Category Archives: Biofarmaka

Mari Kita Kembangkan Jamu Indonesia

Jamu memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Walaupun rasanya pahit, namun jamu secara empiris dipercaya dapat menyembuhkan penyakit oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu. Ketika pengobatan modern belum mengambil peran seperti sekarang, jamu telah menunjukan eksistensinya dengan memelihara  kesehatan dan mengobati berbagai macam penyakit. Dilihat dari sisi historis, kapan jamu untuk pertama kalinya digunakan memang belum diketahui secara pasti. Ada yang menghubungkan dengan kebiasaan-kebiasaan pada kerajaan Hindu Mataram Kuno di Indonesia, dimana jamu telah digunakan oleh puteri kerajaan untuk menjaga kesehatan dan kecantikannya. Bukti lain penggunaan jamu adalah telah ditemukan di berbagai literatur-literatur kuno, seperti pada relief berbagai macam candi, naskah Gatotkaca (Mpu Panuluh), serat Centhini dan Serat Kawruh Bab Jampi-jampi Jawa.

Pada saat pemerintah Kolonial Belanda datang  mencari rempah-rempah beberapa abad yang lalu turut berperan penting dalam catatan sejarah jamu di Indonesia. Telah dilaporkan bahwa seorang botanis yang hidup sekitar tahun 1775 Masehi, Rumphius  telah melakukan penelitian tentang penggunaan jamu di Indonesia. Bukunya yang terkenal berjudul “Herbaria amboniensis”.

Perkembangan penelitian tentang jamu dan tumbuhan obat terus berlangsung hingga sekarang. Dari penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan pada tahun 2012 telah berhasil memperoleh data sekitar 1.889 spesies tumbuhan obat, 15.671 ramuan untuk kesehatan, dan 1.183 penyembuh/pengobatan tradisional yang disurvei dari 2009 etnis . Total etnis di Indonesia sekitar 1.128 etnis (Kemenkes 2015).

Bagaimana pandangan masyarakat Internasional terhadap pengobatan tradisional ?

Badan kesehatan dunia (WHO) telah sepakat untuk memajukan pemanfaatan pengobatan tradisional, mendorong pemanfaatan keamanan dan khasiat pengobatan tradisional melalui regulasi produk, praktek dan partisipan. Dalam dunia internasional sendiri pengobatan tradisional lebih dikenal sebagai : traditional medicine, complementary and alernative medicine, integrative medicine, medical herbalism, phytotherapy, datural medicine, dan lain-lain.

Karena jamu telah diakui oleh dunia internasional, terlebih jamu juga merupakan warisan budaya Indonesia sudah sepantasnya kita lebih bersemangat dalam mengembagkannya sehingga jamu mampu memainkan perannya secara optimal. Ramuan jamu lebih banyak menggunakan bagian tumbuhan seperti akar, batang, daun, bunga, buah, dan rimpang. Jamu pun biasa dikemas dalam berbagai bentuk sediaan, seperti simplisia, infus, ekstrak dan lain-lain. Karena jamu memiliki rasa yang cukup pahit, terkadang dalam penggunaannya ramuan jamu  ditambahkan gula merah dan madu. Walaupun memiliki rasa yang cukup pahit jamu memiliki banyak khasiat dan manfaatnya. Dengan berorientasi pada khasiat dan manfaatnyalah kita sebaiknya menentukan arah pengembangan jamu, sehingga lebih bisa dirasakan oleh masyarakat banyak.  Di bawah ini adalah 4 arah pengembangan jamu di Indonesia berdasarkan khasiat dan manfaatnya, yaitu :

  • Pengembangan jamu untuk kesehatan.

