Tag Archives: tanaman obat

Sediaan Obat Tradisional di Indonesia

Seiring dengan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat akan jenis dan manfaat tanaman obat (herbal), pelan namun pasti telah membuka jalan bagi tumbuh dan berkembangnya obat dan pengobatan tradisional. Setelah sekian lama kita menggunakan cara pengobatan modern berbasis bahan kimia sintetis, konsumsi obat yang berasal dari bahan baku tumbuhan atau hewan menjadi salah satu alternatif metode penyembuhan dengan berbagai keunggulan. Selain itu gaya hidup modern yang cenderung kembali ke alam (back to nature) turut mendorong semakin meningkatnya eksplorasi, penelitian senyawa bioaktif, dan produksi obat herbal baik secara tradisional ataupun modern.

Menurut Undang-undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yang dimaksud dengan obat tradisional adalah bahan ataupun ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, hewan, bahan mineral, sediaan galenik, atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan dan telah diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Obat tradisional yang awalnya diproduksi oleh pengobat tradisional untuk pasiennya dalam lingkungan terbatas, kemudian berkembang menjadi industri rumah tangga, dan kini bahkan telah diproduksi oleh bukan hanya industri obat kecil tradisional, bahkan telah berkembang pada industri obat tradisional (IOT) dalam skala besar.

Berbagai macam varian obat tradisional telah diproduksi, untuk mempermudah pengawasan dan perizinan maka BPPOM telah mengklasifikasikan obat tradisional ke dalam tiga bentuk sediaan yaitu jamu, obat herbal terstandar dan produk fitokimia.Berikut ini adalah perbedaan antara jamu, obat herbal erstandar, dan fitofarmaka :

Logo IOT

Jamu merupakan  obat tradisional Indonesia yang berasal dari pengetahuan masyarakat (fakta empiris) dan diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu dalam kemasan jamu sering kita temukan kata “dipercaya berkhasiat untuk mengobati…..” Klaim khasiat ramuan jamu diperoleh bukan dari kegiatan percobaan atau penelitian yang bersifat ilmiah, namun diperoleh dari pengetahuan yang berkembang di masyarakat dan diwariskan secara turun temurun.  Contoh produk jamu yang sudah kita kenal adalah jamu sido muncul, bintang toejoeh, air mancur dan lain-lain.

Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah telah dibuktikan kemanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan praklinis serta telah dilakukan standarisasi pada bahan baku yang digunakan. Uji praklinis yang dilakukan diantara adalah uji eksperimental in vitro, uji eksperimental in vivo, uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronik, dan uji toksisitas khusus. Obat herbal terstandar memiliki ciri logo tertentu yang berbeda dengan logo produk jamu dan fitofarmaka, contoh produk yang beredar di masyarakat diantaranya tolak angin, diapet, lelap, reumaker, dan lain-lain.

Fitofarmaka merupakan sediaan bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji klinis dan praklinis. Uji klinis tanaman obat dilakukan untuk memperoleh bukti klinis bahwa obat tersebut bermanfaat, sehingga konsumen yakin akan klaim obat tersebut dari awal. Sebagai contoh produk X mengklaim bahwa produknya mampu menyembuhkan gejala sakit hepatitis, maka uji klinis yang dirancang dengan menghadirkan penderita hepatitis pada stadium dan persyaratan kesehatan tertentu untuk diuji menggunakan produk  X. Pada obat herbal terstandar selain standarisasi bahan baku,  produk jadinya pun distandarisasi untuk memastikan kualitas produk yang diharapkan. Logo pada produk fitofarmaka berbeda dengan logo produk jamu dan obat herbal terstandar. Produk fitofarmaka yang terdapat di Indonesia diantaranya : Stimuno, Nodiar, X-gra, Tensigard, dan lain-lain.

Bagaimana dengan sediaan obat herbal di Eropa ?

Produk obat herbal di Eropa berbasis pada produk ekstrak terstandar. Produk ekstrak terstandar dihasilkan oleh industri ekstrak sebagai industri bahan baku obat herbal (industri antara). Produk ekstrak terstandar sendiri dilindungi oleh hak paten dan merk sehingga menjamin perusahaan tersebut memiliki hak guna atas metode ekstraksi yang digunakan dan produk yang dihasilkan nantinya. Biasanya untuk satu tanaman obat terdapat 2-4 brand yang berbeda dan setiap brand bersaing di pasaran atas dasar kelengkapan data uji klinik atas klaim khasiat. Produk obat herbal di Eropa setara dengan produk fitofarmaka di Indonesia. Regitrasi yang digunakan hampir sama dengan pendaftaran obat pada umumnya yakni melalui NDA (new drug application). Oleh sebab itu maka tidak mengherankan apabila produk obat herbal di luar negeri mudah diperoleh karena bersaing secara seimbang dengan obat berbahan kimia sintetis.

Bagaimana proses ekstraksi yang digunakan pada tanaman obat akan saya sampaikan pada tulisan selanjutnya.

Curcuma, ornamental plant

Genus Curcuma merupakan anggota famili Zingiberaceae yang memiliki lebih dari 50 spesies yang tersebar di asia dan Australia. Beberapa spesies Curcuma digunakan sebagai tanaman obat dan aromatik.  Genus Curcuma memiliki potensi lain yang belum dioptimalkan yaitu sebagai tanaman hias (ornamental plant). Tanaman genus Curcuma memiliki warna bunga yang luas dan morfologi yang berbeda-beda saat mekar. Sebagai contoh Curcuma alismatifolia Gagnep tanaman endemik di Thailand bagian utara sudah diperkenalkan sebagai tanaman hias sejak tahun 1990. Bahkan sejak ditemukannya teknologi kultur jaringan, usaha bunga potong tanaman tersebut menjadi lebih ekonomis. Penelitian yang berhubungan dengan pertumbuhan dan fisiologi pembungaan masih terus berkembang untuk mendapatkan produksi bunga yang berkualitas.

