Tag Archives: ubi kayu

MODEL REPRODUKSI DAN BIOLOGI PEMBUNGAAN UBI KAYU

IMG_0770
Tanaman ubi kayu yang sudah berbuah

Pada umumnya ubikayu diperbanyak secara vegetatif, perbanyakan dilakukan dengan memanfaatkan batang yang telah dewasa saat panen untuk ditanam di penanaman berikutnya. Bagi rekan-rekan yang belum pernah mendengar buah atau bunga ubikayu tentunya tidak menyangka bahwa ubikayu juga bisa dikembangkan secara generatif. Walaupun demikian benih seksual dapat diproduksi ubi kayu dengan mudah melalui reproduksi generatif bergantung pada varietas dan tempat tumbuh ubi kayu. Secara alami perbanyakan secara generatif telah membentuk keragaman genetik pada tingkat petani. Sumber utama keragaman genetik ubi kayu untuk kelompok ubi kayu asal/indigenous yang terdapat pada hutan Amazon diperoleh melalui pertumbuhan benih ubi kayu lokal.

Ubikayu merupakan tanaman  monoceous (berumah satu) dengan bunga jantan dan bunga betina dalam satu tanaman. Bunga jantan memiliki jumlah yang lebih banyak bila dibandingkan dengan bunga betina. Pola pembungaan termasuk ke dalam protoginia, dimana bunga betina terbuka terlebih dahulu bila dibandingan dengan bunga betina.  Walaupun demikian pembukaan bunga betina dan jantan secara stimultan dapat terjadi selama pembungaan pada tanaman yang sama. Sehingga dapat terjadi penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang.

Benih yang diperoleh melalui perbanyakan seksual digunakan pada program pemuliaan tanaman yang mana secara luas terjadi segregasi pada seluruh sifat tanaman yang diturunkan. hal itu menyebabkan terjadinya populasi yang memiliki heterozigositas tinggi. Benih  ubi kayu dapat digunakan sebagai filter dari serangan virus/penyakit dan dapat digunakan sebagai alternatif perbanyakan pada ubi kayu.

FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PEMBUNGAAN  TANAMAN UBIKAYU

Faktor yang mempengaruhi pembungaan pada ubi kayu termasuk genotipe, kelembapan, kesuburan lahan, photoperiod, dan suhu lingkungan. Kebanyakan varietas ubi kayu dapat berbunga. Hal itu menunjukan bahwa terdapat terdapat hubungan antara kemampuan berbunga dengan  dengan tipe percabangan. Varietas dengan sedikit atau tidak memiliki percabangan memiliki kesulitan dalam berbunga walaupun secara fisiologis tanaman yang pertama berbunga ke emit percabangan. Rata-rata percabangan menurun ketika tanaman mengalami stress air. Permulaan pembungaan bergantung pada jumlah percabangan selama periode stres sementara pembungaan juga berkurang pada tanaman yang bercabang.

IMG_5331
Bunga jantan ubi kayu

Pembungaan ubi kayu dapat tertunda atau tidak sama sekali karena rendahnya kesuburan tanah. Walaupun demikian, tingginya produksi bunga dan buah dapat dilihat di tanah yang miskin hara.  tingginya pembungaan pada ubi kayu terjadi saat fotoperiode lebih dari 13.5 jam. melaporkan bahwa 24oC  adalah temperatur ideal untuk pembungaan ubi kayu dan perubahan ke atas atau ke bawah dari suhu tersebut dapat menguangi pembungaan. Pembungaan intensif di bawah kondisi semi arid altitude (+800 m dpl) dan tanah yang miskin hara juga ditemukan pada beberapa aksesi.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HIBRIDISASI DAN PRODUKSI BENIHTANAMAN UBIKAYU

Faktor yang mempengaruhi proses hibridisasi pada ubi kayu termasuk tidak berbunganya dan atau rendahnya produksi bunga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu genotipe, terhambatnya synchrony pada periode pembungaan pada genotipe tertentu dan mandul jantan. Perbedaan tingkatan dari mandul jantan telah diteliti pada beberapa varietas ubi kayu.  Peneliti mempelajari variasi morfologi dari beberapa varietas ubi kayu dan melaporkan bahwa 20% varietas tersebut kehilangan anter dan mengalami mandul jantan. Ketika mengamati beberapa aksesi telah teridentifikasi beberapa tanaman ubi kayu mengalami mandul jantan. Mandul jantan dapat terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya tapetum yang tidak normal, anomali sitologi, yang mana menyebabkan tidak adanya anter pada tanaman tersebut.