Kesehatan sangatlah penting dan mahal. Tanpa kesehatan yang baik kita tidak dapat melakukan aktifitas seperti orang sehat pada umumnya. Selain itu biaya kesehatan pada pengobatan modern membutuhkan biaya yang cukup banyak. Walaupun kini pemerinah telah memberikan banyak subdidi baik melalui pembelian obat generik, maupun BPJS namun kesehatan tetaplah yang paling utama. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sangat diperlukan oleh kita semua.  Ada beberapa jenis ramuan jamu yang digunakan dalam memelihara kesehatan dan mengobati penyakit, dari banyaknya ramuan jamu di bawah ini ada beberapa ramuan yang cukup dikenal di masyarakat diantaranya adalah :

  1. Jamu beras kencur. Sesuai dengan namanya jamu beras kencur memang dibuat dengan menggunakan bahan beras dan rimpang kencur. Selain bahan tersebut beberapa bahan ditambahkan seperti biji kedawung, rimpang jahe, biji kapulaga, asam, rimpang kunyit, dan jeruk nipis. Jamu beras kencur berkhasiat mengobati pegal linu, meringankan gejala batuk, dan menyembuhkan perut kembung.
  2. Jamu cabe puyang. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu ini adalah cabe puyang, rimpang temulawak, rimpang temu ireng, rimpang jahe, daun adas, pulosari, rimpang kunyit, merica, kedawung, keningar, asam jawa, dan temu kunci. Manfaat ramuan jamu cabe puyang adalah mengobati pegal-pegal dan nyeri pinggang serta memeilahara kebugaran.
  3. Jamu kunyit asam. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu ini adalah daun asam yang masih muda atau dikenal dengan daun sinom, rimpang temulawak, biji kedawung, jeruk nipis. Manfaat jamu kunyit asam dapat membantu melangsingkan badan, memperlancar siklus menstruasi, menjaga daya tahan tubuh, dan membantu meringankan gejala panas dalam.
  4. Jamu cekokan. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu cekokan adalah brotowali, daun meniran, lempuyang, lengkuas, serai, widoro laut, temu ireng, doro putih, babakan pule, dan biji adas. Jamu cekok berkhasiat menambah nafsu makan khususnya anak-anak, mengobati cacingan, dan lain-lain
  5. Jamu gepyokan. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu gepyokan adalah rimpang kencur, rimpang jahe, rimpang lengkuas, bangle, kunyit, temulawak, lempuyang, temu giring, dan daun katuk. Jamu gepyokan biasanya digunakan untuk meningkatkan produksi air susu ibu, menghilangkan bau badan yang tak sedap.
  6. Jamu kunci sirih. Bahan yang digunakan adalah temu kunci dan dan daun sirih, daun luntas, rimpang kunyit, rimpang jahe, kencur, serta kapulaga, kayu manis, potongan serai, dan asam jawa. Jamu kunci sirih dapat berkhasiat membantu mengatasi keputihan, bau badan yang tak sedap, merapatkan vagina dan memelihara kesehatan rahim.
  7. Jamu sinom. Bahan yang digunakan adalah sinom/daun asam yang masih muda, rimpang temulawak, rimpang kunyit, kapulaga, kayu manis, pala. Jamu ini berkhasiat mengatasi gejala panas dalam, menjaga kebugaran, dan membuang racun dari tubuh (detoksifikasi).
  8. Jamu temulawak. Bahan yang digunakan adalah rimpang temulawak, kencur, asam jawa, gula aren, daun pandan, serta jintan hitam. Jamu ini bermanfaat mengobati dan mencegah penyakit hepatitis, batuk, dan mengembalikan kebugaran tubuh.
  • Pengembangan jamu untuk kecantikan dan kebugaran.

Selain bermanfaat untuk kesehatan penggunaan jamu juga banyak digunakan untuk kecantikan dan kebugaran tubuh. Jamu memang telah banyak digunakan sejak dahulu oleh puteri kerajaan. Saat ini telah banyak pula pakar kecantikan yang merekomendasikan dan menggunakan jamu sebagai bahan dasar untuk membuat ramuan kecantikan.

Sebagai contoh adalah penggunaan kunyit untuk kecantikan. Kunyit  yang dicampur dengan tepung dan minyak zaitun telah lama digunakan untuk mengobati jerawat, keombe pada rambut, bahkan digunakan pula untuk mencegah dan mengobati kulit keriput karena faktor usia.

Bagi kaum hawa yang bermasalah dengan kulit kering atau berminyak, campuran kunyit dengan minyak zaitun dan bubuk kayu cendana bisa menjadi alternatif pilihan perawatan wajah. Kunyit dengan campuran munyak kelapa pun bisa digunakan untuk mengobati kulit pecah-pecah dan kering di sekitar lutut dan tumit. Bahkan untuk anda yang bermasalah dengan figmentasi kulit karena bekas jerawat bisa menggunakan campuran kunyit dan jus lemon.

