Tag Archives: ZPT

ZPT eksogen dari bahan alam, apakah bisa ?

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak terlepas dari peranan fitohormon (hormon tanaman) atau dikenal dengan zat pengatur tumbuh (ZPT). Walaupun konsentrasinya sangat kecil senyawa ini sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa golongan ZPT yang sudah dikenal, tulisan saya sebelumnya sempat membahas golongan senyawa tersebut yaitu: auksin, sitokinin, giberelin, asam absisat, poliamin, asam salisilat, asam jasmonat, brassinosteroid, dan etilen. ZPT saat ini banyak dimanfaatkan baik diaplikasikan langsung ke dalam tanaman maupun dicampurkan ke dalam media kultur jaringan.

Apakah kita bisa membuat sendiri ZPT dari bahan alam ? Jawabannya adalah bisa! Beberapa bahan alami ternyata mengandung ZPT dan bisa dimanfaatkan untuk merangsang pertumbuhan maupun perkembangbiakan tanaman. ZPT ini dikenal sebagai ZPT eksogen, sedangkan ZPT alami yang sudah diproduksi di tanaman dikenal dengan ZPT endogen. Penggunaan ZPT eksogen umumnya dilakukan untuk kultur jaringan, namun pada kasus kasus tertentu dapat juga diaplikasikan langsung ke tanaman. Bahan alami yang bisa digunakan sebagai ZPT adalah :

Air Kelapa. Air kelapa atau dikenal sebagai endospermium merupakan cairan yang mengandung banyak manfaat. air kelapa juga mengandung hormon/ZPT Sitokinin, mineral dan senyawa organik lain, seperti 1,3 dipheniluea, zaetin, zeatin glukosida dan zeatin ribosida. Dalam aplikasinya dalam kultur jaringan tanaman sering digunakan sebagai tambahan pada media tanam tanaman anggrek. Sebagian petani menggunakan bonggol pisang yang diekstrak untuk memiliki manfaat yang sama dengan air kelapa.

kandungan kelapa

Bawang Merah. Bawang merah ZPT alami yang sudah lama dikenal oleh masyarakat. Ekstraknya biasa digunakan oleh petani untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Apabila ingin mendapatkan manfaat lebih sebagai fungisida bisa menggunakan campuran bawang putih. Ada pula yang menggunakan ekstrak bawang untuk meningkatkan produktivitas pada penyadapan pohon karet.

bawang merah index

Ekstrak Tauge. Tauge sering disarankan dikonsumsi untuk menambah kesuburan pada pria, namun dibalik khasiatnya itu tauge yang sudah diekstrak manfaat yang sama dengan kelapa muda. Ekstrak tauge juga banyak dimanfaatkan pada perbanyakan tanaman secara kultur jaringan.

toge
Tauge selain dijadikan sumber pangan bisa juga dimanfaatkan sebagai sumber ZPT

Cuka kayu. Cuka kayu atau wood vinegar merupakan produk samping dari pembuatan arang kayu. Cuka kayu dibuat dengan cara mengkondensasi asap hasil pembakaran kayu secara tidak langsung. Prosesnya dikenal dengan destilasi. Hasil penelitian dari litbang Kehutanan menunjukkan bahwa aplikasi cuka kayu terhadap tanaman memiliki sifat antibiotik dan hormonal. Zat yang terkandung di dalam cuka kayu diantaranya : asam Asetat 58,4 %, Asam Propionat 1,8 %, Methanol 2,1 %, Furfural 1,7 %, Aceton 0,2 %, Cyclotene 2,3 %, 2-Cyclopentenon 0,5 %, Furfuryl Alcohol 0,3 %, Guaiacol 0,6 %, Tetrahydro furfuryl Alcohol 1,0 %, Paracresolmethacresol 1,4 %, 2-Methoxy-4-Cresol 1,3 %, Orthocresol 1,2 %, nonane-1,4-Olide 0,7 %, Methyguaiacol 0,3.

Aplikasi ZPT tersebut bisa diaplikasikan langsung atau dicampur dengan pupuk daun, namun  penggunaanya harus dilakukan sesegera mungkin setelah pembuatan ZPT tersebut, atau simpan ekstrak/campuran tersebut di lemari pendingin.