 

TEKNIK HIBRIDISASI TANAMAN UBIKAYU

Hibridisasi ubikayu secara umum dilakukan dengan dua metode penyerbukan, yaitu penyerbukan terbuka dan penyerbukan terkontrol.

Penyerbukan terbuka. Metode ini merupakan metode yang cukup sederhana dan sangat ekonomis digunakan untuk menentukan variabilitas genetik yang sangat baik. Walaupun demikian terdapat kerugian dari penyerbukan sendiri yaitu kehilangan identitas induk jantan. Keberhasilan metode ini bergantung pada tetua dengan jumlah yang cukup banyak dan memiliki karakteristik yang saling melengkapi. Itu akan menjadi tidak efisien karena bergantung pada jumlah polen dari genotipe yang tak diketahui yang mengambil bagian pada peristiwa penyerbukan silang serta mengurangi kemungkinan memperoleh individu segregan yang superior.

Teknik penyerbukan secara terbuka membutuhkan beberapa informasi dasar untuk digunakan seperti tipe spesies yang akan menjadi agen dalam proses penyerbukan, dinamisasi dari angkutan polen oleh agen dan rata-rata penyerbukan sendiri. Bunga ubi kayu memproduksi nektar yang mana menarik serangga untuk datang. Lebah secara umum merupakan agen penyerbukan pada ubi kayu. Penelitian yang dilakukan oleh CIAT bahwa serangga terdistribusi hampir 90% dari polen sejauh radius 10 meter yang mana menentukan jarak minimum diantara berbagai pencegahan terhadap persilangan yang terkontaminasi polen dari luar.

  1. Penyerbukan sendiri dapat terjadi pada beberapa tanaman diantara pembungaan yang berbeda atau diantara tanaman dengan varietas yang sama yang secara fisik dipisahkan pada lahan. Kemungkinan terbesar penyerbukan sendiri pada ubi kayu ditentukan pada kebun dimana satu genotipe. Model yang digunakan untuk menduga rataan hibridisasi maksimal, meminimalkan rataan penyerbukan sendiri dan mencegah kontaminasi dari polen luar yang tak diinginkan sangatlah diperlukan. Sehingga teknik kali silang sangat disarankan pada tanaman ubi kayu.
  2. Multiple Crosses (MC). MC diantara kelompok dari genotipe yang diisolasi di kebun percobaan sangat disarankan untuk lebih mengefisienkan penggunakan teknik. Efisiensi teknik ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor a) jarak tanam antara satu blok dengan blok lainnya b) tingkat incompability diantara genotipe c) periode pembungaan dan lamanya pembungaan d) Kualitas dari bahan tanaman e) aktivitas penyerbukan yang ditentukan oleh serangga f) Arah angin.Populasi tanaman yang seimbang secara genetik dapat ditentukan dengan memasukan data habit pembungaan dari genotipe seperti kapasitas pembungaan, pembungaan onset time, jumlah produksi bunga, sinkronisasi periode pembungaan pada genotipe dan anomali seperti male sterility dan produksi benih rendah.

Penyerbukan terkontrol (Controlled polination). Metode ini diketahui sebagai metode yang paling eisien sebab kita bisa mengetahui kedua tetuanya. Jantan dan betina sehingga mengurangi resiko unsiderable persilangan atau penyerbukan sendiri. Walaupun demikian jumlah benih yang diproduksi setiap persilangan lebih rendah dan biaya yang digunakan pun lebih tinggi. Penyerbukan terkontrol pada ubi kayu dapat dilakukan secara manual atau persilangan dialel. Kesamaan dari beberapa teknik persilangan, pengetahuan akan kapasitas pembungaan, flowering onset, dan jumlah bunga yang diproduksi merupakan hal yang sangat penting apalagi tingkat kesuburan dari bunga betina.