Di indonesia jamu yang menjadi primadona dalam hubungannya dengan kecantikan adalah jamu beras kencur, jamu kunyit asam, dan jamu pahitan. Jamu jamu tersebut sangat bermanfaat untuk mengatasi bau badan, memelihara daerah kewanitaan, memperbaiki penampilan kulit termasuk mencerahkan, menghilangkan jerawat, dan pelangsing tubuh.

  • Pengembangan jamu untuk makanan dan minuman.

Makanan tradisional Indonesia memang kaya akan rempah. Rempah yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari adalah bahan-bahan yang sering digunakan untuk membuat ramuan jamu.

Sebagai contoh cengkeh bermanfaat menyembuhkan alergi dingin, jahe untuk mengangatkan badan dan menyembuhkan masuk angin, ketumbar bisa digunakan untuk memperlancar perncernaan dan produksi ASI, pala bisa digunakan untuk relaksasi tubuh, temu kunci digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, lengkuas untuk, kencur digunakan untuk gangguan tenggorokan, kayu manis untuk suplemen tubuh, kunyit digunakan untuk mengobati sakit maag, jinten untuk penyakit pernafasan, serai digunakan untuk mengatasi serangan serangga, kemiri untuk menghaluskan kulit dan rambut, daun salam , kluwek untuk mengatasi gangguan pencernaan, daun pandan penambah selera makan, bawang merah dan putih sebaga antibiotik, kapulaga mengatasi batuk dan gangguan pencernaan, dan merica mengobati gejala flu.

Minuman kesehaan dengan menggunakan bahan rempah tradisional telah menjadi minuman khas di indonesia. Wedang jahe adalah salah satu contohnya. Minuman yang berbahan dasar jahe, kayu manis dan sereh ini merupakan salah satu minuman yang sangat nikmat. Jahe anget juga nikmat,  cocok dinikmati saat udara dingin. Masih banyak minuman tradisional lain yang nikmat namun sekaligus menyehatkan diantaranya kunyit asem, bandrek, bajigur, wedang ronde, beras kencur, teh telur, sirup secang, sirup pala, dan lain-lain.

  • Pengembangan jamu untuk sebagai bagian dari budaya bangsa

Penggunaan jamu dalam hal pemeliharaan kesehatan, kecantikan dan produk konsumsi tidak boleh dipisahkan dari buadaya bangsa kita. Oleh karena itu sangatt penting memaknai jamu bukan hanya sekedar produk obat dan minuman saja, namun lebih pada produk budaya bangsa indonesia. Dari cara pemilihan bahan, proses pembuatan dan alat yang digunakan merupakan warisan budaya yang tetap harus dipertahankan. Karena melalui jalur budaya jamu yang kia nikmati saat ini mampu bertahan dari awal mula jamu tersebut dibuat hingga saat ini.

Arah pengembangan jamu Indonesia yang jelas  sebenarnya telah  mempermudah dan memfokuskan pelestarian jamu sebagai warisan budaya nasional. Diversifikasi dan inovasi dari beberapa produk jamu yang telah diproduksi saat ini akan lebih membuat jamu bisa diterima di masyarakat.  Dan pada akhirnya jamu Indonesia akan menjadi solusi atas permasalahan kesehatan masyarakat.

Sediaan Obat Tradisional di Indonesia

Seiring dengan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat akan jenis dan manfaat tanaman obat (herbal), pelan namun pasti telah membuka jalan bagi tumbuh dan berkembangnya obat dan pengobatan tradisional. Setelah sekian lama kita menggunakan cara pengobatan modern berbasis bahan kimia sintetis, konsumsi obat yang berasal dari bahan baku tumbuhan atau hewan menjadi salah satu alternatif metode penyembuhan dengan berbagai keunggulan. Selain itu gaya hidup modern yang cenderung kembali ke alam (back to nature) turut mendorong semakin meningkatnya eksplorasi, penelitian senyawa bioaktif, dan produksi obat herbal baik secara tradisional ataupun modern.

