Tag Archives: Al quran

Indonesia, megadiversitas dunia

Tahukan anda sejak tahun 2002 Indonesia ditetapkan oleh World Conservation Monitoring Centre sebuah lembaga bentukan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) sebagai salah satu negara megadiversitas, yakni negara-negara dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Indonesia berkumpul bersama 17 negara lainnya diantaranya adalah negara Brazil, Republik Rakyat Tiongkok, India, Malaysia, dan Afrika Selatan.

Hutan Indonesia memiliki keragaman tumbuhan yang hanya bisa disamai oleh daerah sekitar sungai Amazon, Brazil. Lebih dari 25,000 spesies tumbuhan berbunga dapat kita temukan di negara ini, khususnya 2000 spesies tanaman anggrek yang hanya bisa kita temui di pulau Kalimantan, belum ditambah dengan pulau lainya. Hal itu berarti sebanyak ±12% populasi tumbuhan dunia dapat kita dijumpai di Indonesia.

Mengapa bisa demikian ?

Pertama, Indonesia berada di sekitar garis ekuator yaitu berada diantara 23,5°LS dan 23,5°LU dengan matahari sepanjang tahun. Karakter tumbuhan di Indonesia pun hijau sepanjang tahun (evergreen). Daerah tropis memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi bila dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub), dicirikan dengan banyaknya ekosistem unik yaitu ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air laut, ekosistem savanna, dan lain-lain.

Kedua, tumbuhan di Indonesia merupakan bagian dari geografi tumbuhan Indo-Malaya (bagian barat) dan Flora austrialis (bagian timur). Flora Inod-Malaya meliputi tumbuhan yang hidup di India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Flora yang tumbuh di Malaysia, Indonesia, dan Filipina sering disebut sebagai kelompok flora Malesiana. Hutan di daerah flora Malesiana memiliki ±248.000 species tumbuhan tinggi, yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae seperti pohon Keruing (Dipterocarpus sp), Meranti (Shorea sp), Kayu ramin (Gonystylus bancanus), dan Kayu kapur (Drybalanops aromatica). Flora autrialis di Indonesia bagian timur, tipe hutannya berbeda, mulai dari Sulawesi sampai Papua terdapat hutan Non-Dipterocarpaceae. Hutan ini memiliki pohon-pohon sedang, diantaranya beringin (Ficus sp), dan matoa (Pometia pinnata).

Sembari menikmati keanekaragaman plasma nutfah Indonesia mari kita simak ayat Suci Alqur’an di bawah ini :

20;53

Yang Telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang Telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. (20:53)

Pada ayat terakhir disebutkan bahwa “Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam”. Tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan yang bermacam-macam tersebut erat kaitannya dengan air, khususnya air hujan. (Baca tulisan saya sebelumnya : hujan, Siklus air hujan, dan Penghujan, musim yang ditunggu) Keterangan yang menyebutkan bahwa tumbuhan itu berjenis-jenis dan bermacam macam menunjukan adanya perbedaan “jenis” dan perbedaan “macam”. Artinya dalam dunia tumbuhan itu terdapat berbagai jenis dan setiap jenis tersebut terdiri dari berbagai macam perbedaan sifat. Informasi ini merupakan dasar-dasar dari ilmu klasifikasti tumbuhan.

Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan manusia telah mampu mengelompokan golongan tumbuhan. Namun bukan berarti setelah penggolongan tumbuhan-tumbuhan tersebut semuanya telah habis, masih banyak tumbuhan-tumbuhan lain yang belum masuk ke dalam penggolongan yang dibuat oleh manusia. Setiap kali diadakan eksplorasi tumbuhan ke hutan-hutan, selalu ditemukan spesies baru atau bahkan ditemukan spesies yang dapat merevisi spesies sebelumnya. Bahkan ahli genetika dan taksonomi tumbuhan pun tidak berani mencantumkan angka pasti terkait berapa jenis dan macam tumbuhan yang ada di bumi, kebanyakan mereka menentukan berdasarkan kisaran angka tertenyu yang merupakan nilai taksiran. 26.7 Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?(26:7)