Zat Pengatur Tumbuh Tanaman (Brassinosteroid)

Brasinosteroid (BR) adalah hormon endogen berupa steroid yang dapat memacu pertumbuhan dan dapat ditemukan pada biji, serbuk sari, dan jaringan vegetatif, oleh karena itu BR diduga disintesis pada berbagai jenis organ tanaman. Pada tahun 1979 BR diisolasi untuk pertama kalinya pada tanaman Brassica napus. Sama halnya dengan asam jasmonat, BR berfungsi pada konsetrasi yang sangat kecil yaitu mencapai nanomolar untuk dapat memengaruhi proses fisiologis pada tanaman. BR juga berinteraksi dengan hormon tanaman yang lain contohnya auksin serta faktor lingkungan untuk meregulasi secara keseluruhan bentuk dan fungsi tanaman. Fungsinya yang penting bagi tumbuhan adalah untuk pemanjangan organ, diferensiasi jaringan pembuluh, kesuburan, perkembangan daun, rhizogenesis, senesen, absisi pada daun dan respon terhadap cahaya.

Salah satu contoh brasinosteroid adalah kastasteron yang ada pada tunas kacang polong dan berfungsi dalam proses pemanjangan tunas. Berdasarkan pengaruh utamanya terdapat hubungan yang erat antara IAA dan BR yaitu kerja antagonis saat BR menjadi inhibitor yang kuat untuk pertumbuhan akar, bahkan pada beberapa kasus BR memiliki persamaan seperti auksin, giberelin dan sitokinin. BR menginduksi etilen melalui stimulasi aktifitas ACC syntase, namun aktivitasnya bisa dihambat oleh AOA, Co2+, fusicocin dan inhibitor transport pada auksin (2,3,5-triiodobenzoic acid dan 2-(p-chlorophenoxy)-2-methylpropionic acid.

Sakurai dan Fujioka pada tahun 1997 mempelajari biosintesis brasinosteroid menggunakan kultur tapak dara (Cataranthus roseus) dan terdapat dua jalur yaitu early C6 oxidation dan late C6 oksidation. BR alami merupakan turunan hasil hidrosilasi dari 5 α-cholestan dengan variasi struktur pada pola subtitusi ring A, B dan C17 yang berpengaruh terhadap aktivitas senyawanya. Metabolisme BR melibatkan berbagai macam reaksi yang meliputi dehidrogenasi, dimetilasi, epimerisasi, esterifikasi, glikosilasi, hidroksilasi, side chain cleavage dan sulfonasi. Efek fisiologis hormon ini adalah bekerja sinergis dengan auksin dan kalsium sehingga mendorong produksi etilen. Induksi etilen oleh BR dapat dihambat dengan kehadiran cahaya. Aplikasi hormon ini pada akar tanaman hidroponik menunjukan peningkatan ACC dan peningkatan petiole. Walaupun efek dorongan terlihat pada berbagai kondisi cahaya namun pada kondisi gelap total aktivitas tidak terganggu.

Struktur BR sangat mirip dengan ecdysteroid (molting hormone pada serangga dan artropoda) yang mampu menginduksi perubahan energisasi plasmalema, serapan asimilasi, differensiasi xyleum, mendorong resistensi terhadap penyakit, herbisida dan cekaman garam. Selain itu dapat pula menorong perkecambahan sehingga menjadi kandidat yang lebih aman untuk mengendalikan hama bila dibandingkan dengan pestisida kimiawi.

Induksi pertumbuhan oleh BR tergantung pada sintesis asam nukleat dan protein. Pada tanaman kacang-kacangan BR mampu meningkatkan aktivitas DNA dan RNA polimerase dalam sintesis DNA, RNA, dan protein, namun mekanisme molekuler induksi pemanjangan oleh BR berbeda dengan auksin. Bila kita melihat kerjasama sinergis antara BR dan IAA adalah menginduksi ACC syntase. Dengan melihat full length cDNA (pAIM-1) merupakan salah satu gen yang mengkode ACC syntase yang diinduksi oleh IAA dapat juga terinduksi oleh BR.

Pengaplikasian BR secara eksogen pada tanaman tercekam salinitas telah diketahui dapat menjaga pertumbuhan dan hasil pada beberapa tanaman pertanian. Selain itu penambahan BR juga mampu mengurangi dampak akibat stress tanaman, menjaga keberadaan pigmen pada daun, dan meningkatkan aktifitas nitrate reductase. Berkurangnya kadar BR menyebabkan meningkatnya kerusakan pada nukleus dan kloroplas. Pada proses perkecambahan, ketika benih direndam menggunakan larutan campuran garam dan BR dampak terhadap penghambatan perkecambahan dapat dikurangi. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya asam nukleat dan protein yang terlarut.