Menurut Undang-undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yang dimaksud dengan obat tradisional adalah bahan ataupun ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, hewan, bahan mineral, sediaan galenik, atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan dan telah diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Obat tradisional yang awalnya diproduksi oleh pengobat tradisional untuk pasiennya dalam lingkungan terbatas, kemudian berkembang menjadi industri rumah tangga, dan kini bahkan telah diproduksi oleh bukan hanya industri obat kecil tradisional, bahkan telah berkembang pada industri obat tradisional (IOT) dalam skala besar.

Berbagai macam varian obat tradisional telah diproduksi, untuk mempermudah pengawasan dan perizinan maka BPPOM telah mengklasifikasikan obat tradisional ke dalam tiga bentuk sediaan yaitu jamu, obat herbal terstandar dan produk fitokimia.Berikut ini adalah perbedaan antara jamu, obat herbal erstandar, dan fitofarmaka :

Logo IOT

Jamu merupakan  obat tradisional Indonesia yang berasal dari pengetahuan masyarakat (fakta empiris) dan diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu dalam kemasan jamu sering kita temukan kata “dipercaya berkhasiat untuk mengobati…..” Klaim khasiat ramuan jamu diperoleh bukan dari kegiatan percobaan atau penelitian yang bersifat ilmiah, namun diperoleh dari pengetahuan yang berkembang di masyarakat dan diwariskan secara turun temurun.  Contoh produk jamu yang sudah kita kenal adalah jamu sido muncul, bintang toejoeh, air mancur dan lain-lain.

Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah telah dibuktikan kemanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan praklinis serta telah dilakukan standarisasi pada bahan baku yang digunakan. Uji praklinis yang dilakukan diantara adalah uji eksperimental in vitro, uji eksperimental in vivo, uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronik, dan uji toksisitas khusus. Obat herbal terstandar memiliki ciri logo tertentu yang berbeda dengan logo produk jamu dan fitofarmaka, contoh produk yang beredar di masyarakat diantaranya tolak angin, diapet, lelap, reumaker, dan lain-lain.

Fitofarmaka merupakan sediaan bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji klinis dan praklinis. Uji klinis tanaman obat dilakukan untuk memperoleh bukti klinis bahwa obat tersebut bermanfaat, sehingga konsumen yakin akan klaim obat tersebut dari awal. Sebagai contoh produk X mengklaim bahwa produknya mampu menyembuhkan gejala sakit hepatitis, maka uji klinis yang dirancang dengan menghadirkan penderita hepatitis pada stadium dan persyaratan kesehatan tertentu untuk diuji menggunakan produk  X. Pada obat herbal terstandar selain standarisasi bahan baku,  produk jadinya pun distandarisasi untuk memastikan kualitas produk yang diharapkan. Logo pada produk fitofarmaka berbeda dengan logo produk jamu dan obat herbal terstandar. Produk fitofarmaka yang terdapat di Indonesia diantaranya : Stimuno, Nodiar, X-gra, Tensigard, dan lain-lain.

Bagaimana dengan sediaan obat herbal di Eropa ?

Produk obat herbal di Eropa berbasis pada produk ekstrak terstandar. Produk ekstrak terstandar dihasilkan oleh industri ekstrak sebagai industri bahan baku obat herbal (industri antara). Produk ekstrak terstandar sendiri dilindungi oleh hak paten dan merk sehingga menjamin perusahaan tersebut memiliki hak guna atas metode ekstraksi yang digunakan dan produk yang dihasilkan nantinya. Biasanya untuk satu tanaman obat terdapat 2-4 brand yang berbeda dan setiap brand bersaing di pasaran atas dasar kelengkapan data uji klinik atas klaim khasiat. Produk obat herbal di Eropa setara dengan produk fitofarmaka di Indonesia. Regitrasi yang digunakan hampir sama dengan pendaftaran obat pada umumnya yakni melalui NDA (new drug application). Oleh sebab itu maka tidak mengherankan apabila produk obat herbal di luar negeri mudah diperoleh karena bersaing secara seimbang dengan obat berbahan kimia sintetis.

Bagaimana proses ekstraksi yang digunakan pada tanaman obat akan saya sampaikan pada tulisan selanjutnya.

