Tag Archives: temulawak

Jamu cekok, warisan budaya untuk buah hati

Bagi ayah bunda yang memiliki buah hati berusia 1-3 tahun atau usia pra sekolah pasti dihadapkan dengan kondisi anak yang enggan untuk makan, pilih-pilih makanan yang disukai, dan suit makan. Kondisi ini dikenal dengan food jag. Apabila gekala ini hanya sementara tentunya ini wajar dan seiring dengan waktu anak akan memiliki kebiasaan makan seperti biasanya.  Apabila gejala ini berkepanjangan maka ayah bunda harus waspada karena gejala ini dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan kemampuan intelektual. Anak -anak yang kehilangan nafsu makan seringkali menunjukan gejala sering menangis, muka pucat dan demam. Atau apabila tidak ditangani dengan baik akan muncul penyakit turunan lainnya seperti busung lapar, atau defisiensi terhadap kandungan gizi tertentu.

Hingga saat ini masyarakat tradisional di negara-negara berkembang masih mengandalkan pengobatan tradisional untuk menghadapi permasalahan tersebut dengan pergi ke ahli pengobatan tradisional. Tentunya diberikan resep tradsional pula. Masyarakat pulau jawa menggunakan jamu (herbal drug)  sebagai resep/ramuan tradisional. Bahkan masyarakat Indonesia telah menjadikan jamu sebagai minuman kesehatan yang digolongkan ke dalam ramuan tradisional alami karena menggunakan bahan-bahan alami seperti tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat.

Sebenarnya apa perbedaan antara obat tradisional dengan ramuan tradisional ?

Definisi obat tradisional menurut Undang-undang Kesehatan No 21 Tahun 1992 adalah bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral sediaan sarian (galenik) atau campuran bahan-bahan tersebut secara turun temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. sedangkan pengobatan tradisional menurut WHO tahun 1996 obat tradisional adalah upaya menjaga dan memperbaiki kesehatan dengan cara-cara yang telah ada sebelum pengobatan modern yang meliputi pemijatan tumbuh-tumbuhan ramuan berbahan dasar tumbuh-tumbuhan, kompres dan parem.

Bagi saya yang tinggal di pulau Jawa pun, ketika berusia pra sekolah mengalami gejala kurang nafsu makan dan sulit makan menggunakan jamu cekok. Jamu cekok mengacu kepada cara atau metode pemberian jamu yaitu dicekokan ke dalam mulut anak. Pertama-tama ramuan jamu yang berasal dari bagian tumbuhan dihaluskan dan diberikan sedikit air. Ditempatkan pada selembar kain kecil seperti sapu tangan kemudian dibungkus. Selanjutnya hidung anak dipencet hingga mulutnya terbuka dengan sendirinya. Ramuan yang telah kita persiapkan diperas di mulut sehingga cairannya tertelan ke dalam mulut. Karena rasanya yang pahit getir hampir semua anak menolak ketika dicekok, termasuk saya. 🙂

flickr
Proses pencekokan pada anak. Sumber : flickr.com

Jamu cekok dipercaya memiliki khasiat untuk meningkatkan nafsu makan anak, sekaligus membunuh cacing pengganggu dalam tubuh anak yang dengan bebasnya menyerap sari-sari makanan. Bagaimana jamu cekok dapat menambah nafsu makan ? Secara umum proses kerja jamu tersebut adalah meningkatkan metabolisme, menekan dan menghambat asam lambung dan merangsang sekresi makanan.

Bahan yang digunakan sebagai ramuan jamu cekok

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jamu vekok adalah kelompok empon-empon seperti temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kencur (Kaempferia galanga), jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa), temu hitam (Curcuma aeruginosa) dan lempuyang putih (Zingiber americans). Selain itu ditambahkan bahan lain seperti sambiloto (Andrographis paniculata), brotowali (Tinospora tuberculata), kapulaga (Amomum cardamomum), Adas (Foeniculum vulgare) dan daun pepaya (Carica papaya). Dari komposisinya saja kita sudah cukup mampu menduga betapa pahitnya ramuan tersebut. Oleh karena itu biasanya jamu cekok yang diberikan dengan cara dicekok biasanya ampuh pada saat pertama pemberian. Setelah itu jangan harap putra/putri ayah bunda mau menegaknya lagi.  Pemaksaan kadang digunakan dalam praktek pencekokan jamu tersebut.