Persilangan manual (manual pollination). Kerusakan mekanis pada struktur bunga dari tanaman harus dihindari untuk suksesnya teknik ini. Secara normal bunga jantan dan bunga betina tidak matang secara bersamaandalam sekali mekar, beberapa bunga jantan mekar setelah bunga betina.  Bunga betina harus dijaga sebelum mereka terbuka, perlu diketahui mereka terbuka sepanjang hari. Ukuran bunga dapat menidikasikan kematangan bunga walaupun hal ini bergantung pada varietas. Walaupun demikian menjaga pendugaan dari bunga betina terbuka bergantung pada kehadiran droplet bergelatineyang mana terbentuk di dalam bunga. Lahan persilangan dikunjungi pada setiap pagi untuk mengidentifikasi masing-masing apakah akan berbunga hari itu atau tidak. Dengan hati-hati mengambil petal dari bunga betina dan bunga jantan yang mana nampak mencapai pertumbuhan maksimum, gelatenous droplet dapat teridentifikasi yang mana bunga akan terbuka hari itu dan siap untuk melalukan penyerbukan dan pembuahan.

Bunga betina yang terdapat droplet dibungkus dengan kantong yang melindunginya dari kontaminasi dari polen di luar ketika periode pembukaan. Bags terbuat dari light fabrics yang dirokemdasikan untuk melindungi dari iklim mikro yang mana bisa menyebabkan berkembangnya jamur khususnya antraknosa yang mana mampu mengganggu terbentuknya buah. Bag itu berukuran 20 cmx15 cm dan dapat menutupi seluruh bagian yang terbuka.

Buah, bunga jantan dan bunga betina yang subur atau bunga yang mana tidak terbuka, sebaiknya di buang dengan gunting. Pada waktu yang bersamaan bunga jantan harus sudah dikumpulkan dan ditempatkan pada wadah tertutup, yangsebelumnya diidentifikasi dan diberihkan dengan menggunakan alkohol. Bunga jantan dikumpulkan terlebih dahulu sebab periode pembukaan sangat pendek, yang mana ditentukan oleh kecepatan dispersal dari pollen grains oleh serangga dan pollen grain oleh kontaminasi. Kontak antara anther dengan stigma bunga betina sudah cukup untuk meyakinkan terjadinya penyerbukan.

Beberapa pemulia tanaman merekomendasikan menutup bunga sesaat setelah penyerbukan terjadi untuk mencegah kontaminasi oleh polen lain dan datangnya Anastrepha sp. Walaupun demikian lebih banyak menyebabkan hilangnya bunga yang telah mengalami penyerbukan. Masing masing teknik penyerbukan menghasilkan rata-rata 2 benih. Persen fertilisasi bergantung pada efisiensi dari teknik penyerbukan yang diaplikasikan dan viabilitas polen. Lebih dari 80% sukses dapat dicapai apabila dalam pelaksanaannya tidak mengalami masalah. Pemulia yang terlatih sanggup melakukan persilangan hingga 60 bunga per hari. Dua setengah hingga tiga bulan merupakan waktu yang diperlukan untuk pembentukan buah, pematangan, dan pelepasan.

IMG20170220092411

`

Pemuliaan Tanaman : Studi Kasus Budidaya Ubi Kayu di Tanah Pasundan (3)

Pada tulisan saya sbelumnya dijelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat konsumsi ubi kayu yang cukup tinggi, dan Jawa Barat sebagai salah satu produsen ubi kayu patut menjadi perhatian. Bagaimana Jawa Barat memasok ubi kayu dan mengolahnya merupakan sesuatu hal yang sangat menarik. Pada bulan November tahun 2016 yang lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke empat kota di Jawa Barat, yakni Bandung, Kuningan-Majalengka, dan Sukabumi. Di empat kota tersebut saya telah menemukan banyak hal yang berkaitan dengan budidaya ubi kayu dan pemanfaatannya oleh masyarakat.

Kabupaten Kuningan-Majalengka

Kuningan-Majalengka merupakan dua kota yang berbatasan secara langsung, terletak di paling timur Jawa Barat berbatasan dengan Jawa Tengah. Tanaman ubi kayu merupakan tanaman yang dibudidayakan secara besar-besaran baik di Kabupaten Kuningan maupun Majalengka. Petani lebih suka menanam tanaman padi. Penanaman ubi kayu dilakukan apabila air yang tersedia tidak mencukupi untuk menanam padi. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik petani mengggunakan sistem tumpang sari dengan penggunaaan varietas lokal yang sudah dikenal oleh masyarakat seperti ubi kayu manihot atau rende. Varietas ubi kayu manihot dikenal memiliki rasa umbi yang lebih enak dan cepat matang ketika dimasak, sedangkan varietas rende memiliki rasa yang pahit, biasanya digunakan sebagai bahan baku aci.