Dalam ayat di atas Allah SWT mengingatkan manusia akan kebesaran, kekuasaan dan kekuatan qudrat iradatNya. Untuk mengetahui kebesaran dan kekuasaanNya Allah SWT memerintahkan kita untuk memperhatikan bumi dengan bermacam-macam tumbuhan yang tumbuh di permukaannya. Kata “memperhatikan”tentunya tidak cukup hanya dengan melihat saja namun termasuk mempelajarinya. Kalau kita diberikan tugas untuk mempelajari itu semua tentunya itu merupakan tugas yang teramat berat. Walau telah dipelajari dari generasi ke generasi namun saya melihat tidak akan pernah ada habisnya. Dunia tumbuhan merupakan salah satu lautan ilmu yang sangat luas dan hanya dikuasai oleh Allah SWT. Kalau kita perhatikan dengan cara seksama, maka kita akan semakin mengagumi akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Wallahu’alam

Penghujan, musim yang ditunggu

Musim hujan adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap orang. Setelah bergelut dengan cuaca panas dan debu selama musim kemarau, turunnya air hujan akan mendatangkan suasana lebih sejuk dan bersih. Air hujan yang turun menyapu debu yang ada di permukaan daun, atap rumah, dan jalanan. Turunnya hujan mengisi sumur-sumur, sungai dan danau yang dangkal atau kering selama musim kemarau. Selain itu tanah yang tandus dan gersang menjadi subur sehingga ditumbuhi tanaman hijau.

Dari berbagai sumber air yang telah terisi penuh dengan kehadiran air hujan maka lahirlah berbagai teknis pengairan. Betapa pentingnya air untuk pertumbuhan tanaman manusia berusaha mengembangkan teknologi agar tanaman selalu mendapatkan air. Tanaman yang paling banyak memerlukan air adalah tanaman padi sawah, apalagi beras adalah makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Berdasarkan sistem pengairannya pengairan sawah dibedakan menjadi tiga yaitu : sawah berpengairan teknis (mendapatkan air sepanjang tahun), sawah berpengairan setengah teknis (kekurangan air saat musim kemarau) dan sawah tadah hujan (tergantung sepenuhnya pada hujan).

Tentunya bagi petani yang memiliki ladang, pengairan dengan hujan akan dirasakan berbeda dengan apabila kita melakukan penyiraman secara manual. Saya memiliki sebuah ladang penelitian, saat musim kemarau sebulan yang lalu harus melakukan penyiraman secara manual. Hasilnya berbeda dengan penyiraman menggunakan air huja. Air yang kita siramkan pada pagi hari seberapa banyak pun akan cepat teruapkan oleh panasnya sinar matahari saat siang datang dan menjelang sore. Namun apabila hujan datang, seberapa panas pun udara saat itu kandungan air pada tanah cenderung lebih lambat mengalami penguapan.

Di dalam al-Qur’an manfaat hujan Allah sampaikan pada surat Yunus : 24 dan An- Nahl 10-11;

yunus 24Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya Karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu Telah Sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di waktu malam atau siang, lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang berfikir (QS Yunus 24).

Annahl 1011Dia-lah, yang Telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan (An-Nahl 10-11).

Dalam kedua ayat di atas telah dengan jelas disebutkan bahwa dengan air hujan maka kita dapat memanfaatkan air tanah sebagai minuman dan menumbuhkan tanaman yang kita tanam di tanah tumbuh dengan subur. Karena air tersebut maka tanaman yang tumbuh dapat dimanfaatkan oleh manusia dan binatang ternak. Selain itu ditumbuhkannya berbagai macam tumbuhan baik itu tanaman sayuran maupun buah-buahan.

Begitulah Allah SWT memberikan karunia-Nya kepada kita semua, kewajiban kita semua mensyukuri dengan apa yang telah kita ambil manfaatnya. Kita harus menyadari bahwa hujan adalah rahmat Allah yang sangat besar oleh karena itu ketika datang hujan bersyukur dan perbanyaklah berdoa, seringkali kita lupa dan akhirnya kita terjebak, menggerutu ketika datang hujan dengan alasan yang bermacam-macam seperti pakaian yang tidak kering, sulit untuk beraktivitas saat hujan ataupun seribu alasan lainnya.