Zat Pengatur Tumbuh Tanaman (Jasmonat)

Jasmonat (Metil jasmonat (MeJA), asam jasmonat (JA) dan turunannya) merupakan regulator seluler yang terlibat pada berbagai macam proses perkembangan tanaman seperti menghambat perkecambahan benih, pertumbuhan kalus, pertumbuhan akar, fotosintesis dan biosintesis ribolosebisphospate carboxilase. Selain itu jasmonat mendorong pembentukan umbi, penggulungan tendril, pembentukan pigmen, fertilitas, pemasakan buah (fruit ripening) dan senesen. Konsentrasi jasmonat pada tanaman berkisar antara 10 ng s.d 3µg per bobot segar jaringan tanaman. Terhambatnya pertumbuhan tanaman diduga terjadi karena konsentrasi jasmonate yang diaplikasikan cukup tinggi sehingga yang muncul adalah respon stress. Selain itu jasmonat berperan dalam pertahanan tanaman terhadap serangga (induksi protease inhibitor), patogen (enzim phenyialaninamonialyase, calcone syntase berkaitan dengan biosintesis fitoaleksin dalam respon terhadap patogen dan elisitor terhadap serangga), stress lingkungan, seperti kekeringan, suhu rendah, dan salinitas.

Biosintesis jasmonat terjadi pada daun dan jalur yang sama ditemukan pada akar. Organel seperti kloroplas dan peroksisom adalah lokasi disintesisnya hormon tersebut. JA lebih banyak ditemukan dalam analisis tanaman namun MeJA biasanya lebih aktif bila dibandingkan dengan JA jika diaplikasikan secara eksogen.MeJA banyak ditemukan pada daerah pembuluh dan pericarp kedelai. MeJA merupakan senyawa ester, volatil, dan mudah larut dalam lemak, minyak, lipid dan pelarut non polar (lipofilik). Oleh karena itu MeJA memiliki aroma yang khas contohnya pada jasmine (melati) dan buah-buahan dan banyak yang sudah dibuat sebagai parfum sintetis.

Jasmonat dapat meningkatkan ekspresi gen yang terlibat dalam ketahanan tanaman. Secara umum jasmonat terdapat pada kurang lebih 160 jenis pada angiospermae dan gymnospermae. Induksi JA melalui pelukaan dan patogen dapat mendorong diproduksinya asam lemak melalui hancurnya membran sel yang mana JA diproduksi melalui aktivitas lipoxigenase (LOX3) yang memediasi oksigenasi dari alfa linolenic acid membentuk cyclopentanone sehingga meningkatkan produksi jasmonat yang menyebabkan terjadinya penguatan signal sehingga merangsang mekanisme ketahanan secara lebih efektif. Enzim ini berhasil diidentifikasi pada kloroplas.

Allene Oxide Syntase (AOS) adalah enzim yang terlibat dalam biosintesis JA, dibuktikan dengan adanya hubungan yang erat antara AOS dengan kandungan JA selama proses pelukaan pada tanaman arabidopsis. Ekspresi gen AOS pada tomat diaktivasi melalui pelukaan, penambahan 12-oxophytodienoic acid dan MeJA. Phospolinase D (PLD) menunjukan aktivitasnya yang turut mendorong terbentuknya asam linoleat dan menstimulasi biosintesis JA.

Studi jasmonat dalam respon terhadap ketahanan telah dilakukan pada tanaman mutan coil1 pada arabidopsis yang lebih rentan terhadap patogen cendawan dan bakteri penyebab busuk lunak. Bahkan mutan jar1 (insensitif terhadap asam jasmonat) dan fad13, fad7, fad 8 defisien linolenic aci yang diperlukan dalam biosintesis JA) rentan terhadap bakteri non patogen dan hama serangga.

Aktivitas PLD berhubungan dengan terjadinya stress yang mana berperan dalam penghancuran membran sinyal transduksi. Perlakuan jasmonat secara eksogen telah banyak dilakukan untuk mengurangi efek antioksidan, dan fotosintesis. Selain itu penambahan jasmonat pada tanaman yang diberikan perlakuan salinitas yang cukup tinggi menyebabkan keseimbangan hormon endogen seperti ABA.