cimg7858
Tumpang sari tanaman ubi kayu dengan jagung

Beberapa petani mengembangkan ubi kayu kasesat yakni ubi kayu varietas manggu yang diokulasi dengan menggunakan ubi kayu karet. Tujuan penggunaan teknik okulasi ini adalah untuk meningkatkan jumlah dan ukuran  umbi dari ubi kayu yang dipanen. Ubi kayu karet yang memiliki ukuran yang panjang dan  lebar diharapkan mampu melakukan fotosintesis secara optimal sehingga fotosintat yang disimpan di dalam umbi pun akan semakin meningkat.

cimg7885
Tanaman ubi kayu kasesat hasil okulasi ubi kayu gading dengan karet

Bagaimana pemanfaatan ubi kayu di Kuningan dan Majalengka? Masyarakat sekitar mengolah ubi kayu menjadi produk konsumsi seperti keripik. Pengolahan keripik gemblong di Kuningan terdapat di dua daerah yaitu Desa Nusaherang dan Citangtu. Di kedua desa tersebut pembuatan keripik dilakukan di rumah-rumah warga dengan pekerja yang berasal dari sekitar desa tersebut. Keripik gemblong dibuat dari tepung ubi kayu yang campurkan dengan bumbu, diberikan sejumlah air kemudian dicetak dan digoreng. Ubi kayu yang digunakan tidak dibatasi pada varietas tertentu, inilah yang menyebabkan industri ini bertahan hingga saat ini karena tidak pernah kesulitan dengan bahan baku.

cimg7812
Keripik Gemblong asal Kuningan Jawa Barat

Industri keripik ubi kayu skala besar ditemukan di Kampung Rawa Cikijing Kabupaten Majalengka. Beberapa rumah hingga saat ini masih memproduksi kripik ubi kayu untuk dikirim ke daerah Jakarta, Bogor, Bandung, Tanggerang dan Bekasi. Produksi keripik ubi kayu dibagi menjadi 3 bagian, pertama bagian pengupasan dan pencucian umbi. Konsumen memesan keripik ubi kayu dalam 3 variasi rasa, yaitu asin original, keju, dan balado. Pada bagian pengemasan, beberapa konsumen menyiapkan bungkus yang telah diberikan merk tersendiri sehingga pengemasan sesuai dengan kebutuhan konsumen, sebagian lainnya langsung membeli tanpa harus memberikan merk tertentu. Selain memproduksi keripik ubi kayu diproduksi pula keripik pisang, ubi ungu dan talas.

cimg7878
Pengusaha keripik ubi kayu Kampung Rawa Cikijing Majalengka

Kota dan Kabupaten Bandung

Siapa yang tak mengenal Kota/Kab Bandung? Kota dengan sejuta pesona, Paris van Java julukannya. Wisata dan Kuliner di kota Bandung menjadi daya tarik tersendiri, dan ternyata di kota Bandung pun pemanfaatan ubi kayu sudah beragam. Diawali di daerah Pagrwangi. Pagerwangi merupakan sebuah desa di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di desa Pagerwangi saya menemui beberapa produsen kecimpring. Pembuatan kecimpring di Desa Pagerwangi merupakan usaha masyarakat yang telah dilakukan secara turun temurun. Pembuatan kicimpring dilakukan di sentra pembuatan kecimpring yaitu Kampung Babakan Bandung. Produk kecimpring yang dihasilkan telah dipasarkan ke salah satu supermarket besar di Indonesia.

sam_8526
Proses pengeringan kicimpring dengan bantuan sinar matahari

Pembuatan kecimpring dilakukan dengan melakukan pengupasan pada ubi kayu, kemudian dibersihkan. Penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin yang dimiliki oleh masyarakat secara swadaya. Setelah dilakukan penggilingan ubi kayu dicampur dengan bumbu khusus, dicetak, kemudian dikukus selama 30 menit. Kecimpring yang telah matang dikeringkan di bawah sinar matahari.

Desa tujuan selanjutnya adalah Desa Cimenyan. Desa Cimenyan merupakan sebuah desa sentra pembuatan peuyeum/tape yang terletak di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.  Hasil produksi tape biasanya dipasarkan di wilayah Bandung dan Jakarta. Penyimpanan tape dari mulai peragian hingga dapat dikonsumsi adalah sekitar 2 hari sehingga pembuat tape ubi kayu di Desa Cimenyan belum berani menjualnya ke luar pulau Jawa. Bahan baku yang digunakan ada dua jenis yakni ubi kayu kuning dan ubi kayu putih. Ubi kayu kuning atau jenis mentega memiliki ciri-ciri warna umbi yang lebih kuning dibandingkan dengan ubi kayu biasanya. Pembuatan tape dilakukan dengan megupas kulit ubi kayu, kemudian dilakukan pembersihan dengan menggunakan air yang mengalir. Setelah itu direbus selama kurang lebih satu jam. Ubi kayu yang telah dingin ditaburi dengan menggunakan ragi dan ditutup rapat dengan menggunakan daun pisang hingga dua atau tiga hari.