Curcuma, ornamental plant

Genus Curcuma merupakan anggota famili Zingiberaceae yang memiliki lebih dari 50 spesies yang tersebar di asia dan Australia. Beberapa spesies Curcuma digunakan sebagai tanaman obat dan aromatik.  Genus Curcuma memiliki potensi lain yang belum dioptimalkan yaitu sebagai tanaman hias (ornamental plant). Tanaman genus Curcuma memiliki warna bunga yang luas dan morfologi yang berbeda-beda saat mekar. Sebagai contoh Curcuma alismatifolia Gagnep tanaman endemik di Thailand bagian utara sudah diperkenalkan sebagai tanaman hias sejak tahun 1990. Bahkan sejak ditemukannya teknologi kultur jaringan, usaha bunga potong tanaman tersebut menjadi lebih ekonomis. Penelitian yang berhubungan dengan pertumbuhan dan fisiologi pembungaan masih terus berkembang untuk mendapatkan produksi bunga yang berkualitas.

Ada banyak potensi sumber daya genetik kita yang belum termanfaatkan dengan baik. Pencinta bunga lebih banyak memanen bunga dan tanaman dari alam daripada membudidayakannya. Memang secara ekonomi memanen bunga langsung dari alam memiliki ongkos/biaya yang lebih kecil, namun tanpa disadari mereka telah mempercepat kepunahan jenis-jenis tertentu yang memiliki laju pertumbuhan yang lambat.

Di bawah ini beberapa contoh bunga genus Curcuma yang telah berhasil diidentifikasi.  Sangat Indah bukan ?

Slide4

Slide2
Zaveska et al. 2012

Slide3Slide4Slide5

Slide7

Kita bisa melihat berbagai kombinasi bunga yang tumbuh dengan ragam warna dan bentuknya. Peluang pengembangan tanaman genus Curcuma sebagai bunga  potong cukup besar. Kita bisa memanen bagian rimpang sebagai bahan baku tanaman obat dan sekaligus bunganya secara bersamaan. Gambar yang saya lampirkan adalah sebagian kecil sumber genetik yang kita miliki. Kita bisa menemukannya sekarang, namun kita tidak tahu keberadaanya nanti. Teknik budidaya mutlak diperlukan untuk mendomestikasi jenis jenis yang komersial sehingga stok/ cadangan tanaman induknya masih bisa kita lihat di alam.

Metabolit sekunder pada tanaman

1437988730688526Penelitian dengan topik kimia bahan alam telah banyak dilakukan oleh peneliti di seluruh dunia dan objeknya meliputi senyawa-senyawa yang berasal dari sumber daya alam hayati seperti mikroorganisme, tanaman maupun hewan. Beragamnya senyawa yang berhasil ditemukan  telah mendorong dikelompokannya senyawa-senyawa tersebut ke dalam dua kelompok besar berdasarkan fungsi dan proses metabolisme pembentukan senyawa tersebut. Secara garis besar senyawa-senyawa tersebut dikelompokkan  menjadi dua kelompok yaitu metabolit primer dan metabolit sekunder. Metabolit primer diperoleh dari proses metabolisme primer  yang sifatnya esensial bagi metabolisme tersebut dan dikelompokan ke dalam 4 kelompok senyawa yaitu karbohidrat, protein, lemak, dan asam amino. Fungsi karbohidrat, protein, asam amino, dan lemak pada makhluk hidup sudah jelas, antara lain karbohidrat sebagai sumber energi dan protein untuk pertumbuhan. Hal tersebut  berlaku secara umum pada semua makhluk hidup. Namun pada tumbuhan diketahui terdapat metabolit sekunder yang memiliki fungsi non esensial. Sebagai contoh, apabila ada ancaman manusia bisa berlari untuk menghindarinya. Hal ini berbeda dengan tumbuhan yang tidak bisa berlari, digunakannya senyawa metabolisme sekunder untuk melindungi dari ancaman yang berasal dari luar.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat ribuan bahan metabolit sekunder yang meliputi antibiotik, hormon pertumbuhan, mikotoksin, dan lain-lain. Penelitian telah dilakukan dan menunjukan bahwa metabolisme sekunder yang dihasilkan pada fase akhir pertumbuhan, baik pada media kultur atau pada media yang substratnya dibatasi pada media continouse cultur memproduksi metabolit sekunder  dengan bantuan enzim- enzim khusus yang dikode oleh gen tertentu.

