Tag Archives: Pendidikan

Puteramu adalah amanah

Pemandangan oke

Seorang anak tidaklah terlahir kedunia melainkan sebagai sebuah amanah dari Allah SWT bagi kita sebagai orang tua. Anak-anak kita bagaikan kertas putih yang bersih dan polos, tanpa coretan dan goresan apapun. Kertas itu siap untuk kita tuliskan dan akan cenderung kepada apa saja yang mempengaruhinya. Jika ia dibiasakan berprilaku baik dan diajari hal-hal yang baik maka tentunya ia akan menjadi anak yang shaleh. Kebahagian dunia dan akhirat bagi kita semua sebagai orang tua apabila mendapatkan anak yang shaleh. Sebaliknya apabila ia dibiasakan berbuat hal-hal yang buruk atau kita biarkan begitu saja maka ia akan tumbuh menjadi anak yang kurang berakhlak dan menjadi sumber kesedihan bagi kedua orang tuanya.

Wilayah terpenting yang amat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak adalah rumah dan lingkungannya. Rumah ibarat benteng yang sangat kokoh bagi seorang anak dalam menerima serangan pengaruh buruk dari lingkungan luar. Benteng yang kokoh bagi jiwa-anak kita yang masih bersih dan suci. Dan di dalam rumah kedua orang tuanyalah lingkungan pertama yang diperolehnya dan yang sangat berpengaruh terhadap akhlaknya. Bukankah Rasulullah SAW pun bersabda :

“setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi.”

Masa ketika anak bersama keluarga adalah masa-masa keemasan yang tidak boleh kita sia-siakan. Pendidikan adalah hak anak dan kewajiban orang tua bukan hibah atau hadiah yang turun dari langit begitu saja. Tanggung jawab kita terhadap buah hati tersayang bukanlah hanya makanan yang baik dan halal, pakaian bersih dan layak atau tempat tinggal yang nyaman dan luas saja….

Tanggung jawab terbesar adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan meyelamatkan dari Azab Allah SWT sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Tahrim (6) :

Slide1

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Berhubungan dengan ayat di atas Ali bin Abi Thalib Ra mengambil sebuah kesimpulan yakni Ajarilah dirimu dan keluargamu dengan kebaikan. Kita memiliki amanah yang besar untuk selalu menjaga diri kita dan keluarga kita termasuk anak kita terhadap nilai-nilai kebajikan. Dan itu adalah amanah.

Rasulullah SAW bersabda :” kamu semua adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinya Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan anak-anaknya. Dan ia akan ditanya tentang mereka…ketahuilah kamu semua adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinya..

Mari kita jaga amanah ini!!

Allah SWT menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang-orang yang senantiasa memelihara amanah yang menjadi tanggungannya yakni surga firdaus.. 🙂

Slide2

Artinga : Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulya) dan janjinya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.

Tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua memang tidak ringan dan tidak pula semudah membalikan telapak tangan. Halangan dan rintangan mungkin saja akan kita hadapi di tengah perjalanan kita nanti. Semoga keikhlasan selalu menyertai kita dalam mengemban amanah ini. Karena seberat apapun tugas dan tanggung jawab ini bila dilakukan dengan ikhlas maka tentunya tugas ini menjadi lebih ringan. Lebih dari itu keikhlasan hati membuat jerih payah kita selama ini bernilai pahala di sisi Allah SWT. Semoga Allah mudahkan perjuangan kita dalam mengemban amanah ini.

Wallahu’alam.

 

Pidato Kelulusan Pelajar SMA yang Menginspirasi

Pidato Kelulusan Pelajar SMA yang menggetarkan dan menggugat kesadaran kita atas makna sistem pendidikan, pidato ini diucapkan oleh Erica Goldson, pelajar di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010.

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang akan datang kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

http://adi-wicak.blogspot.com/2013/04/pidato-kelulusan-pelajar-sma.html

Opini tentang RSBI di Sidang Mahkamah Konstitusi 12 Mei 2012 (Pak Daoed Joesoef)

(Pernyataan ini diketik ulang oleh Dhitta Puti Sarasvati, Direktur Pengembangan Program Ikatan Guru Indonesia)

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang saya hormati,

Para Hakim anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terdidik,

Nama saya Daoed Joesoef. Kehadiran saya pada siang hari ini adalah demi memenuhi panggilan Mahkamah Konstitusi no.468.5/PAN.MK/5/2012, tanggal 11 Mei 2012.

