedelai, gula, dan daging. Target tersebut memacu semakin meningkatnya kinerja stakeholder bidang pertanian guna mencapai target tersebut. Petani sebagi bagian dari pelaku pertanian memegang peranan sangat penting dalam setiap kegiatan produksi pangan. Petani telah berjuang mulai dari penyediaan benih, penanaman, pemeliharaan, dan saat pemanenan produksi pertanian. Sehingga apabila swasembada ini ingin dicapai tidak akan lepas dari peran petani sebagai pelaku utama penyedia pangan dan gizi bangsa kita.

Apa kabar petani hari ini ?

Data statistik tahun 2014 menunjukan bahwa tingkat partisipasi petani dalam berbagai sektor pertanian sangat tinggi, diantaranya usaha kehutanan (±6 juta rumah tangga), perikanan (±1 juta rumah tangga), hortikultura (±10 juta rumah tangga), palawija (±8 juta rumah tangga), perkebunan (±12 juta rumah tangga), dan peternakan (±12 juta rumah tangga) (BPS 2013). Walaupun angka partisipasi rumah tangga di sektor pertanian cukup tinggi, Kementerian Pertanian mencatat telah terjadi penurunan jumlah petani sebesar 500.000 orang. Permasalahan ini ditengarai disebabkan oleh semakin sulitnya mendapatkan benih, harga pupuk yang mahal, saluran irigasi yang belum merata di beberapa daerah serta tingkat resiko kerugian yang cukup tinggi apabila terjadi gagal panen. Kondisi ini diperparah dengan angkatan muda petani yang diharapkan melanjutkan jejak pertanian malah memilih pekerjaan lain di kota.rumah tangga petaniDi sisi lain jumlah kemiskinan di Indonesia bertambah selama setahun terakhir. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan, yakni Rp. 330.776,- per bulan.) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang atau 11,22 persen dari jumlah penduduk. Menurut data dari Serikat Petani Indonesia (SPI) 17,94 juta orang diantaranya penduduk miskin yang tinggal di perdesaan dan 10,65 juta orang tinggal di perkotaan. Jadi ini artinya penduduk desa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani tingkat kemiskinannya lebih tinggi dibanding penduduk di perkotaan.

penduduk_miskin
Sumber : http://www.spi.or.id

Tahun ini petani menghadapi tantangan lain yakni datangnya musim kemarau lebih awal dan diprediksi akan panjang. Kemarau yang terjadi mengakibatkan kekeringan di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau yang datang lebih awal dan diprediksi berlangsung hingga Februari 2016 ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino di Samudera Pasifik. Kekeringan ini menyebabkan sumber air dan irigasi mengering, petani mengalami panen lebih dini, penurunan hasil panen dan bahkan sampai terjadi gagal panen.

150721112936_draught_640x360_gettyimages
Kekeringan melanda di beberapa daerah di Indonesia

Permasalahan agraria yang tidak pernah selesai bahkan sejak dikeluarkannya UU Pokok Agraria 1960 yang merupakan payung hukum hak atas tanah. Walaupun ikut dikuatkan oleh Keppres No. 163 tahun 1963 yang dikeluarkan oleh Presiden RI Soekarno. Hingga Hari Tani Nasional yang mana pada tanggal 24 September lalu kita peringati bersama permasalahan agraria seolah tak pernah selesai. Harapan tertuju pada salah satu prioritas Nawacita, program pemerintahan Presiden Joko Widodo. Nawacita menyatakan akan meredistribusi 9 juta hektar tanah di seluruh Indonesia, plus berbagai program terkait perbaikan hak atas air (terutama irigasi), pembangunan desa berdaulat benih dan desa organik.

Dalam upaya peningkatan swasembada pangan petani kita masih akan terus berhadapan dengan berbagai tantangan yang meliputi; defisit lahan pertanian produktif akibat konversi lahan yang makin meningkat, kepemilikan lahan petani yang sempit, perubahan iklim, bencana alam, dan gejolak perubahan ekonomi global. Walaupun berbagai macam kurang mendukung namun petani sampai hari ini masih terus bekerja. Menanam benih, memeliharanya dengan sepenuh hati dengan harapan hingga saatnya waktu panen tiba petani mampu meraih jumlah panen yang memuaskan, petani pejuang pangan dan gizi bangsaku.

Petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku

Menurut data statistik tahun 2013 yang disarikan oleh harian Republika, produksi komoditas pangan strategis dalam empat tahun terakhir umumnya menunjukkan kinerja yang sngat baik. Terjadi peningkatan produksi padi dengan rata-rata 2,6 persen per tahun dari 64,4 juta ton gabah kering giling (GKG) tahun 2009 menjadi 71,29 juta ton GKG pada 2013. Sejalan dengan produksi padi, produksi jagung juga tak mau kalah meningkat rata-rata 1,39 persen per tahun dari 17,63 juta ton jagung pipilan kering tahun 2009 menjadi 18,51 juta ton tahun 2013. Komoditas kedelai yang paling terpengaruh oleh stabilitas harga impor produktivitasnya juga meningkat 1,39 persen per tahun.

Pangan DuniaKomoditas pangan strategis lainnya yang mengalami peningkatan adalah tebu. Peningkatan rata-rata sebesar 1,48 persen dari 17,22 juta ton tahun 2009 menjadi 19,67 juta ton tahun 2013. Produksi daging sapi juga mengalami peningkatan rata-rata 7,49 persen per tahun namun banyaknya permintaan menyebabkan kelangkaan daging khususnya pada bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Dari pemaparan di atas kita sudah bisa melihat bahwa dari tangan petanilah dihasilkan berbagai macam komoditas pangan, baik sayuran dan buah-buahan, garam, daging dan ikan  serta bahan lainnya yang tentunya mengandung elemen-elemen yang bermanfaat untuk perkembangan dan pertumbuhan kita serta anak-anak kita. Tanpa petani yang berjuang di sawah, ladang, kebun, laut dan hutan komoditas-kompditas pangan tersebut tak akan hadir di meja makan kita. Kita ucapkan terima kasih kepada petani Indonesia yang telah bercucuran keringat, bekerja dengan ikhlas dan penuh semangat. Bangsa ini berhutang budi padamu petani.  Petani hidup dan mati bangsaku.

Adi Setiadi

1508100_497958296975600_1581649878_n

Sumber pustaka :

[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.2015. Update Prakiraan Musim Kemarau 2015 di indonesia. http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Informasi_Iklim/Prakiraan_Iklim/Prakiraan_Musim.bmkg

[BPS] Badan Pusat Statisti. 2015. Sensus Pertanian 2013. http://st2013.bps.go.id/dev2/index.php%5BFAO%5D Food and Agricultural Organization. 2015. Food and Nutrition Number. http://www.fao.org/statistics/en/

[FAO] Food and Agricultural Organization. 2013. Food Outlock. http://www.fao.org/docrep/019/i3473e/i3473e.pdf

Rahman T. 2015. Swasembada Kedelai bisakah diwujudkan tahun 2017. http://www.republika.co.id/berita/kementan/berita-kementan/15/09/25/nv81q5219-swasembada-kedelai-bisakah-diwujudkan-2017

Saragih H. 2015. Kemiskinan di desa meningkat redistribusi lahan semakin mendesak. http://www.spi.or.id/kemiskinan-di-desa-meningkat-redistribusi-lahan-semakin-mendesak/

Ruslan A. 2015. Swasembada pangan 5 komoditi di indonesia Haruskah Semua. http://www.academia.edu/7412593/Swasembada_pangan_5_komoditi_di_Indonesia_haruskah_semuanya

[SPI] Serikat Petani Indonesia. 1015. Kedaulatan pangan. http://www.spi.or.id/isu-utama/kedaulatan-pangan/