Apakah anda tertarik dengan membuatkan jamu cekok untuk buah hati anda yang susah makan dirumah ?

IMG_7587

IST3 Biofarmaka IPB

The Third International Symposium on Temulawak and Potential Plants for Jamu atau IST3 telah dilaksanakan pada hari Rabu -Kamis, 02-03 September 2015 di IPB International Convention Center (IICC), Bogor. Menghadirkan banyak pembicara yang berkompeten dalam bidang pengembangan tanaman obat dunia, diantaranya Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Riset dan Pendidikan tinggi, Prof Tohru Mitsunaga, Prof William Volk, Prof. Nyoman Kertia, Prof Jaya Suprana, Prof. Wei Zhang, Prof. Ken Tanaka, Prof. Yaya Rukayadi dan Prof. latifah K. Darusman.Selain itu dilaksanakan pula kegiatan presentasi oral dan poster yang dilaksanakan pada sesi yang lain. Alhamdulillah pada kesempatan tersebut saya diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil penelitian saya melalui presentasi oral.

IMG_7531
Prof Yaya Rukayadi
IMG_7541
Prof Ken Tanaka
IMG_7525
Prof. Nyoman Kertia

Simposium tersebut merupakan serangkaian acara HUT Biofarmaka ke-17 yang juga menyelenggarakan event lain seperti Workshop Kemometrik dan Metabolomik dalam Pengembangan Jamu, Festifal jamu, Lomba penulisan artikel di blog, Lomba penulisan Artikel Jamu untuk koran atau majalah ilmiah. Salah satu blogger yang hadir dalam pengumuman pemenang adalah Mba Evrina sebagai peraih juara 3 lomba penulisan artikel jamu di blog.

f (2)
Pembagian Hadiah Pemenang Lomba Menulis Artikel Jamu di Blog

Sebagai negara dengan keanekaragaman yang tinggi (sekitar 30.000 jenis tanaman tropis dunia hidup di Indonesia dan 7.000 diantaranya berkhasiat obat). Jamu sebagai warisan budaya bangsa Indonesia yang dalam pengembangannya perlu dilakukan dengan sistem berkelanjutan. Mulai dari hulu (aspek budidaya) maupun hilir (pengolahan dan pemasaran) pengembangan jamu harus dilakukan dengan cara yang tepat yakni cara Indonesia.

Dari hasil presentasi baik pembicara maupun peserta seminar terdapat banyak potensi baik segi budidaya maupun teknologi terapan pengembangan jamu berbahan tanaman obat. Artinya dari segi teknologi maupun ilmu pengetahuan sesungguhnya kita sudah sangat siap menghadapi persaingan dengan negara-negara penghasil bahan alam lainnya. Saya turut berbangga hati, karena tulisan saya diberikan kesempatan untuk dipresentasikan secara oral.

gen

Yang menjadi permasalahan adalah seberapa besar keberpihakan kita terhadap produk jamu. Dari sejumlah rumah sakit yang ada di indonesia, berapa rumah sakit yang sudah berani menuliskan resep produk jamu kepada pasiennya? Saintifikasi jamu mutlak diperlukan dalam mendorong prodak jamu mendapatkan hati di tengah masyarakat kita. Produk jamu harus bisa dipastikan kehalalannya, keamanan produknya, dan tentunya khasiatnya. Itulah yang harus terus dikembangkan untuk mempercepat tingkat penerimaan jamu oleh masyarakat.

Oh iya, ikon temulawak yang sengaja diusung dalam kegiatan tersebut terinspirasi atas usaha korea dalam mengangkat Gingseng sebagai ikon kesehatan negeri tersebut, bahkan sebagian masyarakat dunia menjuluki korea dengan nama negeri ginseng. Temulawak memang cocok menjadi ikon jamu di Indonesiaseiring dengan berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan temulawak kian menjadi perhatian masyarakat. tanpa harus diuji secara klinik temulawak sebenarnya sudah menjadi minuman turun temurun yang dimanfaatkan untuk menjaga kebugaran dan stamina. Acara ini seolah-olah membawa semangat baru dalam menjadikan jamu sebagai tuan di negeri sendiri (Jaya Suprana 2015).

fr-001
Jaya Suprana sesaat sebelum meninggalkan acara