Selaku warga negara yang bertanggung jawab dan berdisiplin, yang pernah turut berjuang memerdekakan bangsa dan menegakkan NKRI, yang pernah diberikan kesempatan oleh sejarah bertanggung jawab dalam usaha nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, saya ucapkan terima kasih atas panggilan Mahkamah Konstitusi.

Dalam kesempatan ini, dengan senang hati, tanpa paksa dan bisikan siapa pun, akan saya uraikan pendapat pribadi saya mengenai pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional berbentuk “Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional” (RSBI) dan “Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

Saya sangat menentang sistem pembelajaran di RSBI dan SBI dan, karena itu, saya menuntut supaya pemerintah secepatnya meniadakan keberadaan kedua lembaga pendidikan tersebut dari bumi Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terhormat.

Saya menuntut pembubaran RSBI dan SBI berdasarkan beberapa alasan nalariah.

Pertama, ada cara pembelajaran di kedua lembaga persekolahan itu yang terang-terangan melanggar Konstitusi, yaitu penggunaan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris, sebagai bahasa pengantar formal dalam pembelajaran vak-vak eksakta tertentu, antara lain matematika dan fisika. Yang dilanggar adalah Pasal 36 dari UUD-45 asli, yang berbunyi: “Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia”.

Memang tidak ada Pasal atau Ayat konstitusi kita yang secara eksplisit menyebut bahwa bahasa nasional kita, bahasa Indonesia, harus pula dijadikan bahasa pengantar dalam pembelajaran di sekolah-sekolah negeri. Namun ada Pasal yang menegaskan bahwa “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang”. Ini adalah bunyi Pasal 31 Ayat 2. Saya anggap wajar sekali, bahkan merupakan satu keniscayaan, bila pengajaran di sekolah-sekolah nasional menggunakan bahasa nasional sebagai bahasa pengantar resmi. Negeri merdeka manapun di dunia ini, jadi di tataran internasional. Melakukan hal ini, untuk membuktikan self-respect, selaku Negara berdaulat dan bangsa yang merdeka.

Saya menuntut pembubaran RSBI dan SBI berdasarkan alasan nalariah kedua.
Penggunaan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris, sebagai bahasa pengantar pembelajaran, terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling, telah mengkhianati “Sumpah Pemuda” tahun 1928, yang secara resmi kita nobatkan dan akui merupakan tonggak sejarah kedua dari perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Izinkanlah saya mengingat bahwa pada tgl 28 Oktober 1928 itu sekumpulan pemuda-pemudi terpelajar kita mengadakan sumpah berupa pilihan kesatuan wilayah (bertumpah darah satu), pilihan kesatuan politis (berbangsa satu) dan pilihan kesatuan budaya (menjunjunhg tinggi bahasa persatuan), yang semuanya disebut “Indonesia” dengan khidmat dan penuh kebanggaan.

Pilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan punya makna yang mendalam dan pengertian yang sungguh mendasar.

Bahasa merupakan ekspresi dan prestasi kultural yang terpenting dari komunitas human. Adalah bahasa yang melambangkan konsensus yang mendasari suatu komunitas dan, sebagai media komunikasi, yang mengkondisikan kehidupan bersama.

Untuk menujukkan bobot, kekuatan, suatu bahasa sebagai ekspresi dari suatu konsensus dan media komunikasi, akan saya utarakan renungan dari Aristoteles. Menurut filsofil besar ini, bila makhluk-makhluk binatang diberi kemampuan alami oleh Sang Pencipta Alam Semesta untuk mengutarakan, mengungkapkan rasa gembira atau kemarahan melalui bunyi suara, hanya makhluk manusia yang berkemampuan, berkat bunyi suara yang disepakati, untuk mengkomunikasikan buah pikirannya tentang apa yang konstruktif atau destruktif, baik atau buruk, tepat atau keliru, adil atau tak-adil, dan dengan begitu menempatkan komunitas human dalam perumahan atau kompleks pemukiman.

