Pemimpin dunia seperti Umar bin Khattab, seorang pemimpin besar, laki-laki tegar dan tegas, tak pernah berkompromi dan berbasa-basi dalam kebenaran. Ia tak pernah takut menyatakan kebenaran di hadapan siapapun-sehingga diberikan gelar Al Farouq-ternyata lembut hatinya dan takhluk oleh istrinya.

Mari kita lihat sebuah kisah…

Ada seorang laki-laki yang datang ke rumah kediaman Khalifah Umar Bin Khatab ra. Ia mau bertemu dengan sang khalifah dan ingin mengadukan perihal istrinya yang sangat cerewt dan suka marah-marah. Sesampainya di rumah Umar ia mendengar ternyata istri umar pun sedang marah terhadap umar. Maka lelaki tersebut akhirnya pergi meninggalkan rumah sang khalifah dan kita tahu isi hati laki-laki tersebut, permasalahan dia sama dengan yang dialami sang khalifah.

Setelah beberapa langkah meninggalkan rumah sang khalifah berlari mengejar laki-laki tersebut dan dipanggillah  oleh Umar ” Wahai saudaraku, apakah anda ada keperluan dengan saya?”

Laki-laki tersebut menjawab, “Ya khalifah saya bermaksud mengadukan permasalahan tentang istri saya yang suka marah-marah, namun ketika saya mendekati rumah anda ternyata permasalahan kita sama, jadi saya memutuskan untuk pulang. Dan saya heran mengapa anda bisa sesabar itu.”

Umar mengatakan, “Saudaraku, mengapa saya bisa bisa bersabar adalah karena istri saya yang memasakan makanan saya, membuatkan, mengadoni bahkan memasakan roti untuk saya, dialah yang mencucikan pakaian saya dan dia pun yang menyusui anak-anak saya”.

Saudaraku mari kita perhatikan jawaban Khalifah Umar, alasan mengapa sang Khalifah bisa bersabar adalah karena istrinya memasakan makanan dan rotin, itulah urusan dapur, menyucikan pakaian, itu adalah urusan sumur dan menyusui anak-anak  adalah urusan kasur. Yang menarik adalah bahwa ternyata Urusan sumur-dapur-kasur bukanlah hal yang sederhana”. Urusan sumur-dapur-kasur adalah sumber kemuliaan bagi seorang ibu dan istri. Karena urusan sumur-dapur-kasur itu pun membuat Umar sabar terhadap segala kekurangan istrinya, bahkan sabar  saat istrinya marah.

Dan yang paling menarik adalah kata penutup dari Khalifah Umar kepada laki-laki tersebut, ” Sabarlah saudaraku, ada saatnya kemarahan meluap istrimu itu akan pergi dan berubah menjadi kasih sayang”.

Dan kini betapa banyak laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga, sebagai seorang nakhkoda bagi rumah rumah tangga ketika bertemu dengan kekurangan istri, atau ketika istrinya marah sang suami kemudian lebih marah dari istrinya. Sang suami marah, istri pun marah. Api bertemu dengan api. Dan kalau ini terus berlanjut sudah tiada lagi rumahku syurgaku, baiti jannati. Tiada lagi kedamaian. Kapal ini mulai terbakar dan pelan-pelan akhirnya karam ke dasar lautan.

Semoga kita tergolong suami yang sabar…

Wallahualam.