Pada metabolisme sekunder hasil reaksi fotosintesis CO2 membentuk senyawa karbon metabolit primer yang kemudian digunakan pada pembentukan senyawa metabolik sekunder. Terdapat 5 lintasan metabolit sekunder yang diturunkan dari metabolit primer yaitu :

  1. Jalur asam sikhimat yaitu pembentukan senyawa dari eritrosa-4-fospat dan PEP yang dihasilkan asam amino aromatik selanjutnya akan diubah menjadi senyawa N sekunder dan senyawa fenol.
  2. Jalur siklus asam trikarboksilat terhadi perubahan asetil Co A menjadi asam amino alifatik selanjutnya dibentuk senyawa N sekunder
  3. Jalur asam malonat terjadi perubahan asetil CoA menjadi senyawa fenol
  4. Jalur asam mevalonat terjadi perubahan asetil CoA menjadi senyawa fenol atau terpen. Pada lintasan ini 3-PGA  diubah menjadi 2-PGA dengan bantuan enzim fosfogliseromutase dan melepaskan molekul air selanjutnya akan diubah menjadi phosphophenol piruvat dengan bantuan enolase. Phosphophenol piruvat akan diubah menjadi piruvat dengan pembentukan ATP dan ADP dengan bantuan enzim piruvat kinase. Piruvat hasil glikolisis ini akan diubah menjadi acetil CoA dengan menggabungkan 2 acetil CoA dan mengeluarkan 2CoASH terbentuklah HMG-CoA. HMG-CoA akan diubah menjadi asam mevalonic dengan oksidasi 2 NADPH menjadi 2 NAD+. Selanjutnya mevalonic acid akan diubah menjadi asam mevalonic.
  5. Pada jalur MEP terjadi perubahan 3-PGA menjadi terpen.

Beberapa kelompok metabolit sekunder hanya dihasilkan oleh beberapa spesies tumbuhan saja, bahkan spesifik untuk genus, bahkan spesies dan stain tertentu. Sebagai contoh :

  1. Azadirachta indica menghasilkan azadirachin
  2. Polypodium vulgare menghasilkan phytoecdysones
  3. Peppermint L menghasilkan menthol
Slide6
Azadirachta indica

Slide7

Polypodium vulgare

Slide8
Peppermint L

Karena memiliki fungsi ekologis metabolit sekunder disebut juga sebagai alelokimia yang didefinisikan sebagai senyawa kimia non nutrisional yang diproduksi oleh spesies yang dapat mempengaruhi atau  menghambat pertumbuhan, perilaku, dan biologi spesies lain. Fungsi ekologis metabolit sekunder adalah sebagai perlindungan tumbuhan dari herbivora dan patogen, atraktan terhadap polinator (menarik perhatian hewan sehingga membantu menyerbukan bunga dan menyebarkan biji).

Metabolit sekunder terbagi dalam 3 kelompok besar yaitu :

Terpenoid 

Terpenoid atau isoterpenoid merupakan penggabungan struktur dasar rangka isopentan suatu molekul berkarbon 5 yang disebut isoprene strukturnya bervariasi mulai dari turpentine. Umumnya larut dalam lemak dan terdapat dalam sitoplasma sel tumbuhan. Sebagian senyawa terpenoid disintesis melalui jalur mevalonat dengan keragaman struktur yang besar dalam produk alami yang diturunkan dan isoprena yang yang bergandengan dalam bentuk head to tail, sedangkan isoprena diturunkan dari metabolisme asam asetat,  pola struktur terpenoid dapat dijelaskan menjadi 3 bentuk, yaitu :

  1. Head to head : pembentukan ikatan polimer terpenoid melalui monomer isoprena yang terbentuk melalui struktur kepala (C1) dengan kepala (C1) terpenoid lain.
  2. Head to tail : pembentukan ikatan polimer terpenoid melalui monomer isoprene yang terbentuk melalui strukur kepala (C1) dengan bagian ekor (C5) terpenoid yang lain.
  3. Head to middle : pembentukan ikatan polimer terpenoid melalui monomer isoprena yang terbentuk melalui struktur kepala (C1) dengan atom C selain atom C1 dan C5.