Bahasa adalah ekspresi dari pilihan bebas manusia. Dengan kata lain, bahasa merupakan satu fakta kebiasaan yang disepakati oleh para penggunanya di tengah-tengah keanekaragaman bentuk linguistik yang menyatakan pikiran yang sama, konsep yang sama. Berkat fungsi kultural dari bahasa, manusia-manusia dapat memperluas domain dari hak-kewajiban mereka, yaitu menentukan masalah-masalah kepemilikan, menerapkan nilai dasar benda-benda, mengatur hubungan denpendensi yang menimbulkan berbagai bentuk kekuasaan.

Pendek kata, bahasalah yang merupakan faktor utama dari kesatuan dan persatuan. Melalui bahasa terwujud apa yang kini disebut “identitas kultural” dari suatu komunitas human, sebab pada akhirnya manusia terbentuk lebih banyak oleh bahasa ketimbang bahasa terbentuk oleh manusia. Dengan kata lain, ke-Indonesia-an manusia Indonesia, baik selaku human, maupun, dan lebih-lebih selaku warga Negara (citizen, pada akhirnya dibentuk oleh bahasa Indonesia.

Dan remark ini menjadi pengantar bagi alasan nalariah saya yang ketiga, yang mendasari tuntutan saya untuk membubarkan RSBI dan SBI secepat mungkin sebelum terlambat. Para perumus dan pengambil keputusan politik untuk menbangun RSBI dan SBI menurut hemat saya telah keliru, sangat keliru. Orang-orang Inggris dan Amerika maju bukan karena mereka berbahasa Inggris, tetapi berhubung mereka menghayati nilai-nilai kemajuan zaman dan melalui jalur pendidikan formal, membiasakan anak didik sedini mungkin menggali, mengenal, mempelajari, menguasai, menghayati dan menerapkan nilai-nilai yang diakui berguna bagi dia, bagi keluarganya, bagi masyarakat, bagi bangsa dan negaranya. Dalam pembiasaan kultural yang konstruktif ini, bangsa Inggris dan Amerika yang bangga pada kenasionalnya masing-masing, sudah tentu menggunakan bahasa Inggris, bahasa nasional mereka, bahasa sehari-hari mereka, sebagai media komunikasi. Namun tetap saja, yang membuat anak-anak Inggris dan Amerika bisa maju, bukan karena penggunaan bahasa Inggris itu, tetapi kemampuan menghayati dan menerapkan nilai-nilai kemajuan yang dibelajarkan tadi dalam kehidupan sehari-hari. Sambil lalu perlu saya tambahkan bahwa “bahasa Inggris” dari orang Inggris, orang Amerika, orang Australia, sebenarya tidak sama hanya mengesankan serupa, paling sedikit berbeda dalam ucapan dan tulisan. Lalu, bahasa inggris mana yang dipakai?

Dengan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran matematika, misalnya anak didik kita sekaligus dibebani oleh dua masalah pokok yang cukup pelik hingga menekan psikhe, menimbulkan masalah psikologis, yang sebenarnya tidak perlu. Pertama, masalah penguasaan matematika, yang dalam dirinya sudah merupakan vak yat gidak gampang dipaham, apalagi dikuasai penalarannya. Kedua, untuk memahami matematika dengan baik, anak didik harus “berani” bertanya. Namun bagaimana bisa merumuskan pertanyaan yang tepat dalam bahasa Inggris yang bukan merupakan bahasa hidup sehari-hari? Sedangkan matematika dasarnya merupakan suatu bahasa akademik tersendiri. Ia sekaligus merupakan vak instrumental dan vak final. Matematika adalah vak final karena ia merupakan suatu pengetahuan tersendiri diantara pengetahuan-pengetahuan lain yang perlu dipelajari dan dikuasai. Matematika adalah vak instrumental berhubung ia diperlukan untuk bisa memahami ilmu pengetahuan lain, yaitu fisika, kimia, dan lain-lain. Dilihat dari sudut guru, juga ada masalah. Guru yang “lancar” berbahasa Inggris, tidak dengan sendirinya membuat dia tambah mahir dalam bermatematika, baik matematika sebagai mata pelajaran instrumental atau mata pelajaran final.