Kita harus ingat bahwa Allah memiliki kuasa untuk untuk menurunkan azab baik siang maupun malam sehingga disebutkan dalam ayat tersebut “ lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Dan lagi-lagi Allah SWT menyeru kita untuk terus berfikir, menganalisa atas apa-apa yang terjadi di alam semesta ini, termasuk hujan. Wallahu’alam.

HUJAN

Bogor telah menunjukan wujud aslinya sebagai kota hujan. Dalam beberapa hari ini hujan turun dengan lebat, membuat tanah yang selama ini kering dan tandus kini menjadi basah dan subur kembali. Kita sudah menantikan musim hujan ini sejak beberapa bulan yang lalu, saat musim kemarau panjang dan panas meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kita semua dibuat bingung dengan siklus curah hujan tahun ini. Saya terbiasa menandai musim hujan dengan melihat nama bulan, contohnya bulan September, Oktober, November dan Desember berakhiran _ber (ber-beran dalam bahasa Sunda, dimana air hujan turun dengan lebat) menunjukan bulan-bulan yang memiliki curah hujan dan frekuensinya yang cukup tinggi. Kemudian berlanjut hingga bulat Maret, dengan akhiran _ret (ret-retan dalam bahasa Sunda, air hujan turun sedikit sekali) menunjukan bulan-bulan yang memiliki curah hujan yang rendah dengan frekuensi turunnya hujan cukup rendah. Biasanya bulan Maret ditandai dengan berakhirnya musim hujan. Sekarang berbeda, kita seolah tidak mengetahui kapan dan dimana akan turun hujan. Perubahan iklim nampaknya telah menggeser bulan-bulan hujan dan kemarau menuju kesetimbangan baru.

Di tahun ini pada bulan September yang seharusnya bercurah hujan tinggi ternyata memiliki curah hujan sangat rendah, apalagi frekuensinya bisa jadi dalam satu bulan jarak antar hujan pertama dengan kedua sekitar 2-3 minggu, dan saya perkirakan ada pergeseran dimana kemungkinan bulan Maret masih akan turun hujan. Tentunya ini hanya perkiraan, kenyataannya kita tidak tahu seperti apa. Saya jadi teringan sebuah surat dalam Al-Qur’an yaitu Luqman ayat 34 :

31_34“Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. 31:34)

Ayat tersebut menyebutkan bahwa hanya Allahlah yang Maha Tahu tentang turunya hujan, baik itu dimana, kapan, berapa lama, dan seberapa lebat. Di dalam ayat tersebut juga Allah SWT menegaskan bahwa selain turunnya hujan, tidak ada seorang pun termasuk Nabi dan Rasulnya yang mengetahui kapan terjadinya kiamat, mengetahui apakah di dalam rahim itu laki-laki atau perempuan, apa yang akan terjadi besok, dan termasuk kapan dirinya akan mati. Subhanalllah.

Jadi persoalan hujan, Allah lah yang menentukan dan mengetahuinya dengan memerintahkan malaikat untuk menurunkan hujan pada suatu waktu, di daerah tertentu dan dalam jumlah tertentu pula. Apabila kita menginginkan turunya hujan mintallah dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT, yaitu shalat meminta hujan/istisqo. Jangan meminta hujan lewat perantara seperti pawang hujan dan yang lainnya. Jangankan pawang hujan, ketidak tahuan akan turunnya hujan pun disadari oleh pakar cuaca sehingga turunnya hujan tidak dapat ditentukan dengan pasti, hanya masalah peluang dan perkiraan. Peluang dan perkiraan saja sifatnya belum pasti apalagi pra-kiraan. Terkadang kita mengira hari ini akan turun hujan karena langit telah gelap gulita, namun pada kenyataanya hujan yang ditunggu tunggu pun tak turun-turun juga, sebaliknya kita mengira bahwa hari ini akan panas terik dan rasanya tak mungkin hujan turun, namun ternyata terjadilah hujan. Wallahualam.

Kenapa dan Bagaimana Aku Menghafal Al-Qur’an

Kenapa dan Bagaimana Aku Menghafal Al-Qur’an*
(Pengalaman nyata Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, Msc.
yang menghafal Al-Quran di usia 40 Tahun)

 

10649626_860276740649750_7707898107282838052_nSemuanya bermula saat aku masih kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Pada suatu kesempatan, aku dan teman sekelasku mendapatkan tugas yang-mungkin- bagi sebagian orang sangat sepele, tapi tidak untukku.