Terpenoid terbagi menjadi beberapa kelas diantaranya :

  1. Hemiterpen : 1 unit isoprene (C5) contohnya volatil product organ fotosintesis
  2. Monoterpen : dua unit isoprene (C10) dengan pola head to tail contohnya minyak terpentin, volatil product dari bunga dan minyak dari beberapa herba, mircen, limonen, dan ocimen.
  3. Sesquiterpen : tiga unit isopren (C15) dengan pola head to tail contohnya phytoalexin, antibiotik, antifeedan, dan ABA.
  4. Diterpen : empat unit isoprene (C20) contohnya cembren, phytol, GA, resin, taxol, dan forskolin
  5. Triterpen : enam unit isoprene (C30) gabungan dari dua C15 dengan pola head to head contohnya skualena, brassinosteroid, phytosterol, phytoalexin, toxin, oleanolic acid pada anggur.
  6. Tetraterpen : delapan unit isoprene (C40) dengan pola head to head contoh likopen, karoten, carotenoid,
  7. Polyterpen : lebih dari 8 gugus isoprene contoh karet dan getah perca, plastoquinon, dan ubiquinon
  8. Meroterpen : campuran antara terpen dan metabolit lain

Terpen disintesis pada sitosol dan retikulum endoplasma melalui lintasan acetate/mevalonate contohnya sesquiterpen, triterpen, dan polyterpen. Pada plastid terpen dibenuk melalui lintasan MEP, contohnya isopren, monoterpen, diterpen, dan tetraterpen.

Fenol

Fenol merupakan senyawa dengan ciri senyawa aromatik yang memiliki atau pernah memiliki gugus hidroksil pada cincin phenyl, mudah larut dalam air umumnya berikatan dengan glikosida dan terdapat dalam vakuola tumbuhan. Senyawa fenol merupakan bagian dari evolusi tumbuhan dari lingkungan air ke lingkungan darat karena tumbuhan darat menghasilkan senyawa fenol yang ternyata dimiliki oleh tumbuhan air. Asumsi yang berkembang selanjutnya adalah tanaman darat berevolusi dari lingkungan air dan senyawa fenolik disintesis sebagai cara adaptasi tumbuhan air terhadap lingkungan darat. Senyawa fenol sebagian besar diturunkan dari phenylpropanoid dan phenyl propanoid acetate, dan memiliki struktur senyawa aromatik yang memiliki atau pernah memiliki gugus hidroksil (OH) pada cincin phenyl.

Fenol disintesis melalui jalur lintasan asam shikhimat dan hanya terjadi hanya pada tumbuhan karena lintasan asam sikhimat membutuhkan bahan dasar Erytrosa-4-phosfat yang merupakan hasil dari metabolisme primer (fotosintesis) yang hanya dapat berlangsung pada organisme berklorofil.

Peran senyawa fenol pada tumbuhan adalah untuk memperkuat dingding sel (lignin), pertahanan terhadap patogen (lignan), pigmen bunga, protectan/racun terhadap serangga (tanin), favor (rasa/odor), perlindungan terhadap bakteri dan fungi (isoplavonoid), dan menghambat perkecambahan (stilbene).

Alkaloid

Alkaloid dan senyawa N dengan ciri strkturnya selalu memiliki nitrogen, bersifat basa, umumnya berbentuk kristal, namun ada yang berbentuk cair pada suhu kamar dan larut dalam air. Alkaloid adalah kelompok senyawa basa nitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat pada tumbuhan. Pada beberapa kasus alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari gangguan parasit atau pemangsa tumbuhan. Beberapa senyawa alkaloid berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh karena dari segi struktur alkaloid menyerupai zat pengatur tumbuh tertentu.

Slide5

Senyawa alkaloid merupakan senyawa yang terdapat pada tumbuhan atau dapat disintesis oleh tumbuhan alkaloid. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik daun tanaman yang mengandung senyawa alkaloid berasa sepat dan pahit sehingga biasanya langkah awal untuk mengidentifikasi mengandung alkaloid bisa digunakan uji organoleptik. Selain pada daun senyawa alkaloid juga terdapat pada akar, biji, ranting dan kulit kayu.

Alkaloid dibagi menjadi beberapa kelas yaitu : kelas alkaloid  pyrrolidine contohnya nikotin yang dihasilkan oleh tumbuhan Nicotina tabacum berperan sebagai racun, insektisida, dan obat. Kelas alkaloid Tropane contohnya atropine dihasilkan oleh tanaman Hyoscyamus niger. Kelas alkaloid Piperedine contohnya Coniine dihasilkan oleh tanaman Conium maculatum berperan sebagai racun, dan dikenal sebagai alkaloid yang disintesis untuk pertama kali.