Beberapa gen yang terinduksi karena keberadaan jasmonat seperti gen protein seed storage tidak berperan dalam ketahanan tanaman, melainkan signal penting dalam mengontrol ekspresi gen selama pertumbuhan. Bahkan gen yang terinduksi karena pelukaan bisa saja tidak teribat dalam ketahanan tanaman namun hanya membantu perubahan metabolisme tanaman dalam kondisi stress. Umumnya konsentrasi jasmonat pada tanaman berkisar antara 10-50 ng/g bobot basah jaringan tanaman, konsentrasi yang cukup untuk mempengaruhi fisiologi tanaman.

Peningkatan JA endogen karena proses elisitasi meningkatkan sintesis metabolit sekunder tertentu. Alkaloid dalam kultur sel dapat meningkat setelah terjadi elisitasi oleh ragi (yeast). Sebagian besar gen pengkode enzim untuk biosintesis nikotin faktor transkripsinya diregulasi oleh JA. Selain itu antosianin, glukosinolat dan morfin mampu terakumulasi karena adanya pengaruh dari JA.

Zat Pengatur Tumbuh Tanaman (Asam Salisilat)

Asam salisilat (AS) adalah senyawa fenolik yang berperan dalam meregulasi pertumbuhan tanaman khsusnya aktifitas fisiologi seperti fotosintesis, metabolisme nitrate, produksi etilen, pembungaan dan melindungi dari cekaman baik biotik maupun abiotik. AS pertama kali ditemukan secara terpisah oleh orang indian amerika dan yunani kuno dari kulit dan daun pohon willow (Salix sp) yang digunakan untuk mengobati gejala gatal dan demam. Pada tahun 1828 John Buchner mengisolasi salisin dalam bentuk glukosida dari salicyl alcohol yang merupakan salisilat utama pada pohon willow. Aspirin adalah merek dagang untuk acetyl salicylic acid diperkenalkan oleh Bayer.
Senyawa fenolik adalah senyawa cincin aromatik yang memiliki gugus hidroksil atau turunan fungsionalnya. Senyawa penolik termasuk senyawa metabolit sekunder awalnya difahami memiliki peran minor bagi tanaman. Pemahaman tersebut mulai berubah seiring banyaknya senyawa fenolik yang berperan dalam pengaturan tumbuh tanaman. Contohnya : fenolik berperan dalam biosintesis lignin, fitoaleksin yang berperan terhadap mikroba, serangga dan herbifora, alelopati yang berpengaruh terhadap perkecambahan dan pertumbuhan tanaman didekatnya, acetosyringone berperan dalam agrobacterium dengan tanaman crown gall dan flavonoid pada akar legum dan biji menginduksi nod genes pada rhizobium.
SA memiliki pKa sebesar 2.98 dan log Kow sebesar 2.26 menunjukan bahwa senyawa tersebut ideal untuk ditranslokasikan secara cepat dari lokasi atau ke jaringan melalui phloem. SA bersifat ubiquiotus distribution atau tersebar di berbagai jenis tanaman. Kadar SA tertinggi terdapat pada daun padi dengan jumlah SA mencapai 30 µg/g dari berat basah jaringan. Senyawa ini ditemukan juga dalam kadar yang cukup tinggi pada tanaman termogenik, dan tanaman yang terserang hama nekrotik.
Dari penelitian yang telah dilakukan, SA ternyata mampu menunda pebungaan. Hal ini dapat diduga karena SA menghambat biosintesis etilen. Pada kultur sel tembakau kehadiran SA menghambat konversi ACC menjadi etilen. SA juga mencegah akumulasi ACC syntase pada tomat. SA menginduksi gen pathogen related (PR), chaperone, heatshock protein (HSPs), antioksidan dan gen-gen yang berperan dalam menghasilkan metabolit sekunder seperti synapil alkohol dehidrogenase (SAD), cinnamyl alcohol dehydrogenase (CAD), dan cytocrome P450.