Dosen menyuruh kami untuk menulis Surat Al-Fatihah dalam bahasa arab. Aku yang saat itu adalah mahasiswa yang sangat buta atau bahkan tidak memiliki basic agama sama sekali, hanya bisa diam membisu. Ya, aku terlahir bukan dari keluarga pesantren, juga keseharianku tidak begitu bergelut dengan yang namanya kajian keagamaan. Jangankan Surat Al-Fatihah, huruf hijaiyah pun tak ada yang aku hafal. Kala itu aku benar-benar tersudutkan. Sampai waktu yang diberikan selesai, lembaranku tetap saja putih bersih tanpa ada goresan pena sedikitpun. Aku hanya berharap semoga dosen mengerti kedaanku, keadan yang tak tersentuh pendar-pendar keislaman ini.

Jujur! Hari itu benar-benar membuatku terusik. Peristiwa itu seakan telah menjorokkanku ke dalam lubang yang paling dalam. Tapi kejadian itu tidak berlalu begitu saja dengan peninggalannya yang sangat menyakitkan itu. Ada satu hal yang membekas dalam fikiranku dan sepertinya aku harus benar-benar membidaninya. Ya, aku ingin belajar Al-Qur’an.

Saat itu tak banyak yang ingin aku kuasai dari yang namanya Al-Qur’an. Aku hanya ingin belajar membacanya. Ya, sebatas membacanya. Aku mulai menyisihkan waktu untuk mengeja huruf-huruf Tuhan itu. Bahkan saat aku tengah menempuh perjalanan dari Jakarta-bogor dengan bus, sesekali aku juga mendekte lisanku dengan huruf-huruf suci itu. Entahlah ! Kekuatan apa yang merasuk ke dalam saraf-sarafku hingga aku begitu menggiati kebiasaan yang tak pernah aku jalani sebelumnya. Dan setelah beberapa lama -akhirnya- upayaku benar-benar berbuah manis. Meski tidak sempurna, tapi aku sudah bisa membacanya. Sebuah pencapaian yang menurutku sangat memuaskan.

Tapi taqdir membawaku ke alur yang sedikit berkelok. Setelah lulus sarajana dari IPB, aku ditugaskan ke Kanada dalam rangka kuliah lanjutan di Bidang Tekhnologi. Aku yang lulusan Institut Pertanian kemudian harus mendalami tekhnologi yang –sejatinya- bukan fakku, tentu ini akan menjadi proses panjang yang banyak menyita kesabaran dan menghadirkan keluh yang mendalam.

Dan itu benar-benar terjadi. Hari-hariku di Kanada penuh dengan tekanan batin dan masalah-masalah yang membuatku rentan depresi dan setress. Tidak hanya masalah kuliah yang bukan fakku, tetapi kultur yang begitu bebas dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang beradab juga menjadi beban pikiranku. Aku kawatir kalau-kalau aku terlarut di dalamnya. Dan satu lagi, kebiasaanku menyelisik ayat-ayat Tuhan juga semakin terkikis. Hm…panorama Kanada dan karakteristik Kanadian tak bersepaham dengan nuraniku.

Namun selang beberapa tahun, tepatnya 4 tahun keberadaanku di Kanada, babak baru dalam hidupku dimulai. Dalam ketidakstabilanku dan lalaiku pada kitab-Nya, Tuhan mempertemukanku dengan mahasiswa berdarah Sudan, Yahya Faddallah Al-Hafidz. Aku sering memanggilnya dengan sebutan Brother Yahya. Dia seorang hafidz (hafal Al-Qur’an), teguh dan berkomitmen terhadap agamanya. Sehingga sering sekali aku menemukan dan mendengar lantunan ayat-ayat Tuhan keluar dari kedua bibirnya. Bahkan saat berdialog dengan teman sejawat pun, ayat-ayata Tuhan sering kali mewarnai perkataannya. Dialah yang akhirnya mengajariku untuk kembali mengeja ayat-ayat Tuhan.