Ada banyak potensi sumber daya genetik kita yang belum termanfaatkan dengan baik. Pencinta bunga lebih banyak memanen bunga dan tanaman dari alam daripada membudidayakannya. Memang secara ekonomi memanen bunga langsung dari alam memiliki ongkos/biaya yang lebih kecil, namun tanpa disadari mereka telah mempercepat kepunahan jenis-jenis tertentu yang memiliki laju pertumbuhan yang lambat.

Di bawah ini beberapa contoh bunga genus Curcuma yang telah berhasil diidentifikasi.  Sangat Indah bukan ?

Slide4

Slide2
Zaveska et al. 2012

Slide3Slide4Slide5

Slide7

Kita bisa melihat berbagai kombinasi bunga yang tumbuh dengan ragam warna dan bentuknya. Peluang pengembangan tanaman genus Curcuma sebagai bunga  potong cukup besar. Kita bisa memanen bagian rimpang sebagai bahan baku tanaman obat dan sekaligus bunganya secara bersamaan. Gambar yang saya lampirkan adalah sebagian kecil sumber genetik yang kita miliki. Kita bisa menemukannya sekarang, namun kita tidak tahu keberadaanya nanti. Teknik budidaya mutlak diperlukan untuk mendomestikasi jenis jenis yang komersial sehingga stok/ cadangan tanaman induknya masih bisa kita lihat di alam.

IST3 Biofarmaka IPB

The Third International Symposium on Temulawak and Potential Plants for Jamu atau IST3 telah dilaksanakan pada hari Rabu -Kamis, 02-03 September 2015 di IPB International Convention Center (IICC), Bogor. Menghadirkan banyak pembicara yang berkompeten dalam bidang pengembangan tanaman obat dunia, diantaranya Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Riset dan Pendidikan tinggi, Prof Tohru Mitsunaga, Prof William Volk, Prof. Nyoman Kertia, Prof Jaya Suprana, Prof. Wei Zhang, Prof. Ken Tanaka, Prof. Yaya Rukayadi dan Prof. latifah K. Darusman.Selain itu dilaksanakan pula kegiatan presentasi oral dan poster yang dilaksanakan pada sesi yang lain. Alhamdulillah pada kesempatan tersebut saya diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil penelitian saya melalui presentasi oral.

IMG_7531
Prof Yaya Rukayadi
IMG_7541
Prof Ken Tanaka
IMG_7525
Prof. Nyoman Kertia

Simposium tersebut merupakan serangkaian acara HUT Biofarmaka ke-17 yang juga menyelenggarakan event lain seperti Workshop Kemometrik dan Metabolomik dalam Pengembangan Jamu, Festifal jamu, Lomba penulisan artikel di blog, Lomba penulisan Artikel Jamu untuk koran atau majalah ilmiah. Salah satu blogger yang hadir dalam pengumuman pemenang adalah Mba Evrina sebagai peraih juara 3 lomba penulisan artikel jamu di blog.

f (2)
Pembagian Hadiah Pemenang Lomba Menulis Artikel Jamu di Blog

Sebagai negara dengan keanekaragaman yang tinggi (sekitar 30.000 jenis tanaman tropis dunia hidup di Indonesia dan 7.000 diantaranya berkhasiat obat). Jamu sebagai warisan budaya bangsa Indonesia yang dalam pengembangannya perlu dilakukan dengan sistem berkelanjutan. Mulai dari hulu (aspek budidaya) maupun hilir (pengolahan dan pemasaran) pengembangan jamu harus dilakukan dengan cara yang tepat yakni cara Indonesia.

Dari hasil presentasi baik pembicara maupun peserta seminar terdapat banyak potensi baik segi budidaya maupun teknologi terapan pengembangan jamu berbahan tanaman obat. Artinya dari segi teknologi maupun ilmu pengetahuan sesungguhnya kita sudah sangat siap menghadapi persaingan dengan negara-negara penghasil bahan alam lainnya. Saya turut berbangga hati, karena tulisan saya diberikan kesempatan untuk dipresentasikan secara oral.

gen

Yang menjadi permasalahan adalah seberapa besar keberpihakan kita terhadap produk jamu. Dari sejumlah rumah sakit yang ada di indonesia, berapa rumah sakit yang sudah berani menuliskan resep produk jamu kepada pasiennya? Saintifikasi jamu mutlak diperlukan dalam mendorong prodak jamu mendapatkan hati di tengah masyarakat kita. Produk jamu harus bisa dipastikan kehalalannya, keamanan produknya, dan tentunya khasiatnya. Itulah yang harus terus dikembangkan untuk mempercepat tingkat penerimaan jamu oleh masyarakat.

Oh iya, ikon temulawak yang sengaja diusung dalam kegiatan tersebut terinspirasi atas usaha korea dalam mengangkat Gingseng sebagai ikon kesehatan negeri tersebut, bahkan sebagian masyarakat dunia menjuluki korea dengan nama negeri ginseng. Temulawak memang cocok menjadi ikon jamu di Indonesiaseiring dengan berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan temulawak kian menjadi perhatian masyarakat. tanpa harus diuji secara klinik temulawak sebenarnya sudah menjadi minuman turun temurun yang dimanfaatkan untuk menjaga kebugaran dan stamina. Acara ini seolah-olah membawa semangat baru dalam menjadikan jamu sebagai tuan di negeri sendiri (Jaya Suprana 2015).

fr-001
Jaya Suprana sesaat sebelum meninggalkan acara