Tag Archives: SETETES EMBUN

Ibu, pulanglah

Wahai ibu,…Mentadaburi ayat di bawah ini sebenarnya kita sangat khawatir sekali, karena ayat ini seringkali kita tolak dalam prakteknya di kehidupan sehari-hari. Sejenak mari kita perhatikan, ketika Allah SWT berfirman dengan sangat jelas dalam surat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi :

Presentation1

Artinya : “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Kalimatnya sangat jelas, di awal ayat Allah SWT mengingatkan kaum hawa untuk tetap di rumah, artinya wanita posisinya memang berada di rumah. Dan di zaman sekarang, di peradaban modern ini termasuk di Indonesia wanita digiring untuk meninggalkan rumahnya masing-masing dengan semua alasannya. Dengan alasan ekspresi ilmu di masyarakatnya. Dengan alasan wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dan kita lupa bahwa laki-laki tidaklah sama dengan perempuan. Dan tentunya karena perbedaan tersebut maka antara laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang berbeda pula. Karena berbeda itulah maka Allah yang Maha Tahu telah meletakan bahwa tugas dan tanggung jawab wanita yang pertama ada di rumah mereka.

Maka bukankah sudah saatnya kita dan keluarga kita merenung dan mentadaburi, apakah ini salah satu alasan mengapa keluarga kita bermasalah dan mengapa anak-anak kita menjadi sangat tidak istimewa lagi..

Maka ibu pulanglah….

Suamimu ingin mereguk di telaga cintamu

Ibu pulanglah di luar sana sangat tidak ramah untuk kelembutanmu

Ibu pulanglah.. istanamu menunggu sentuhan surgawimu

Ibu pulanglah calon orang besar sudah duduk dengan manisnya

Siapuntuk belajar di madrasahmu

Ibu pulanglah pemimpin hidup masa depan umat ini, ia hanya ingin merasakan tatapan teduh pandanganmu

Ibu pulanglah karena Allah yang memerintahkan para ibu untuk pulang

Ibu pulang sebelum semuanya terlambat.

Thanks to : Budi Ashari

Menuai buah kebajikan

Ada pepatah yang mengatakan “ siapa yang menanam pohon maka ia akan menuai buah ” yang bermakna barangsiapa yang menanam kebajikan maka ia akan memperoleh sesuatu yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Sore ini saya bertemu dengan siswa saya yang saat ini baru selesai melewati tahap yang paling membuat setiap jantung siswa berdetak kencang yakni “UN Nasional”, walaupun tensinya sudah mulai turun karena terbitnya peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nasional yang baru mengenai sarat kelulusan bagi siswa SD, SMP dan SMA. Peraturan baru tersebut menyatakan bahwa UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan, ada komponen lain yang harus dipertimbangkan sehingga keputusan kelulusan kini tidak otomatis bisa diketahui setelah pengumuman hasil UN Nasional melainkan melalui rapat yang dilakukan oleh pihak sekolah. Semoga keputusan ini berdampak positif bagi psikologis siswa kita yang setelah beberapa tahun terakhir seolah-olah tidak percaya diri , terlalu takut dan menganggap UN sebagai sebuah teror pendidikan.. Ada-ada saja.

Baiklah, sebut saja siswa saya bernama Fulanah, terlihat ceria, semangat, dan lebih optimis. Ia datang kepada saya dan memohon pamit karena Alhamdulillah telah diterima di Jurusan Hubungan Internasional UGM Yogyakarta. Jurusan yang merupakan bagian dari Fakultas FISIP POL UGM tersebut menjadi incarannya sejak dulu, sesuai dengan cita-cita yang sempat disampaikan kepada saya : menjadi seorang diplomat!!

Saya turut senang dengan hasil yang telah ia capai, kegembiraan seorang guru adalah ketika muridnya telah mencapai hasil yang optimal sesuai dengan kapasitasnya. Siapapun dan dimanapun guru itu mengajar, kelelahan yang selama ini dieasakan dalam kegiatan proses belajar mengajar seolah terlupakan oleh keberhasilan yang diraih oleh siswanya. Dan saya pun faham selama berinteraski di kelas ia adalah sosok siswa yang cerdas dan kritis, artinya ia memasuki jurusan dengan bekal softskill yang cukup dan itu tentunya akan menjadi bekalnya untuk menggapai masa depan kelak.

Pesan saya kepadanya pertama, seperti apapun profesinya nanti apakah menjadi seorang diplomat negara ataukah  bekerja di lembaga internasional tentunya nilai-nilai keislaman yang selama ini dianut harus tetap dipertahankan atau bahkan ditingkatkan lagi. Jadilah seorang muslim yang profesional dan memperjuangkan kebaikan umat muslim pada khususnya dan manusia seluruh dunia tentunya. Kedua, janganlah menjadi kabur dan gelap mata setelah bergaul di level internasional, ingatlah jati diri kita sebagai bagian bangsa Indonesia. Kelak sebaiknya ketika pikiran kita sudah menglobal harus bertindak secara lokal, supaya dampak kebaikan lebih dirasakan oleh kebanyakan orang.