Jamu cekok, warisan budaya untuk buah hati

Bagi ayah bunda yang memiliki buah hati berusia 1-3 tahun atau usia pra sekolah pasti dihadapkan dengan kondisi anak yang enggan untuk makan, pilih-pilih makanan yang disukai, dan suit makan. Kondisi ini dikenal dengan food jag. Apabila gekala ini hanya sementara tentunya ini wajar dan seiring dengan waktu anak akan memiliki kebiasaan makan seperti biasanya.  Apabila gejala ini berkepanjangan maka ayah bunda harus waspada karena gejala ini dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan kemampuan intelektual. Anak -anak yang kehilangan nafsu makan seringkali menunjukan gejala sering menangis, muka pucat dan demam. Atau apabila tidak ditangani dengan baik akan muncul penyakit turunan lainnya seperti busung lapar, atau defisiensi terhadap kandungan gizi tertentu.

Hingga saat ini masyarakat tradisional di negara-negara berkembang masih mengandalkan pengobatan tradisional untuk menghadapi permasalahan tersebut dengan pergi ke ahli pengobatan tradisional. Tentunya diberikan resep tradsional pula. Masyarakat pulau jawa menggunakan jamu (herbal drug)  sebagai resep/ramuan tradisional. Bahkan masyarakat Indonesia telah menjadikan jamu sebagai minuman kesehatan yang digolongkan ke dalam ramuan tradisional alami karena menggunakan bahan-bahan alami seperti tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat.

Sebenarnya apa perbedaan antara obat tradisional dengan ramuan tradisional ?

Definisi obat tradisional menurut Undang-undang Kesehatan No 21 Tahun 1992 adalah bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral sediaan sarian (galenik) atau campuran bahan-bahan tersebut secara turun temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. sedangkan pengobatan tradisional menurut WHO tahun 1996 obat tradisional adalah upaya menjaga dan memperbaiki kesehatan dengan cara-cara yang telah ada sebelum pengobatan modern yang meliputi pemijatan tumbuh-tumbuhan ramuan berbahan dasar tumbuh-tumbuhan, kompres dan parem.

Bagi saya yang tinggal di pulau Jawa pun, ketika berusia pra sekolah mengalami gejala kurang nafsu makan dan sulit makan menggunakan jamu cekok. Jamu cekok mengacu kepada cara atau metode pemberian jamu yaitu dicekokan ke dalam mulut anak. Pertama-tama ramuan jamu yang berasal dari bagian tumbuhan dihaluskan dan diberikan sedikit air. Ditempatkan pada selembar kain kecil seperti sapu tangan kemudian dibungkus. Selanjutnya hidung anak dipencet hingga mulutnya terbuka dengan sendirinya. Ramuan yang telah kita persiapkan diperas di mulut sehingga cairannya tertelan ke dalam mulut. Karena rasanya yang pahit getir hampir semua anak menolak ketika dicekok, termasuk saya. 🙂

flickr
Proses pencekokan pada anak. Sumber : flickr.com

Jamu cekok dipercaya memiliki khasiat untuk meningkatkan nafsu makan anak, sekaligus membunuh cacing pengganggu dalam tubuh anak yang dengan bebasnya menyerap sari-sari makanan. Bagaimana jamu cekok dapat menambah nafsu makan ? Secara umum proses kerja jamu tersebut adalah meningkatkan metabolisme, menekan dan menghambat asam lambung dan merangsang sekresi makanan.

Bahan yang digunakan sebagai ramuan jamu cekok

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jamu vekok adalah kelompok empon-empon seperti temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kencur (Kaempferia galanga), jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa), temu hitam (Curcuma aeruginosa) dan lempuyang putih (Zingiber americans). Selain itu ditambahkan bahan lain seperti sambiloto (Andrographis paniculata), brotowali (Tinospora tuberculata), kapulaga (Amomum cardamomum), Adas (Foeniculum vulgare) dan daun pepaya (Carica papaya). Dari komposisinya saja kita sudah cukup mampu menduga betapa pahitnya ramuan tersebut. Oleh karena itu biasanya jamu cekok yang diberikan dengan cara dicekok biasanya ampuh pada saat pertama pemberian. Setelah itu jangan harap putra/putri ayah bunda mau menegaknya lagi.  Pemaksaan kadang digunakan dalam praktek pencekokan jamu tersebut.

