Tag Archives: Briket arang dari limbah pertanian

ZPT eksogen dari bahan alam, apakah bisa ?

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak terlepas dari peranan fitohormon (hormon tanaman) atau dikenal dengan zat pengatur tumbuh (ZPT). Walaupun konsentrasinya sangat kecil senyawa ini sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa golongan ZPT yang sudah dikenal, tulisan saya sebelumnya sempat membahas golongan senyawa tersebut yaitu: auksin, sitokinin, giberelin, asam absisat, poliamin, asam salisilat, asam jasmonat, brassinosteroid, dan etilen. ZPT saat ini banyak dimanfaatkan baik diaplikasikan langsung ke dalam tanaman maupun dicampurkan ke dalam media kultur jaringan.

Apakah kita bisa membuat sendiri ZPT dari bahan alam ? Jawabannya adalah bisa! Beberapa bahan alami ternyata mengandung ZPT dan bisa dimanfaatkan untuk merangsang pertumbuhan maupun perkembangbiakan tanaman. ZPT ini dikenal sebagai ZPT eksogen, sedangkan ZPT alami yang sudah diproduksi di tanaman dikenal dengan ZPT endogen. Penggunaan ZPT eksogen umumnya dilakukan untuk kultur jaringan, namun pada kasus kasus tertentu dapat juga diaplikasikan langsung ke tanaman. Bahan alami yang bisa digunakan sebagai ZPT adalah :

Air Kelapa. Air kelapa atau dikenal sebagai endospermium merupakan cairan yang mengandung banyak manfaat. air kelapa juga mengandung hormon/ZPT Sitokinin, mineral dan senyawa organik lain, seperti 1,3 dipheniluea, zaetin, zeatin glukosida dan zeatin ribosida. Dalam aplikasinya dalam kultur jaringan tanaman sering digunakan sebagai tambahan pada media tanam tanaman anggrek. Sebagian petani menggunakan bonggol pisang yang diekstrak untuk memiliki manfaat yang sama dengan air kelapa.

kandungan kelapa

Bawang Merah. Bawang merah ZPT alami yang sudah lama dikenal oleh masyarakat. Ekstraknya biasa digunakan oleh petani untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Apabila ingin mendapatkan manfaat lebih sebagai fungisida bisa menggunakan campuran bawang putih. Ada pula yang menggunakan ekstrak bawang untuk meningkatkan produktivitas pada penyadapan pohon karet.

bawang merah index

Ekstrak Tauge. Tauge sering disarankan dikonsumsi untuk menambah kesuburan pada pria, namun dibalik khasiatnya itu tauge yang sudah diekstrak manfaat yang sama dengan kelapa muda. Ekstrak tauge juga banyak dimanfaatkan pada perbanyakan tanaman secara kultur jaringan.

toge
Tauge selain dijadikan sumber pangan bisa juga dimanfaatkan sebagai sumber ZPT

Cuka kayu. Cuka kayu atau wood vinegar merupakan produk samping dari pembuatan arang kayu. Cuka kayu dibuat dengan cara mengkondensasi asap hasil pembakaran kayu secara tidak langsung. Prosesnya dikenal dengan destilasi. Hasil penelitian dari litbang Kehutanan menunjukkan bahwa aplikasi cuka kayu terhadap tanaman memiliki sifat antibiotik dan hormonal. Zat yang terkandung di dalam cuka kayu diantaranya : asam Asetat 58,4 %, Asam Propionat 1,8 %, Methanol 2,1 %, Furfural 1,7 %, Aceton 0,2 %, Cyclotene 2,3 %, 2-Cyclopentenon 0,5 %, Furfuryl Alcohol 0,3 %, Guaiacol 0,6 %, Tetrahydro furfuryl Alcohol 1,0 %, Paracresolmethacresol 1,4 %, 2-Methoxy-4-Cresol 1,3 %, Orthocresol 1,2 %, nonane-1,4-Olide 0,7 %, Methyguaiacol 0,3.

Aplikasi ZPT tersebut bisa diaplikasikan langsung atau dicampur dengan pupuk daun, namun  penggunaanya harus dilakukan sesegera mungkin setelah pembuatan ZPT tersebut, atau simpan ekstrak/campuran tersebut di lemari pendingin.

Pembuatan Briket Arang Berbahan limbah Pertanian

Briket arang merupakan bahan bakar padat alternatif atau pengganti bahan bakar minyak. Teknologi pembuatan briket arang sangat sederhana. Pada dasarnya briket arang adalah arang yang telah diubah bentuk, ukuran, dan kerapatannya menjadi produk yang lebih praktis sebagai bahan bakar. Terdapat  tahapan dalam pembuatan briket yaitu persiapan bahan baku, pengarangan, penggilingan, penyaringan, pencampuran dengan bahan perekat, pengempaan dan pengeringan.

Di beberapa daerah limbah pertanian berbahan lignoselulosa belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Bila kita liat sendiri Indonesia sebagai negara agraris sendiri tentu menghasilkan banyak sekali limbah pertanian dan ini merupakan peluang yang sayang kalau tidak dimanfaatkan secara bijak. Ada beberapa contoh limbah pertanian diataranya adalah : sekampadi, kulit jagung, kulit kacang kedelai, limbah batang padi dan lain-lain.