Hari demi hari aku belajar padanya. Dan aku baru tahu, bacaan Al-Quran yang dulunya aku anggap cukup baik ternyata tidak seberapa benar ketika aku perdengarkan pada Brother Yahya. Dari situlah aku mulai tertantang. Ada rasa keingintahuan yang mendalam dalam benakku, tentang bagaimana seharusnya Ayat-ayat itu dibaca.

Sesekali aku juga mulai mencari-cari keistimewaan yang tertabiri dibalik ayat-ayat Al-Qur’an. Dan lama-kelamaan aku pun bisa menyingkap tabir kerahasiann itu, meski hanya sedikit. Aku menemukan ayat tentang Al-qur’an sebagai obat (Syifa’) untuk segala jenis penyakit (QS. Al-isra’ :82). Diam-diam aku seperti ingin menguji kebenaran Al-Qur’an. Setiap kondisiku diganjali masalah, selalu aku upayakan untuk membaca Al-Qur’an. menjadikan Al-Qur’an sebagai obat dan pelipur lara. Dan sungguh Allah dzat yang Haq dan Ahaq. Selalu saja aku temukan solusi-solusi saat aku menghadapi masalah dan aku lari pada Al-Qur’an.

Tidak sampai di situ. Aku juga mulai mencoba mengait-ngaitkan dan menganlogikan kitab suci itu dengan apa yang ada di sekitarku. Pernah suatu kesempatan aku berpikir bahwa komputer itu tanpa adanya operating system tak ubahnya seperti bangkai yang tak berguna. Hanya seonggok besi yang didesign apik tapi tak menampakkan nilai-nilai kebermanfaatan sama sekali. Lalu aku pun berpikir bahwa manusia juga mesti memiliki operating system. Karena dari operating system itulah manusia kemudian bisa memotretkan nilai-nilai kebajikan. Dan klimaksnya, Tuhan kemudian membuka pikiranku untuk menjangkau Kalam-Nya. Sehingga aku diketemukan dengan ayat yang secara tegas mengatakan bahwa islam itu adalah agama satu-satunya yang diterima Tuhan (QS. Ali-Imran : 19). Dan sejak itu kusimpulkan bahwa operating sytem yang mengatur manusia adalah Al-Islam. Ya, islam dengan kitab sucinya, Al-Qur’an.

Rupanya pemikiran itu benar-benar kuseksamai. Sehingga dia merasuk ke dalam hatiku dan membentuk bias semangat yang dahsyat. Aku semakin tertantang untuk memperdalam Al-Qur’an. Dan diam-diam aku mulai tertarik untuk mengikuti jejak Brother Yahya. Aku ingin menghafal Al-Qur’an, menjadi Hafidzul Qur’an seperti Brother Yahya.

Tapi, lagi-lagi Tuhan menggariskan berbeda. Dia belum menghendakiku untuk menghafal ayat-ayat suci-Nya. Kala itu, mungkin hatiku belum begitu bersih, sehingga nampaknya Tuhan belum mengizinkanku untuk mengecup firman-Nya. Ya, keinginan untuk menghafal Al-Quran itu muncul berbarengan dengan habis kontrak masa studiku. Sehingga aku harus kembali ke tanah kelahiran. Praktis, akan ada jarak yang menengahi perjumpaanku dengan Brother Yahya dan tentu aku tidak bisa lagi belajar padanya. Tapi apa hendak dikata. Ketetapan Tuhan sudah digariskan dan tidak ada yang dapat mengubahnya. Mungkin yang bisa kulakukan saat itu hanya berusaha menyelaraskan keinginan dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Berpositif thinking dan tidak mengkritisi keadilan-Nya.

Setelah kepulanganku dari Kanada, aku mulai disibukkan dengan profesi baruku sebagai dosen di IPB. Dan hari ke hari kesibukan demi kesibukan semakin memadati list agendaku. Tapi aku sangat bersyukur, meski kesibukan semakin menggunung, keinginan untuk menghafal Al-Qur’an rupanya tetap bersemayam dalam hati kecilku. Selama tujuh tahun keinginan itu hidup tanpa bapak. Karena hanya sebatas keinginan belum ada upaya untuk mewujudkannya sebab belum ada orang yang membimbingku. Sampai akhirnya aku diketemukan dengan KH. Mohammad Mudzaffar Al-hafidh. Beliau seorang Hafidz Qira’ah Sab’ah (tujuh model bacaan Al-qur’an) dan pimpinan pondok yang memiliki banyak santri dan semua santrinya adalah penghafal al-qur’an.