Inilah buah yang dipanen oleh seorang guru, keberhasilan anak didiknya. Barakallah, Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan hidup untuk diriku, guruku, muridku, dan tentunya kaum muslimin di  belahan bumi manapun.   Amiin

Wallahu’alam,

Menyiapkan Generasi Untuk Menghadapi Tantangan Masa Depan Anak-Anak

Salah satu kesalahan terbesar parenting dan edukasi adalah terpaku pada masa kini sehingga tidak benar-benar menyiapkan anak-anak untuk menghadapi persaingan di masa depan. Padahal program pendidikan dan parenting baru akan terpakai 20 tahun mendatang, sehingga kalau kita mengacu pada masa kini mungkin 20 tahun mendatang anak-anak kita jadi anak yang ketinggalan zaman. Apa yang penting sekarang mungkin akan basi 20 tahun mendatang sebaliknya apa yang sekarang tidak penting mungkin menjadi kebutuhan pokok di masa mendatang. Apa yang sekarang bukan masalah mungkin 20 tahun mendatang akan menjadi masalah besar. Apakah anak-anak kita akan siap menghadapinya? Bahkan yang sekarang masih remaja atau mahasiswa mungkin juga akan menemukan masalah 20 tahun mendatang kalau tidak disiapkan dari sekarang.

Di bawah ini adalah sedikit kemungkinan yang mungkin akan dihadapi anak-anak kita di masa depan, dan orang tua dengan No Excuse! harus mempersiapkan anak-anak, dengan apapun yang ada.

Masalah pertama;
Pendidikan yang tidak up to date (Contoh 1)
Prediksi: Masa depan nanti akan didominasi oleh teknologi informasi karena itu harus disiapkan anak-anak yang melek IT
Masalah: Kurikulum pendidikan kita masih berkutat di pembagian ilmu sosial dan science. Dulu ada A1 (Fisika), A2 (Biologi), A3 (Sosial) atau A4 (bahasa)
Solusi: Harusnya sekarang disekolah harus disiapkan anak-anak melek IT even di daerah terpencil. Kalau perlu ada Sosial, Science dan IT. Menurut saya lab IT komputer lebih penting dari lab bahasa atau lab biologi. Karena dengan komputer bisa mempermudah semua. Lab bahasa terlalau mahal dan tidak terlalu bermanfaat.
Lab komputer selain penting bisa fleksible. Lab komputer dengan desain tertentu bisa difungsikan sebagai lab bahasa, atau lab percobaan online, dsb.
No Excuse!: Kalau pemerintah belum mampu maka kita orang tua harus No Excuse meyiapkan anak-anak untuk melek teknologi. Karena itu akan jadi kebutuhan masa depan.
Termasuk bagi orang tua yang buta IT harus belajar IT.

Pendidikan yang tidak up to date (Contoh 2)
Anak-anak masih dijejali ilmu yang pasti tidak bermanfaat di masa depan.
Misalnya pengetahuan yang berlaku sekarang tapi ketika mereka besar pasti tidak berlaku lagi.
Misalnya : Menghapal nama menteri, pasti ketika mereka besar menterinya sudah ganti.

Masalah kedua;
Sumber Daya Alam Yang Makin Kritis
Indonesia baru-baru ini keluar dari OPEC, kenapa? Karena OPEC adalah persatuan negara pengekspor minyak dan Indonesia kini menjadi negara pengimpor minyak.
Produksi minyak menyusut, konsumsi bertambah, sehingga kita impor minyak dari luar negeri.
Fakta yang diungkap di buku No Excuse! halaman 146 cukup menyeramkan:
Kita saat ini menjadi pengekspor batu bara terbesar di dunia. Bangga? Jangan dulu. Karena ternyata cadangan batu bara kita hanya 3,1% dari batu bara di dunia. Kok bisa ya punya sedikit batu bara tapi mengekspor paling banyak. Ternyata negara lain sengaja menyimpan cadangan batu bara mereka untuk masa depan. Sepanjang mereka bisa mengeruk dari Indonesia dengan harga murah, mereka menyimpan batu bara mereka. Bahkan Cina kabarnya juga mengimpor jutaan ton batu bara dan menyimpannya jadi cadangan. Bisa jadi di masa depan Indonesia malah beli kembali batu bara dulu diekspor dengan harga berlipat. Demikian juga dengan gas alam. Indonesia merupakan salah satu pemasok gas alam terbesar di banyak negara. Padahal cadangan gas alam kita hanya 1,6% gas alam dunia.

Artinya apa?
Jika tidak ada perubahan kebijakan, jika tidak ada bahan bakar baru yang murah, mungkin di masa depan anak-anak kita akan mengalami krisis bahan bakar.
Harga-harga akan melambung tinggi. Karena itu kita harus menyiapkan anak-anak kita bukan sebagai anak biasa, bukan sebagai calon pegawai, tapi mereka harus menjadi enteprenur (wirausahawan) atau pemimpin visioner. Jika kita ingin anak kita survive.