Limbah pertanian : sekam padi
Kulit Jagung pun bisa digunakan untuk bahan baku briket arang


a. Persiapan Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan sebaiknya dalam bentuk seragam sehingga memudahkan dalam pencampuran dengan perekat dan proses pengempaan. Sangat disarankan bila kita menggunakan sekam padi maka pembakaran hanya sekam padi saja jangan dicampur dengan kulit kacang atau batang padi. Selain itu kadar air bahan baku harus diperhatikan karena dengan tingginya kadar air akan menyebabkan bahan baku lama terbakar dan mengeluarkan banyak asap. Kadar air bahan baku sebaiknya kurang dari 15ºC. Karena bahan dari limbah pertanian cenderung basah maka sangat saya sarankan untuk mengeringkannya terlebih dahulu. Pemanfaatan sinar matahari sangat memungkinkan.

b. Pengarangan/karbonisasi

Proses karbonisasi merupakan suatu proses dimana bahan dipanaskan dalam ruangan tanpa kontak dengan oksigen. Pada umumnya suhu yang digunakan sekitar 500-800ºC. Dengan proses karbonisasi zat-zat terbang yang terkandung dalam briket tersebut diturunkan serendah mungkin sehingga produk tersebut tidak berbau dan berasap. Pengarangan dilakukan dengan kiln/tunggu pembakaran. Kiln dapat dibuat dari drum yang dibuka bagian atasnya dan diberikan penutup. Tidak semua bahan dapat menggunakan kiln drum. Ada kalanya bahan yang ukuran partikelnya lebih kecil seperti sekam padi lebih cocok menggunakan kiln cerobong.

Kiln tipe cerobong sesuai untuk bahan berukuran kecil seperti sekam padi ata serbuk kayu

Kiln drum sesuai untuk bahan berukuran sedang (panjang 5-10 cm)

Untuk bahan yang berukuran sedang bisa menggunakan kiln drum dengan teknik pembakaran sebagai berikut : Bahan disusun dengan menempatkan bambu di tengah. Setelah bahan baku masuk ke dalam kiln bambu ditarik. Ruang bekas bambu tersebut digunakan untuk melakukan pembakaran awal dengan menempatkan kayu umpan yang telah dibakar. Setelah bahan terbakar sebagian kiln ditutup termasuk ketiga lubang yang berada di samping. Lamanya proses pengarangan akan berbeda tergantung pada jenis dan banyaknya bahan yang digunakan. Apabila menggunakan bahan baku yang berbeda pengarangan sebaiknya dilakukan terhadap tiap-tiap bahan baku secara terpisah karena tiap-tiap bahan baku memiliki waktu pengrangan optimal yang berbeda-beda. Pengarangan dianggap selesai apabila asap yang keluar dari cerobong menipis.

Apabila kita tidak memiliki alat semacam kiln sebenarnya tidak menjadi kendala dalam pembuatan briket ini. Pembakaran bisa dilakukan secara langsung dengan menumpuk bahan dan membakarnya, namun harus diperhatikan ketika bahan mulai mengarang/terbentuk arang harus segera mematikan bara api supaya bahan tersebut tidak menjadi abu. Bisa menggunakan cipratan air.

c. Penggilingan dan Penyaringan

Penggilingan diperlukan untuk menghancurkan bahan–bahan berukuran besar seperti batang, ranting, tempurung kelapa sedangkan untuk serbuk kayu tidak perlu dilakukan penggilingan. Penggilingan bisa dilakukan dengan ditumbuk dengan tangan atau menggunakan mesin penggilingan. Setelah itu dilakukan penyaringan yang berfungsi untuk menyeragamkan bahan. Permukaan yang seragam akan memudahkan arang untuk menempel dan berikatan satu sama lainnya. Ukuran saringan yang dianjurkan adalah lebih dari 20 mesh dan kurang dari 80 mesh.

d. Pencampuran dengan bahan perekat

Bahan perekat yang biasa digunakan adalah tepung tapioka. Sebenarnya dapat pula menggunakan bahan-bahan yang lain seperti tanah liat, semen, natrium silikat, tar, aspal, amilum, molase, dan parafin. Perbandingan antara bahan perekat tapioka dengan air adalah 1 : 12 atau 1 : 10. Persentase arang dengan perekat berbeda antara satu bahan dengan bahan yang lainnya bergantung dari jenis dan  ukuran bahan baku.

Pencampuran Arang dengan Bahan Perekat

e. Pengempaan

Pengempaan dilakukan untuk  membantu proses pengikatan dan pengisian ruang-ruang  yang kosong. Ukuran partikel yang kurang seragam akan menyebabkan ikatan antar partikel serbuk arang kurang sempurna. Keteguhan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kerapatan briket arang yang dihasilkan. Pengempaan bisa dilakukan baik dengan alat sederhana seperti alat pencetak dari paralon maupun kempa dengan sistem hidrolik.

f. Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan dengan menjemur briket arang selama sehari atau dioven pada suhu 40-60ºC. Setelah pengeringan briket arang siap untuk dikemas dan digunakan. Pengemasan diperlukan untuk menjaga agar beriket tetap kering dan terhindar dari jamur.

Briket yang telah selesai dikempa

Briket arang dapat digunakan dengan menggunakan tungku atau kompor briket yang kini telah dijual bebas di pasaran. Briket arang yang berkualitas baik memiliki kadar air yang rendah, abu rendah, zat terbang rendah dan nilai kalor yang tinggi.