Pembuatan Tape Ubi Kayu

Pabrik Maicih Bandung

Maicih merupakan salah satu produsen keripik yang menghadirkan keripik ubi kayu dengan variasi tingkat kepedasan yang berbeda-beda. Kapasitas produksi per hari bisa mencapai 2 000 hingga 3 000 pcs. Variasi tingkat kepedasan keripik Maicih terdiri dari 0, 3, 5, 7, dan 10. Karena kurang menyukai pedas, saat ditawari keripik pedas Ma Icih saya lebih senang membeli keripik dengan tingkat kepedasan 3.

Kesuksesan keripik ubi kayu hingga saat ini terletak pada kesuksesan pemilik Maicih, Bapak Bob Merdeka dalam memilih ubi kayu yang akan digunakan sebagai bahan baku dan racikan bumbu pedasnya. Namun sayang saat saya berkunjung ke sana Pak Bob Merdeka sedang tidak berada di tempat, saya ditemani oleh Manajer Produksi dan Pemasaran.

sam_8691
Keripik ubi kayu Maicih dengan tingkat kepedasan yang berbeda

Kota Sukabumi

Kota Sukabumi memang lebih dikenal dengan kue Mocinya, namun bila kita melintas dari arah Kabupaten ke Kota Sukabumi akan kita lihat tanaman ubi kayu dalam jumlah yang tidak sedikit. Ada beberapa varietas ubi kayu yang ditanam oleh petani di Sukabumi. Penanaman ubi kayu jenis Darul Hidayah lebih banyak dilakukan di Sukabumi bagian utara sekitar Sidangresmi, Jampang Tengah dan diolah menjadi kecimpring. Desa Sekar Arum, Kecamatan Cikembar bahkan telah membuat kecimpring dalam berbagai pilihan rasa. Varietas Darul Hidaya menoreh kesuksesan saat Tjutju Junior Soliha bekerjasama dengan Bupati Sukabumi (H. Sukma Wijaya) dan Teguh Rahayu (Agro Bost/POC) berhasil membuat tape ubi kayu terpanjang, dengan ukuran 150 cm. Kegiatan ini berlangsung di Sukabumi pada 19 Januari 2008.

Bersama dengan petani ubi kayu Sukabumi

Pengolahan ubi kayu menjadi keripik lebih banyak dilakukan oleh masyarakat Sukabumi yang berada di kota. Hal ini berkaitan dengan lebih dekatnya tempat produksi dengan pemasaran. Pemerintah menganggap bahwa adaptasi teknologi di kalangan petani ubi kayu harus segera dilakukan. Modified Cassava Flour (Mocaf) merupakan tepung singkong termodifikasi dengan menggunakan bakteri asam laktat. Pengolahan ubi kayu menjadi tepung mocaf  hingga saat ini masih dalam skala kecil dan sudah berdiri di Kecamatan Pabuaran dan Kecamatan Cicurug.

Pabrik pengolahan aci di Sukabumi

Bahan baku yang digunakan untuk membuat tepung tapioka tidak ditentukan baik jenis maupun ukurannya, sehingga banyak petani yang bersedia menjual hasil ubi kayu yang ditanam kepada pabrik-pabrik pengolahan tepung tapioka di Kabupaten Sukabumi. Proses pembuatan tepung tapioka diawali dengan pengupasan kulit dan pembersihan umbi ubi kayu. Ubi kayu yang bersih kemudian diparut hingga halus dan disaring. Penyaringan dilakukan untuk memperoleh sari pati yang kemudian diendapkan. Pati ubi kayu yang telah diendapkan selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari. Untuk menghaluskan dilakukan dua kali penggilingan, tahap pertama penggilingan ukuran sedang dan tahap kedua penggilingan hingga menjadi halus. Pada pabrik tepung tapioka yang diamati, ampas penyaringan parutan ubi kayu dihancurkan kembali dan digiling untuk kemudian dijual kembali.