Maka saya khawatir cara pembelajaran yang khas “ internasional” di RSBI dan SBI akan berdampak negatif, kalaupun tidak destruktif, bagi kita semua. Anak didik menjadi “ minder”, bermentalitas “inlander”, hilang “kebanggaan nasional. Sedangkan mereka ini, secara natural, yang akan menjadi andalan eksistensi NKRI di masa depan. Saya pernah mendengar ada seorang ibu yang katanya kaget mendengar anaknya mengucapkan “I hate the bahasa” maksudnya bahasa Indonesia. Rupanya dalam batin anak ini dia sungguh menyesal tidak dilahirkan sebagai “anak Inggris”. Bagaimana anak ini bisa diharapkan menjadi warga negara andalan, menjadi generasi penerus di negeri tercinta ini? Salah asuhan, tapi salah siapa?

Saya pernah membaca ada pemenang Nobel dari Jepang yang tidak menguasai dengan baik bahasa Inggris, tetapi ternyata mampu menguasai dengan baik fisika. Saya tahun benar, tidak sedikit lulusan S-1 dari ITB dan Fakultas Teknik kita lainnya, mampu meraih gelar Doctor atau Ph.D dengan predikat “cum laude”, bahkan “summa cum laude” di lembaga pendidikan tinggi luar negeri, padahal kita semua tahu bahwa para pelajar di bidang ilmu-ilmu eksakta dan kealaman pada umumnya relatif lemah berbahasa asing.

Lalu, apakah sebenarnya ukuran yang tepat dari “keinternasionalan” sistem pendidikan nasional? Mengapa bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar? Mengapa tidak bahasa Perancis atau bahasa Jerman? Padahal prestasi keilmuan dan teknologis dari pembelajaran di kedua negeri Eropa Barat itu tidak lebih rendah daripada prestasi keilmuan dan teknologis di negeri-negeri Anglo-Saxon. Jepang dan China yang kini mulai kita kagumi kemajuan IPTEK-nya tidak menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pembelajaran di sekolah-sekolah mereka.

Sungguh patut disesalkan mengapa Pemerintah Nasional, Penguasa Negara kita, yang justru memelopori penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pembelajaran di sekolah-sekolah yang didirikan dan dikelolanya. Kalau hal ini dilakukan oleh lembaga pendidikan swasta, mungkin masih pantas dimaafkan. Jangan heran kalau di negeri tercinta ini mulai menyusup persekolahan asing, yang tidak hanya dilakukan oleh pihak swasta asing tetapi oleh pemerintah asing itu sendiri, walapun tidak secara terang-terangan.

Di Perancis, setahu saya, jangankan orang asing, swasta nasional saja tidak diizinkan mendirikan dan menyelenggarakan lembaga pendidikan. Pendidikan adalah urusan monopolitis pemerintah. Sebab pendidikan nasional di sana tidak hanya bertujuan membentuk manusia Perancis yang cerdas, tetapi bertujuan sekaligus menempa anak Perancis menjadi “citoyen”, menjadi warga Negara yang handal, yaitu yang kukuh berbudaya nasioanal (Perancis).

Saya menuntut pembubaran RSBI dan SBI berdasarkan alasan nalariah yang lain lagi, yaitu yang keempat. Alasan ini tampil di benak saya setelah mengetahui bahwa standar pendidikan negara maju yang dipakai sebagai pedoman pembelajaran di RSBI dan SBI adalah standar kompetensi salah satu sekolah terakreditasi dinegara anggota OECD, yaitu “Organisation for Economic Co-operation and Debelopment”. Sikap ini sungguh “belachelijk”, menertawakan. OECD adalah sebuah organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan. Negara-negara belum maju (developing countries), termasuk Indonesia . Apakah kita dianggap perlu menyiapkan anak-anak Indonesia untuk bisa diterima sebagai “pegawai” di situ?