Dari pertemuan itu aku mulai menganyam kembali keinginan besar itu. Kuutarakan pada KH Mudzaffar perihal keinginan itu dan Alhamdulillah beliaupun mendukung sepenuhnya dan bersedia membimbingku. Lalu beliau menyuruhku untuk menghatamkan Al-Quran bin Nadhar (melihat) di hadapannya sampai tiga kali sebelum akhirnya aku diperbolehkan menghafal. Tak banyak yang aku tanggapi dari titah sang guru. Walau berat dan pastinya membutuhkan waktu yang lama, ku-iyakan saja perintahnya. Satu yang menjadi keyakinanku saat itu, bahwa sebagai murid sudah selayaknya aku mematuhi perintah guru selama tak menyeretku pada jurang kenistaan.

Dari perintah itu, aku mulai menyisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Dan pengalaman lama kembali kutekuni. Aku kembali memanfaatkan waktu perjalananku dari Jakarta-Bogor yang –kurang lebih- satu jam itu untuk bersahabat dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Nyaris itu yang menjadi pekerjaanku selama di perjalanan. Bahkan saat aku menyetir sendiri pun, aku selalu menyalakan murattal agar Al-Qur’an bisa kudengarkan. Dan Alhamdulillah, proses yang memakan waktu 3 tahun itu akhirnya bisa kutaklukkan. Dan akhirnya, tepat saat umurku menginjak kepala empat, aku sudah hatam Al-Qur’an bin-Nadhar di hadapan KH. Mudzaffar, dan secara otomatis aku diperbolehkan menghafal Al-Qur’an.

Saat itu aku benar-benar merasakan prestasi yang besar, jauh lebih besar dari prestasi doktor dan professor yang selama ini telah aku dapatkan. Kini aku tengah maniti jejak sahabatku, Yahya Faddallah Al-hafidz, sebagai penghafal Al-Qur’an. Meski usiaku telah berumur dan kesibukan semakin menjamur, tapi aku tetap menekuni proses menghafal Al-Qur’an.

Bahkan sepertinya aku sudah semakin candu dengan Al-Qur’an.
Sehingga sesibuk apapun pekerjaanku selalu saja aku menyempatkan diri untuk menambah hafalan dan singgah di kediaman KH. Mudzaffar untuk simaan. Walau sebenarnya beliau tak memaksaku untuk selalu sima’an, tapi aku selalu berupaya untuk istiqamah dalam menambah hafalan dan sima’an. Dari satu ayat, dua ayat, tiga ayat, satu halaman, dua halaman, satu surat kemudian beralih ke surat berikutnya, berikutnya dan berikutnya sampai akhirnya tepat di usiaku yang ke 45 tahun, aku berhasil mengecup firman-Nya.

Ya, aku bisa menyelesaikan hafalan Qur’anku lengkap 30 juz. Semacam aku tidak percaya. Perjalananku selama ini yang aku anggap berkelok-kelok nyatanya sangat indah dan berbekas.
Kini, proses menghafalku telah usai tetapi perjuanganku untuk mensahabati Al-Qur’an masih terus berjalan dan akan terus berjalan hingga aku menutup mata. Sebari terus menjaga hafalan yang telah terukir rapi di dalam jiwa, aku berupaya untuk meluruskan langkah agar tidak menyelisihi nilai-nilai qur’ani.

Sangat naïf rasanya, saat ayat-ayata-Nya telah terpatri dalam hati, tapi tidak sedikitpun dipendarkan dalam elok prilaku.
Semoga Allah tetap menjagaku dari terjerumus ke dalam lingkar syaitan. Ya Allah! jangan jadikan Al-Qur’an bagiku sebagai sebab murka-MU karena aku melalaikan dan melupaknnya. Tetapi jadikan Al-Quran sebagai sebab keridhoan-Mu akan diriku karena aku bersahabat dan berprilaku atas tuntunannya. Amien!