Masalah ketiga: Lingkungan masa depan yang makin tidak ramah
Lingkungan informasi.
Dengan berkembangnya teknologi informasi tanpa batas, maka segala informasi bisa diterima anak-anak kita yang baik maupun yang buruk (pornografi, dsb).
Kita harus menyiapkan anak- kita menjadi anak yang imun, bukan steril, karena sulit sekali menghindari pengarus keterbukaan.

Lingkungan alam
Di masa depan lingkungan alam mungkin juga tidak ramah. Dulu kita sering diajarkan bahwa Jepang adalah negara gempa padahal ternyata gempa di Indonesia jauh lebih sering terjadi di Indonesia. Sebagian besar bangunan di Jakarta tidak disiapkan untuk menghadapi gempa di atas 7-8 skala richter. Artinya kalau ada gempa sekelas Aceh yang mencapai 9 skala ricter bisa banyak bangunan hancur. Kenapa ini terjadi? Karena dulu dibangun tidak dengan visi jangka panjang kemungkinan terburuk. Memang dulu jarang sekali ada gempa di atas 8 skala richter tapi setelah Aceh, terjadi juga gempa besar di Nias, Padang bahkan ke Jogja. Karena itu kita harus sadar alam semakin tidak ramah. Anak-anak kita harus punya penghasilan besar untuk memenuhi standar alam yang semakin tidak ramah ini.

Global Warming
Akibat global warming diperkirakan tinggi laut bertambah setiap tahun. Diperkirakan sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum tahun 2030 dan hal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.500 pulau-pulau di wilayahnya.

Lingkungan Politik dan Ekonomi
Sekarang kekuatan ekonomi bergeser ke Cina, bahkan Rusia. Dua negera yang punya kekuatan militer dan ekonomi yang kuat. Berbeda dengan Amerika yang penduduknya heterogen (plural) sehingga sulit untuk ekspansi, kekuatan baru Cina cukup mengkhawatirkan. Berkali-kali Cina menjamin kekuatannya adalah kekuatan damai, tapi dengan tetap memegang ideologi komunisme. Bagaimana 20 tahun ke depan ketika kekuatannya makin membesar? Apakah Anda ingin anak-anak mengekor dan belajar bahasa Mandarin, atau menyiapkan anak-anak yang siap bersaing dengan kemajuan Cina?

Masalah keempat:
Memprediksi pekerjaan dan keahlian yang dibutuhkan untuk masa depan. Di masa depan mungkin penerjemah makin sedikit dibutuhkan karena software translator akan canggih. Tapi semua anak harus bisa bahasa Inggris karena hampir semua bahasa internet ada di sana. Di masa depan mungkin banyak dibutuhkan pekerjaan berkaitan dengan IT Di masa depan mungkin…
Coba pikirkan apa? Sehingga kita tidak salah menyiapkan anak-anak kita. Intinya kita harus memprediksi masa depan untuk menyiapkan anak-anak kita.
Lalu dengan No Excuse! kita harus persiapkan anak-kita dengan bekal terbaik. Sebagai orang tua, Anda mungkin sibuk, cari duit saja susah, waktu terbatas, tapi tetap No Excuse! Anda harus persiapkan yang terbaik untuk anak-anak.

Ali Alamsyah

Fenomena Belajar

Seorang anak muda mengunjungi seorang ahli permata dan menyatakan maksudnya untuk berguru. Ahli permata itu menolak pada mulanya, karena dia kuatir anak muda itu tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Anak muda itu memohon dan memohon sehingga akhirnya ahli permata itu menyetujui permintaannya. “Datanglah ke sini besok pagi,” katanya.

Keesokan harinya, ahli permata itu meletakkan sebuah batu berlian di atas tangan si anak muda dan memerintahkan untuk menggenggamnya. Ahli permata itu meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore.

Hari berikutnya, ahli permata itu kembali menyuruh anak muda itu menggenggam batu yang sama dan tidak mengatakan apa pun yang lain sampai sore harinya. Demikian juga pada hari ketiga, keempat, dan kelima.

Pada hari keenam, anak muda itu tidak tahan lagi dan bertanya, “Guru, kapan saya akan diajarkan sesuatu ?” Gurunya berhenti sejenak dan menjawab, “Akan tiba saatnya nanti,” dan kembali meneruskan pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian, anak muda itu mulai merasa frustrasi. Ahli permata itu memanggilnya dan meletakkan sebuah batu ke tangan pemuda itu. Anak muda frustrasi itu sebenarnya sudah hendak menumpahkan semua kekesalannya, tetapi ketika batu itu diletakkan di atas  tangannya, anak muda itu langsung berkata, “Ini bukan batu yang  sama.”

“Lihatlah, kamu sudah belajar,” kata gurunya. “Belajar bersabar dan belajar membedakan antara permata dengan berlian..”