Saya tahu persis bahwa di semua Negara maju anggota OECD, lembaga pendidikannya dipertahankan bersifat nasional, menggunakan bahasa nasional masing-masing sebagai bahasa pengantar pembelajaran vak apa saja. Kalaupun mereka berusaha memperbaiki atau meningkatkan mutu pendidikannya nasionalnya, atas pertimbangan apa pun, mereka berkonsultasi kepada UNESCO, yaitu lembaga PBB yang bertugas khusus mengurus dan menangani masalah-masalah ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pendidikan dan kaitannya satu sama lain. Indonesia adalah anggota penuh dari UNESCO, punya duta besar tersendiri di UNESCO, yang pada azasnya direkrut dari para pejabat di jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mengapa kita tidak menelaah saja publikasi dari lembaga dunia ini, yang dengan setia dan terbuka memuat hasil-hasil seminar, simposium dan pendapat perorangan dari para ahli di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pendidikan? Untuk apa kita menjadi anggota lembaga prestisius ini, dengan setia membaya iuran keanggotaan, kalau kita tidak berniat memanfaatkan ide-ide cemerlang yang dipaparakan dan digodok di lembaga ini? Betul-betul “belacelijk”.

Masih ada alasan nalariah kelima yang mendasari tuntutan saya untuk membubarkan RSBI dan SBI. Pendidikan sudah ditetapkan oleh konstitusi dan konsensus nasional sebagai salah satu jalur pemerataan peningkatan akal budi warga kita, jadi menerapkan azas egaliter dalam pelaksanaan pendidikan. Sedangkan melalui aneka keistimewaan yang ditopang oleh aneka jenis penandaan yang sudah mulai dipertanyakan efektivitas penggunaannya, RSBI dan SBI dengan sengaja menimbulkan kekastaan di kalangan warga yang justru mau dihapus oleh revolusi kemerdekaan nasional, bahkan telah dirintis ke arah sana sejak sebelum kemerdekaan oleh beberapa tokoh pendiri NKRI: Willem Iskandar di Tapanuli Selatan dengan sekolah guru perintisnya, Moh. Sjafei di Minangkabau dengan “ De Indonesia she Nijerheidschool” dan Ki Hadjar Dewantara dengan Taman Siswanya.

Kastanisasi yang dilakukan oleh RSBI dan SBI dengan sengaja menyiapkan dua jenis pokok warganegara. Kelompok pertama dibuat cerdas begitu rupa hingga kelak bisa menjadi peserta aktif dalam proses pembangunan nasional dengan segala imbalannya. Kelompok kedua disiapkan menjadi sekadar menjadi penonton belaka dalam proses pembangunan nasional, tidak “ diwongke”. Mengingat hal ini dilakukan oleh sekolah-sekolah pemerintah, berarti pemerintah telah melanggar azas demokrasi pendidikan, yang ukuran pelaksanaannya adalah kenaikan mutu pendidikan yang semakin tinggi untuk jumlah anak didik yang semakin banyak dan dalam jumlah yang semakin banyak ini terdapat anak-anak dari kalangan keluarga yang tidak berpunya. Dengan kata lain, tidak dibenarkan adanya komersialisasi pendidikan di jenjang pendidikan apapun.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang terhormat.

Kalaupun saya menuntut pembubaran RSBI dan SBI secepat mungkin, bukan berarti saya menolak usaha pengangkatan suatu pendidikan kita ke taraf internasional. Juga jangan disimpulkan bahwa saya tidak setuju pada pembelajaran bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, di lembaga pendidikan kita, baik pemerintah maupun swasta, di pusat dan di daerah.

Pemerintah harus terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan, karena selain hal ini telah diamanatkan Konstitusi, juga demi penghargaan riil dari Negara Bangsa lain terhadap bobot intelegensi dan kecakapan teknologis dari warga kita di kancah pergaulan internasional di zaman globalisasi yang kian merajalela. Yang saya tentang adalah cara yang dipilih dan standar yang dipakai dalam usaha peningkatan mutu tersebut, cara dan standar yang saya anggap terlalu simplistic. Para pendiri dan penyelenggara system pembelajaran di RSBI dan SBI tidak punya kearifan untuk membedakan antara “ memahami” (to comprehend) dan membenarkan (to justify). Apa yang kita pahami baik di negeri lain, betapa pun majunya, tidak dengan sendirinya bisa dibenarkan untuk diterapkan begitu saja di negara kita. Bila lembaga pendidikan betul-betul hendak dijadikan bagian organik dari bangsa, memang seharusnya begitu, hendaknya perlu disadari bahwa keberhasilan kerjanya lebih banyak ditentukan oleh kebudayaan dimana lembaga pendidikan berada secara alami ketimbang oleh paedogogi yang secara artirisial dimasukkan ke dalam sistem pendidikan.