Apakah anda tertarik dengan membuatkan jamu cekok untuk buah hati anda yang susah makan dirumah ?

IMG_7587

Kenali dan Manfaatkan Temu Ireng Untuk Kesehatan

Penggunaan tumbuhan obat merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. Obat tradisional mudah diperoleh dan pengolahannya mampu dilakukan sendiri karena tanaman obat berasal dari kearifan lokal masyarakat. Peningkatan konsumsi tumbuhan obat berdampak terhadap naiknya produksi tanaman obat dan rempah Indonesia dari sebesar 115 ribu ton pada tahun 2012 menjadi 135 ribu ton pada tahun 2013 dengan luas panen  tanaman obat mencapai lebih dari 14 juta hektar. Terdapat sekitar 31 jenis tanaman obat di Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional/jamu, bumbu serta untuk kebutuhan ekspor dengan volume permintaan lebih dari 1.000 ton/tahun. Pasokan bahan baku tanaman obat tradisional tersebut berasal dari hasil budidaya 18 jenis termasuk temu hitamdan 13 jenis dieksploitasi secara langsung dari hutan.

Dari ratusan bahkan ribuan jenis tanaman obat, famili Zingiberaceae adalah kelompok tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional, bahkan sebagian menggunakannya sebagai bumbu dan rempah, bahan pewarna, dan sebagai insektisida alami. Bahkan dalam pemanfaatannya sebagai bahan baku obat tradisional beberapa spesies dapat digunakan sebagai anti cendawan, anti mikroba, anti bakteri,  anti oksidan, anti radang, anti tumor dan penahan rasa sakit. Kementan (2013) menyebutkan bahwa Indonesia telah memiliki 6 varietas dari famili Zingiberaceae yang telah dilepas yaitu jahe (Cimanggu 1 dan Jewot); temu lawak (Cursina 1, 2, 3 dan Bathok) dan 13 varietas yang didaftarkan yaitu Jahe (Halina 1,2, 3, 4, Jahira 1,2); Kencur (Galesia 1,2,3 dan Papan Kentala); Kunyit (Turina 1, 2, dan 3).

Temu hitam atau Curcuma aeruginosa Roxb. tersebar secara luas di Asia bagian tenggara. Nama lokal hitam di Indonesia adalah temu erang (Sumatra),  temu ireng (Jawa Tengah, Jawa Timur), temu ereng (Madura), koneng hideung (Jawa Barat), temu lotong (Sulawesi dan Nusa Tenggara) merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman obat yang tumbuh di Indonesia. Tanaman ini sudah dikenal dan dibudidayakan secara besar-besaran di negara Asia lainnya seperti Malaysia, Myanmar, dan Kamboja. Produksi temu hitam di Indonesia masih relatif rendah, berdasarkan data Kementerian Pertanian produksi rimpang temu hitam pada tahun 2014 hanya mencapai 8 ribu ton, lebih kecil bila dibandingkan dengan produksi rimpang jahe pada tahun yang sama yang mencapai lebih dari 100 ribu ton.

Temu ireng merupakan tanaman semak, memiliki rimpang, berbatang semu, tingginya kurang lebih 50 cm. Rimpangnya terletak dalam tanah dengan ukuran yang cukup besar, bercabang merata. Daun alternate, entire, tunggal, tegak, warna hijau bercak kecoklatan pada kedua permukaan terkadang dengan semburat ungu pada masing-masing sisi ibu tulang daun. Pada saat musim kemarau temu hitam akan mengalami dorman, seluruh daun akan mengering dan luruh sehingga akan memudahkan untuk panen karena  sudah cukup tua untuk dipanen.