__________________________________
• Tulisan ini berdasarkan penuturan langsung Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, Msc. saat kunjungan ke Masjid Ar-rahmah, Sabtu 12 januari 2013, namun disajikan dengan bahasa penulis (Mohammad Al Farobi). Semoga bermanfaat !

PROFIL SINGKAT
Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc
Guru Besar bidang Teknologi Komputer di Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FAMIPA), IPB.

Menyelesaikan studinya pada strata S1 di IPB tahun 1983, dan strata S2 serta S3 di Faculty of Computer Science University of New Brunswick Canada pada tahun 1989 dan 1993. Bidang riset yang ditekuni mencakup Information Engineering, Software Engineering, Intelligent Systems, Distance Learning, Internetworking, Computer-Based Instrumentation & Control Systems.

Sejak menyelesaikan studi doktornya, mendapat amanah untuk menjadi Ketua Departemen Teknik Pertanian IPB (1997-2000), Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Keteknikan Pertanian IPB (2000-2003), Kepala Bagian (Lab) Ergotron( 2008-kini), Kepala Perpustakaan IPB (2003-2007), dan Direktur Komunikasi dan Sistem Informasi IPB (2007-kini).

Terlibat dalam tim desain & implementasi pembentukan Departemen Ilmu Komputer IPB, Program Studi Magister Komputer IPB, Program Studi Manajemen Teknologi Informasi untuk Perpustakaan IPB, pembukaan program Doktoral Jalur Riset Ilmu Keteknikan Pertanian IPB, serta pembentukan rumpun Departemen Teknik di IPB.

Dalam bidang keprofesian, menjabat Ketua HIPI/ ISAI (Himpunan Informatikan Pertanian Indonesia/Indonesian Society of Agriculture Informatics) , presiden AFITA (Asian Federation for Information Technology in Agriculture), dan anggota PERTETA (Perhimpunan Teknik Pertanian/ Indonesian Society of Agricultural Engineering).
Kesempatan menggali ilmu yang sangat berharga adalah kesempatan menimba dan mendalami ilmu agama khususnya Al-Qur’an baik dalam membaca dan mengkajinya sejak tahun 1996 hingga saat ini. Melalui bimbingan guru-guru yang yang bersahaja (tawadhu’) dalam ketinggian ilmunya yang salah satunya berperingkat hafiz (penghafal Al-Qur’an) tanpa meninggalkan profesi sebagai akademisi, peneliti, dan pendidik.

SUMBER BIODATA:
http://kseminar.staff.ipb.ac.id/biodata/

Artikel ini diperoleh dari : Wakaf Quran, tanpa proses editing.

Ka’bah dari masa ke masa (1)

Awalnya, Mekkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang pasir bergumul di tengah terik menyengat. Aliran zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam.

Bangunan persegi bernama Ka’bah didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Mengunjunginya adalah salah satu dari rukun Islam, Ibadah Haji. Ka’bah masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini dan diperkirakan masih terus berdiri hingga kiamat menjelang. Beberapa generasi pernah menjadi saksi berdirinya Ka’bah hingga berbagai kemelut menyelimutinya.

Adalah Ismail, putra Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, yang kaki mungilnya pertama kali menyentuh sumber mata air zamzam. Akibat penemuan mata air abadi ini, Siti Hajar dan Ismail yang kala itu ditinggal oleh Ibrahim ke Kanaan di tengah padang, tiba-tiba kedatangan banyak musafir. Beberapa memutuskan untuk tinggal, beberapa lagi beranjak. Ibrahim datang dan kemudian mendapatkan wahyu untuk mendirikan Ka’bah di kota kecil tersebut. Ka’bah sendiri berarti tempat dengan penghormatan dan prestise tertinggi.

Ka’bah yang didirikan Ibrahim terletak persis di tempat Ka’bah lama yang didirikan Nabi Adam hancur tertimpa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh. Adam adalah Nabi yang pertama kali mendirikan Ka’bah. Tercatat, 1500 SM adalah merupakan tahun pertama Ka’bah kembali didirikan. Berdua dengan putranya yang taat, Ismail, Ibrahim membangun Ka’bah dari bebatuan bukit Hira, Qubays, dan tempat-tempat lainnya.