Saya pun tidak menolak bahasa asing di sekolah. Bahasa-bahasa asing memang pantas dibelajarkan di sekolah, tetapi sebagai mata pelajaran biasa disamping vak-vak lainnya, bukan lalu difungsikan sebagai bahasa pengatur pembelajaran menggantikan bahasa Indonesia. Menurut ukuran UNESCO bahasa Indonesia sudah memenuhi syarat bahasa modern karena sudah dipakai untuk membahas hal-hal dan tema yang abstrak, seperti ilmu pengetahuan dan filsofi. Bahasa asing perlu dipelajari karena ia merupakan “jendela dunia”, window of the world, yang dapat memperluas pengetahuan, visi kita, sehingga tidak menjadi seperti katak di bawah tempurung. Hanya kita perlu elektif dalam mengadakan pilihan bahasa mana yang perlu dipelajari dan di jenjang pendidikan yang mana. Sebab di dalam memilih itu kita sebenarnya menentukan bagaimana kita melihat dunia dan bagaimana kita sendiri melihat kita dalam gambaran dunia tersebut. Putusan yang kita ambil dengan sendirinya menjadi koordinat bagi langkah kita maju ke depan, ukuran apakah kita sudah melenceng dari tujuan semula atau tidak.

Saya telah mengalami nikmat penguasaan bahasa asing yang dahulu saya peroleh ketika duduk di bangku sekolah menengah berbahasa Belanda di zaman kolonial. Bahasa Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman yang dahulu diajarkan kepada saya ternyata sangat membantu saya dalam memperluas visi kehidupan , mendalami semua pengetahuan yang dipaparkan dalam bahasa-bahasa tersebut.

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang saya hormati.

Para Hakim anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang terdidik.
Saya pikir sudah saya utarakan secara garis besar apa yang pantas diungkapkan dalam rangka tuntuan pembubaran RSBI dan SBI, sebagai tambahan dari apa-apa yang sudah diketengahkan di masyarakat luas secara terbuka, secara lisan atau melalui tulisan media.

Bukan pisang sembarang pisang, pisang tumbuh di halaman. Bukan datang sembarang datang, saya datang membawa pesan.

Terimakasih saya ucapkan atas perhatian dan kesediaan mendengar uraian saya yang mengandung pesan ini. Pesan dari seorang warganegara yang tetap ingin bertanggung jawab atas masa depan bangsa melalui pelaksanaan pendidikan yang bener dan pener.

Jakarta, 15 Mei 2012

100 peringkat perguruan tinggi Asia

Berikut daftar 100 peringkat perguruan tinggi Asia yang didasarkan pada pemeringkatan situ. Metodologi yang digunakan Webometrics dalampenyusunan ranking didasarkan pada 4 unsur penilaian, yaitu