Apabila kita melihat tanaman yang tumbuh di alam tidak terlepas dari interaksi dengan patogen, namun banyak tanaman mampu bertahan dan dampak penyakit tidak selalu terjadi. Baik chemichal dan physical barier pada tanaman seperti dinding sel, kutikula senyawa anti mikroba mampu dihasilkan tanaman untuk melindunginya dari serangan patogen. Pada serangan awal patogen kita bisa melihat lesi nekrotik, yaitu daerah dimana ada bagian tanaman yang terluka atau rusak akibat serangan. Proteksi diri tanaman dengan mengorbankan sel-sel tanaman di sekitar daerah infeksi disebut hipertensive respon (HR). HR mampu menginduksi Systemic Acquired Resistant (SAR) yaitu resistensi yang terbentuk pada seluruh bagian tanaman setelah terjadi serangan patogen. SAR mampu terdeteksi dalam beberapa hari setelah infeksi dan mampu bertahan selama beberapa minggu. HR dan SAR berkaitan dengan sintesis protein PR yaitu kitinase dan β-1,3 glucanase. Protein PR dapat diinduksi oleh SA bahkan ketika tidak ada patogen sama-sekali. Hal ini telah dibuktikan dengan sebuah penelitian SA pada komoditas tembakau dengan patogen TMV (Tobaco Mozaik Virus). Dengan kata lain kita bisa menyimpulkan bahwa SA adalah endegenous messenger dalam hubungannya dengan resistensi patogen terhadap tanaman inang. Namun perlu diingat bahwa tidak seperti hormon lain seperti etilen, SA tidak terstimulasi saat dilakukan pelukaan, melainkan RNA viruslah yang ikut mendorong akumulasi SA
Tanaman yang diaplikasikan dengan SA menunjukan pengaruhnya terhadap stress abiotik dengan meningkatnya pertumbuhan tanaman selama tercekam dan adanya akumulasi ABA dan prolin, meningkatkan pembelahan sel pada meristem apikal akar, rata-rata fotosintesis dan menjaga stabilitas membran. SA yang diaplikasikan pada tanah mengurangi ion Na+ dan Cl-. Pada penelitian tanaman dengan kandungan SA yang rendah mampu meningkatkan lipid peroksidase dan permeabilitas membran. Selain itu kehadiran SA dapat melindungi dari efek parsial meningkatnya kandungan H2O2. SA endogen akan meningkat dibawah kondisi stress salinitas pada tanaman padi. Perlakuan SA menyebabkan akumulasi ABA dan IAA pada benih gandum walaupun demikian perlakuan SA tidak berpengaruh pada kadar sitokinin.
Selain itu pengaruh lain SA secara eksogen dapat menimbulkan respon penghambatan biosintesis etilen saat perkecambahan dan pelukaan khususnya mempengaruhi transport ion pada membran dan absorbsi pada akar. Penutupan stomata karena induksi ABA juga dapat dikembalikan fungsinya oleh SA.
Bagaimana peranan SA dalam produksi panas pada tanaman ?
Pemanasan pada tanaman diyakini berkaitan dengan peningkatan cyanide-insensitive non-phosphorilating electron transport pathway yang unik pada mitokondria dan disebut juga sebagai respirasi alternatif. Pada pembungaan spesies Arum lili (Sauramatum guttatum) nilai kalor pada puncak produksi panas sama besarnya dengan humming bird yang sedang terbang. Pada tanaman transgenik aktivasi oksidase alternatif, termogenecity melibatkan aktivasi glycolitic dan enzim siklus kreb yang menyediakan substrat untuk ledakan metabolik tersebut. Lebih lanjut Van Herk pada tahun 1937 menyatakan bahwa ledakan aktivitas metabolik pada appendix tanaman arum lili dipicu oleh “calorigen” yaitu suatu senyawa yang dapat larut dalam air yang dihasilkan pada staminate (jantan) primordia bunga yang berlokasi persis di bawah appendix. Sewawa tersebut mulai masuk appendix pada hari sebelum antesis namun usaha untuk mengkarakterisasi calorigen belum berhasil untuk dilakukan. Akhirnya pada tahun 1987 identifikasi kalorigen dari ekstrak murni bunga jantan voodo lili dengan menggunakan mass spektroskopis menunjukan bukti adanya SA pada ekstrak tersebut. Dengan kata lain percobaan tersebut menunjukan bahwa SA adalah senyawa kalorigen.
Termogenik memiliki tahapan sebagai berikut : pertama, pada waktu antesis saat pagi hari, braktea besar (spathe) yang mengelilingi spadix (coloum sentral dari infloresen) membuka untuk mengekspose bagian appendix. Apendix mulai menghasilkan panas yang membantu volatilisasi senyawa amine dan indole yang akan menarik serangga polinator. Menjelang sore hari suhu di appendix mampu mencapai 14oC dan kembali ke suhu ambient pada malam hari. Pada tahap kedua terjadi pada saat spadix bagian bawah pada waktu akhir malam berakhir menjelang pagi setelah suhu meningkat lebih dari 10 oC.