Slide1Gambar 1 Tanaman Temu Hitam (foto koleksi pribadi)

Rimpang besar berdaging, mengerucut panjang sekitar 16 cm tebal 3 cm tidak begitu rapat, permukaan luar abu-abu dan berkilau, ujung tunas merah jambu bagian dalam kebiruan atau biru hijau dengan korteks putih. Mudah dikenal jika rimpangnya yang tua dipotong atau diiris berwarna agak kebiruan seperti warna timah. Kulit luar rimpang kuning dan berkilat ujungnya berwarna merah muda. Bagian dalam rimpang muda berwarna biru pucat dengan batang berwarna hijau. Tanaman ini dibudidayakan sebagai apotek hidup dan  tumbuh liar di hutan-hutan jati, padang rumput pada ketinggian 400-750 m dari permukaan laut.

Untuk meningkatkan produktivitas sebuah tanaman diperlukan seleksi dan pembentukan varietas sehingga dihasilkan tanaman temu hitam yang memiliki produktivitas yang cukup tinggi. Selain produktivitas yang tinggi kandungan komponen bahan aktif yang tinggi merupakan salah satu parameter seleksi yang perlu dipertimbangkan.

Slide2

Gambar 2 Teknologi kultur jaringan tanaman menjadi solusi dalam menghasilkan propagula yang bermutu.

Penggunaan bioteknologi khususnya teknologi kultur jaringan tanaman dalam perbanyakan tanaman telah banyak digunakan di negara dengan pertanian yang cukup maju. Kultur jaringan adalah suatu teknik mengisolasi bagian dari tanaman baik berupa sel, jaringan maupun organ yang ditumbuhkan secara aseptik dengan lingkungan dan unsur hara yang terkendali hingga terbentuk individu baru. Penggunaan teknologi kultur jaringan tanaman dinilai mampu menghasilkan propagula bermutu dengan jumlah yang cukup banyak dalam waktu yang relatif lebih singkat bila dibandingkan dengan metode konvensional. Selain itu bibit yang dihasilkan relatif lebih seragam dan sifat unggul tanaman bisa dipertahankan. Tanaman temu hitam telah berhasil diperbanyak melalui kultur jaringan. Balai penelitian tanaman obat (BALITRO) melaporkan bahwa dengan penambahan zat pengatur tumbuh tanaman pada media kultur jaringan mampu menghasilkan sediaan bibit tanaman temu hitam dengan tingkat multiplikasi yang cukup tinggi dan telah berhasil hingga proses aklimatisasi di greenhouse dan lahan terbuka.

Rimpang temu hitam mengandung senyawa-senyawa aktif seperti saponin, flavonoid, polifenol, minyak atsiri khususnya 1.8 sineol, dan glukan. Penelitian fitokimia pada rimpang temu hitam menginformasikan terdapat tiga golongan sesquiterpen, yang diidentifikasi sebagai zedoarol, curcumenol, dan isocurcumenol. Selain itu aeruginon dan curcuminon telah berhasil diidentifikasi diidentifikasi sebagai senyawa penciri temu hitam.

Di Indonesia sebenarnya rimpang temu hitam telah digunakan sebagai bahan baku jamu gendong, yaitu ramuan cabe puyang yang berkhasiat mengobati penyakit rematik. Resepnya sangat mudah hanya menambahkan temu hitam dengan kunyit, kencur, temulawak, kayu manis, jeruk nipis, dan asam jawa. Pemanfaatan temu hitam pun cukup melegenda dan digunakan secara turun temurun oleh orang tua kita dalam mengatasi menurunnya nafsu makan anak-anak yang disebabkan oleh penyakit cacingan. Dikenal dengan nama jamu cekok. Resepnya pun cukup mudah yaitu dengan menghaluskan temu hitam, brotowali dan temulawak. Selain manfaat di atas temu hitam juga telah digunakan sebagai ramuan galian, anti inflamasi, penyakit kulit, anti mikroba, anti cendawan, dan anti androgenik.

Ada banyak tanaman di sekitar kita yang belum kita ketahui baik jenis maupun manfaatnya bagi kesehatan. Dengan belajar pada kearifan lokal masyarakat kita akan mampu mengenal dan mengetahui berbagai jenis dan fungsi tanaman obat yang bisa kita gunakan sendiri untuk meningkatkan kualitas kesehatan kita dan keluarga. Kita pun akan membantu melestarikan kearifan masyarakat resep obat tradisional untuk kesehatan kita semua.