  1. Visibilitas (50%) = banyaknya link eksternal yang terkandung website
  2. Ukuran (20%) =jumlah halaman yang tertangkap oleh mesin pencari seperti : Google, Yahoo, Live Search dan Exalead
  3. Jumlah File (15%) = banyak file akademik dan kegiatan publikasi penelitian berupa file .pdf, .ps, .doc, .ppt
  4. Google Schoolar (15%) = banyak file website yang diambil melalui Google Scholar
Asia Perguruan Tinggi Negara Dunia
1 University of Tokyo Jepang 52
2 National Taiwan University China Taiwan 55
3 Kyoto University Jepang 78
4 Peking University China 117
5 University of Hong Kong China Hongkong 121
6 National University of Singapore Singapura 135
7 Keio University Jepang 152
8 Chinese University of Hong Kong China Hongkong 156
9 Hebrew University of Jerusalem Israel 169
10 National Chiao Tung University China Taiwan 179
11 Seoul National University Korea Selatan 182
12 Korea Advanced Institute of Science & Tech. Korea Selatan 204
13 Technion Israel Institute of Technology Israel 208
14 Nagoya University Jepang 216
15 Tel Aviv University Israel 235
16 Osaka University Jepang 240
17 Tsinghua University China China 241
18 Weizmann Institute of Science Israel 257
19 University of Tsukuba Jepang 260
20 National Taiwan Normal University China Taiwan 273
21 National Cheng Kung University China Taiwan 274
22 National Sun Yat-Sen University China Taiwan 282
23 Tohoku University Jepang 289
24 King Saud University Saudi Arabia 292
25 Prince of Songkla University Thailand 295
26 King Fahd University of Petroleum & Minerals Saudi Arabia 302
27 National Tsing Hua University Taiwan China Taiwan 308
28 Tokyo Institute of Technology Jepang 343
29 Kyushu University Jepang 348
30 Shanghai Jiao Tong University China 355
31 Chulalongkorn University Thailand 369
32 National Central University China Taiwan 370
33 Pohang University of Science & Technology Korea Selatan 372
34 Kobe University Jepang 383
35 National Chung Cheng University China Taiwan 384
36 Hong Kong University of Science & Tech. China Hongkong 387
37 National Chengchi University China Taiwan 391
38 Kasetsart University Thailand 418
39 ZheJiang University China 425
40 Middle East Technical University Turki 428
41 Bilkent University Turki 430
42 Ben Gurion University of the Negev Israel 431
43 City University of Hong Kong China Hongkong 435
44 Nanyang Technological University Singapura 442
45 Indian Institute of Technology Bombay India 455
46 Korea University Korea Selatan 468
47 Fudan University China 477
48 Hong Kong Polytechnic University China Hongkong 482
49 Bogazici University Turki 489
50 Tamkang University China Taiwan 491
51 Ritsumeikan University Jepang 506
52 University of Haifa Israel 510
53 Hiroshima University Jepang 517
54 Hong Kong Baptist University China Hongkong 520
55 I-Shou University China Taiwan 529
56 Mahidol University Thailand 548
57 United Nations University Jepang 559
58 National Chung Hsing University China Taiwan 564
59 Yonsei University * Korea Selatan 565
60 Indian Institute of Science Bangalore India 580
61 Bar Ilan University Israel 595
62 Shandong University China 598
63 Sungkyunkwan University * Korea Selatan 604
64
Gadjah Mada University Indonesia 623
65 Chiang Mai University Thailand 633
66 Pusan National University Korea Selatan 655
67 Providence University China Taiwan 659
68 Nanjing University China 664
69 Kyungpook National University Korea Selatan 669
70 Thammasat University Thailand 675
71
Institute of Technology Bandung Indonesia 676
72 Khon Kaen University Thailand 680
73 Wuhan University China 691
74 Asian Institute of Technology Thailand Thailand 709
75 Fu Jen Catholic University China Taiwan 716
76 Ankara University Turki 733
77 Waseda University Jepang 743
78 Hosei University Jepang 747
79 Feng Chia University China Taiwan 748
80 Hanyang University Korea Selatan 767
81 Yuan Ze University China Taiwan 772
82 Japan Advanced Institute of Science & Tech. Jepang 778
83 University of Electro-Communications Jepang 785
84 Xiamen University China 788
85 East China Normal University China 797
86 Tokai University Jepang 798
87 Okayama University Jepang 799
88 Tokyo University of Science * Jepang 802
89 Nihon University Jepang 803
90 Renmin University of China China 807
91 Istanbul Technical University Turki 812
92 Mie University Jepang 816
93 Ryukoku University Jepang 822
94 Yamagata University Jepang 833
95 Doshisha University Jepang 834
96 National Taiwan University of Science & Tech. China Taiwan 836
97 Indian Institute of Technology Kanpur India 844
98 Universiti Sains Malaysia Malaysia 845
99 Shih Hsin University China Taiwan 851
100 Hacettepe University Turki 852