Yang paling menarik perhatian adalah senyawa alkaloid yang dikenal sebagai “the gold of dream” yaitu morfin yang berasal dari kata morpheus yang berarti suatu istilah yang menggambarkan suasana halusinasi bagi pemakai opium, morfin atau madat.

 

Curcumin

1437988730688526
Dari rempah di atas, tentunya kita bisa menebak di bagian rempah mana Curcumin dapat kita temukan ?

Curcumin adalah curcuminoid yang terdapat pada tanaman temu temuan yang termasuk pada Zingiberaceae. Curcuminoid bentuk lain adalah desmethoxycurcumin dan bis-desmethoxycurcumin. Curcuminoid termasuk ke dalam polifenol dan bertanggung jawab terhadap warna kuning pada tamaman temu temuan. Curcumin dapat terdapat dalam bentuk paling sedikit dua bentuk tautomeric, keto dan enol. Bentuk enol lebih stabil dalam fase padat dan di dalam larutan. Curcumin dapat digunakan untuk mengkuantifikasi senyawa boron yang dikenal sebagai Curcumin method. Bereaksi dengan asam borat membentuk komponen yang berwarna merah yang dikenal dengan rosocyanine. Curcumin memiliki warna kuning terang dan digunakan sebagai pewarna makanan. Digunakan sebagai pewarna aditive makanan yang dikenal sebagai E100.

images (1)
Penggunaan pewarna aditif E100 pada makanan dapat diketahui dari kolom keterangan pada pembungkus makanan

Sifat dari Curcumin

Curcumin digunakan sebagai anti oksidan, anti inflamatory, anti viral dan anti cendawan. Hasil penelitian menunjukan bahwa curcumin tidak bersifat racun terhadap manusia. Curcumin memiliki fungsi sebagai aktifitas anti inflamatori karena penghambatan sejumlah molekul yang berbeda yang mana memegang peranan penting dalam peradangan. Curcumin terdapat pada tanaman temu temuan seperti kunyit. Kunyit sangat efektif dalam mengurangi post surgical inflamatory. Kunyit membantu mencegah atherosclerosis dengan mengurangi bentuk pembekuan darah. Curcumin diketahui menghambat pertumbuhan helicobacter pylori yang mana dapat menyebabkan bisul lambung  yang berhubungan dengan kangker lambung. Curcumin dapat berikatan dengan logam berat seperti cadmium dan timbal, sehingga dapat digunakan untuk mengurangi toksisitas karena logam berat tersebut. Aksi dari curcumin memberikan perlindungan pada otak. Aksi Curcumin sebagai inhibitor pada cyclooxygenase, 5-lipoxygenase, dan gluthathione s-transferase. Seperti rempah pada umumnya dikenal sebagai bumbu masak di negara india. Kunyit juga digunakan sebagai bahan baku obat yang mana terintegrasi sifa herbal dengan makanan. Herbal yang tidak biasa. Kunyit pun berpotensi sebagai antioksidan.

Curcumin sebagai bahan aktif memiliki kekuatan dan atioksidan sebagai vitamin E, C dan beta karoten membuat kunyit digunakan sebagai pilihan untuk mencegah kanker, memelihara kesehatan hati dan anti penuaan. Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kunyit mencegah pertumbuhan beberapa tipe sel kangker yang berbeda. Di sisi lain kunyit sebagai anti peradangan yang sangat kuat untuk kondisi seperti luka bakar, arhritis dan luka memar. Aksi kunyit sebagai anti peradangan merupakan kombinasi dari tiga sifat yang berbeda.  Pertama kunyit memproduksi dengan rendah induksi peradangan histamin. Kedua sebagai aksi prolog hormon alami anti peradangan cortisol yang ketiga curcumin meningkatkan sirkulasi, membuang racun dan berikatan dengan molekul yang menyebabkan peradangan. Hasil penelitian mengkonfirmasi manfaaat kunyit terhadap saluran cerna. Aksi kunyit sebagai cholague, meningkatkan kemampuan tubuh dalam mencerna lemak , meningkatkan pencernaan, dan mengurangi racun dari hati.