Bangunan mereka semakin tinggi dari hari ke hari, dan kemudian selesai dengan panjang 30-31 hasta, lebarnya 20 hasta. Bangunan awal tanpa atap, hanyalah empat tembok persegi dengan dua pintu. Celah di salah satu sisi bangunan diisi oleh batu hitam besar yang dikenal dengan nama Hajar Aswad. Batu ini tersimpan di bukit Qubays saat banjir besar melanda pada masa Nabi Nuh.

Batu ini istimewa, sebab diberikan oleh Malaikat Jibril. Hingga saat ini, jutaan umat Muslim dunia mencium batu ini ketika berhaji, sebuah lelaku yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad. Selesai dibangun,  Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru umat manusia berziarah ke Ka’bah yang didaulat sebagai Rumah Tuhan. Dari sinilah, awal mula haji, ibadah akbar umat Islam di seluruh dunia.

Karena tidak beratap dan bertembok rendah, sekitar dua meter, barang-barang berharga di dalamnya sering dicuri. Bangsa Quraisy yang memegang kendali atas Mekkah ribuan tahun setelah kematian Ibrahim berinisiatif untuk merenovasinya. Untuk melakukan hal ini, terlebih dahulu bangunan awal harus dirubuhkan. Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy adalah orang yang pertama kali merobohkan Ka’bah untuk membangunnya menjadi bangunan yang baru.

Pada zaman Nabi Muhammad, renovasi juga pernah dilakukan pasca banjir besar melanda. Perselisihan muncul di antara keluarga-keluarga kaum Quraisy mengenai siapakah yang pantas memasukkan Hajar Aswad ke tempatnya di Ka’bah. Rasulullah berperan besar dalam hal ini. Dalam sebuah kisah yang terkenal, Rasulullah meminta keempat suku untuk mengangkat Hajar Aswad secara bersama dengan menggunakan secarik kain. Ide ini berhasil menghindarkan perpecahan dan pertumpahan darah di kalangan bangsa Arab.

Renovasi terbesar dilakukan pada tahun 692. Sebelum renovasi, Ka’bah terletak di ruang sempit terbuka di tengah sebuah mesjid yang kini dikenal dengan Masjidil Haram. Pada akhir tahun 700-an, tiang kayu mesjid diganti dengan marmer dan sayap-sayap mesjid diperluas, ditambah dengan beberapa menara. Renovasi dirasa perlu, menyusul semakin berkembangnya Islam dan semakin banyaknya jemaah haji dari seluruh jazirah Arab dan sekitarnya.

Wajah Masjidil Haram modern dimulai saat renovasi tahun 1570 pada kepemimpinan Sultan Selim. Arsitektur tahun inilah yang kemudian dipertahankan oleh kerajaan Arab Saudi hingga saat ini. Pada penyatuan Arab Saudi tahun 1932, negara ini didaulat menjadi Pelindung Tempat Suci dan Raja Abdul Aziz adalah raja pertama yang menyandang gelar Penjaga Dua Mesjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Pada pemerintahannya, Masjidil Haram diperluas hingga dapat memuat kapasitas 48.000 jemaah, sementara Masjid Nabawi diperluas hingga dapat memuat 17.000 jemaah. Pada pemerintahan Raja Fahd tahun 1982, kapasitas Masjidil Haram diperluas hingga memuat satu juta jemaah. Renovasi ketiga selesai pada tahun 2005 dengan tambahan beberapa menara. Pada renovasi ketiga ini, sebanyak 500 tiang marmer didirikan, 18 gerbang tambahan juga dibuat. Selain itu, berbagai perangkat modern, seperti pendingin udara, eskalator dan sistem drainase juga ditambahkan.

Saat ini, pada masa kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul-Aziz, renovasi keempat tengah dilakukan hingga tahun 2020. Rencananya, Masjidil Haram akan diperluas hingga 35 persen, dengan kapasitas luar mesjid dapat menampung 800.000 hingga 1.120.000 jemaah. Jika rampung, bagian dalam Masjidil Haram akan dapat menampung hingga dua juta jemaah.