Asam absisat (ABA) ditemukan pertama kali pada jaringan pembuluh tanaman lumut, dan beberapa genus dari cendawan menghasilkan ABA sebagai metabolit sekunder. Di dalam organ dan jaringan hidup tanaman ABA dapat diidentifikasi dari akar hingga tunas apikal, sehingga kita bisa melihat bahwa ABA disintesis pada semua sel yang mengandung kloroplas atau amiloplas. ABA adalah senyawa yang mengandung 15 atom karbon, arah karboksil grup pada atom karbon ke dua menentukan arah orientasi apakah bentuk ABA cis atau trans.

Sama dengan hormon lainnya respon ABA bergantung pada konsentrasi di dalam jaringan dan sensitifitas jaringan tersebut terhadap hormon. Biosintesis ABA terjadi pada kloroplas dan plastida. Penelitian pada beberapa tanaman mutan yang kehilangan beberapa jalur pada biosintesis ABA menunjukan fenotipe abnormal yang dapat pulih kembali setelah diberikan ABA secara eksogen. Biosintesis diawali dengan sintesis isopentenil dipospat (IPP) yang secara biologis merupakan unit isporen membentuk violaxantin yang dikatalis oleh enzim zeaxantin epoksidase (ZEP). Violaxantin kemudian berubah menjadi 9’-cis-neoxantin yang memiliki atom C sebanyak 40 dan memecah menjadi atom C sebanyak 15 yang disebut sebagai xantoksal atau xantoksin yang dikatalis oleh enzim 9-cis-epoxycarotenoid dioxygenase (NCED). Pada tahap akhir terjadi oksidasi menjadi senyawa antara/intermediet yaitu ABA aldehid atau xanthoxic acid.

Konsentrasi ABA pada jaringan tumbuhan bervariasi dan bersifat fluktuatif bergantung pada respon terhadap perubahan kondisi lingkungan. Dalam perkembangan bibit sebagai contoh, konsentrasi ABA meningkat namun cenderung menurun saat perkecambahan, saat tanaman kekurangan air konsentrasi ABA pada daun meningkat pada 4-8 jam namun setelah kondisi air normal kembali konsentrasi ABA turun hingga posisi semula.

Penyebab utama inaktivasi ABA adalah reaksi oksidasi yang menghasilkan senyawa phaseic acid (PA) dan dihidrophaseic acid (DPA). Pada beberapa spesies kehadiran senyawa PA menginduksi penutupan stomata, hal ini bisa terjadi karena PA mampu mengikat reseptor ABA. Berbeda dengan PA, senyawa DPA tidak banyak diketahui aktifitasnya. ABA juga terinaktivasi karena berkonjugasi melalui ikatan kovalen dengan senyawa lain seperti monosakarida, sebagai contoh ABA-β-D-glucosyl ester (ABA-GE). Reaksi konjugasi ini bukan hanya menyebabkan terjadinya inaktivasi ABA sebagai hormon namun berpengaruh terhadap polaritas dan distribusi di dalam sel. Apabila ABA terdistribusi di dalam sitosol maka ABA-GE justru terdistribusi di dalam vakuola tanaman. Enzim esterase pada sel tanaman mampu mengubah ABA konjugasi menjadi ABA bebas dalam sel. Berdasarkan penelitian dapat diduga bahwa ABA-GE ini pun mampu terhidrolisis menjadi ABA karena pengaruh cekaman kekeringan pada daun.

Secara fisiologi, ABA memegang peranan penting dalam meregulasi inisiasi dan menjaga dormansi benih dan tunas, menutupnya stomata sebagai respon tanaman terhadap stress, seperti kekeringan. ABA bekerja dengan hormon lain misalnya GA melalui rasio ABA dan GA menginduksi produksi enzim, pertumbuhan akar, dan senesen pada daun.