Zat Pengatur Tumbuh Tanaman (Asam Absisat)

Asam absisat (ABA) ditemukan pertama kali pada jaringan pembuluh tanaman lumut, dan beberapa genus dari cendawan menghasilkan ABA sebagai metabolit sekunder. Di dalam organ dan jaringan hidup tanaman ABA dapat diidentifikasi dari akar hingga tunas apikal, sehingga kita bisa melihat bahwa ABA disintesis pada semua sel yang mengandung kloroplas atau amiloplas. ABA adalah senyawa yang mengandung 15 atom karbon, arah karboksil grup pada atom karbon ke dua menentukan arah orientasi apakah bentuk ABA cis atau trans.

Sama dengan hormon lainnya respon ABA bergantung pada konsentrasi di dalam jaringan dan sensitifitas jaringan tersebut terhadap hormon. Biosintesis ABA terjadi pada kloroplas dan plastida. Penelitian pada beberapa tanaman mutan yang kehilangan beberapa jalur pada biosintesis ABA menunjukan fenotipe abnormal yang dapat pulih kembali setelah diberikan ABA secara eksogen. Biosintesis diawali dengan sintesis isopentenil dipospat (IPP) yang secara biologis merupakan unit isporen membentuk violaxantin yang dikatalis oleh enzim zeaxantin epoksidase (ZEP). Violaxantin kemudian berubah menjadi 9’-cis-neoxantin yang memiliki atom C sebanyak 40 dan memecah menjadi atom C sebanyak 15 yang disebut sebagai xantoksal atau xantoksin yang dikatalis oleh enzim 9-cis-epoxycarotenoid dioxygenase (NCED). Pada tahap akhir terjadi oksidasi menjadi senyawa antara/intermediet yaitu ABA aldehid atau xanthoxic acid.

Konsentrasi ABA pada jaringan tumbuhan bervariasi dan bersifat fluktuatif bergantung pada respon terhadap perubahan kondisi lingkungan. Dalam perkembangan bibit sebagai contoh, konsentrasi ABA meningkat namun cenderung menurun saat perkecambahan, saat tanaman kekurangan air konsentrasi ABA pada daun meningkat pada 4-8 jam namun setelah kondisi air normal kembali konsentrasi ABA turun hingga posisi semula.

Penyebab utama inaktivasi ABA adalah reaksi oksidasi yang menghasilkan senyawa phaseic acid (PA) dan dihidrophaseic acid (DPA). Pada beberapa spesies kehadiran senyawa PA menginduksi penutupan stomata, hal ini bisa terjadi karena PA mampu mengikat reseptor ABA. Berbeda dengan PA, senyawa DPA tidak banyak diketahui aktifitasnya. ABA juga terinaktivasi karena berkonjugasi melalui ikatan kovalen dengan senyawa lain seperti monosakarida, sebagai contoh ABA-β-D-glucosyl ester (ABA-GE). Reaksi konjugasi ini bukan hanya menyebabkan terjadinya inaktivasi ABA sebagai hormon namun berpengaruh terhadap polaritas dan distribusi di dalam sel. Apabila ABA terdistribusi di dalam sitosol maka ABA-GE justru terdistribusi di dalam vakuola tanaman. Enzim esterase pada sel tanaman mampu mengubah ABA konjugasi menjadi ABA bebas dalam sel. Berdasarkan penelitian dapat diduga bahwa ABA-GE ini pun mampu terhidrolisis menjadi ABA karena pengaruh cekaman kekeringan pada daun.

Secara fisiologi, ABA memegang peranan penting dalam meregulasi inisiasi dan menjaga dormansi benih dan tunas, menutupnya stomata sebagai respon tanaman terhadap stress, seperti kekeringan. ABA bekerja dengan hormon lain misalnya GA melalui rasio ABA dan GA menginduksi produksi enzim, pertumbuhan akar, dan senesen pada daun.