Bogor telah menunjukan wujud aslinya sebagai kota hujan. Dalam beberapa hari ini hujan turun dengan lebat, membuat tanah yang selama ini kering dan tandus kini menjadi basah dan subur kembali. Kita sudah menantikan musim hujan ini sejak beberapa bulan yang lalu, saat musim kemarau panjang dan panas meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kita semua dibuat bingung dengan siklus curah hujan tahun ini. Saya terbiasa menandai musim hujan dengan melihat nama bulan, contohnya bulan September, Oktober, November dan Desember berakhiran _ber (ber-beran dalam bahasa Sunda, dimana air hujan turun dengan lebat) menunjukan bulan-bulan yang memiliki curah hujan dan frekuensinya yang cukup tinggi. Kemudian berlanjut hingga bulat Maret, dengan akhiran _ret (ret-retan dalam bahasa Sunda, air hujan turun sedikit sekali) menunjukan bulan-bulan yang memiliki curah hujan yang rendah dengan frekuensi turunnya hujan cukup rendah. Biasanya bulan Maret ditandai dengan berakhirnya musim hujan. Sekarang berbeda, kita seolah tidak mengetahui kapan dan dimana akan turun hujan. Perubahan iklim nampaknya telah menggeser bulan-bulan hujan dan kemarau menuju kesetimbangan baru.

Di tahun ini pada bulan September yang seharusnya bercurah hujan tinggi ternyata memiliki curah hujan sangat rendah, apalagi frekuensinya bisa jadi dalam satu bulan jarak antar hujan pertama dengan kedua sekitar 2-3 minggu, dan saya perkirakan ada pergeseran dimana kemungkinan bulan Maret masih akan turun hujan. Tentunya ini hanya perkiraan, kenyataannya kita tidak tahu seperti apa. Saya jadi teringan sebuah surat dalam Al-Qur’an yaitu Luqman ayat 34 :

31_34“Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. 31:34)

Ayat tersebut menyebutkan bahwa hanya Allahlah yang Maha Tahu tentang turunya hujan, baik itu dimana, kapan, berapa lama, dan seberapa lebat. Di dalam ayat tersebut juga Allah SWT menegaskan bahwa selain turunnya hujan, tidak ada seorang pun termasuk Nabi dan Rasulnya yang mengetahui kapan terjadinya kiamat, mengetahui apakah di dalam rahim itu laki-laki atau perempuan, apa yang akan terjadi besok, dan termasuk kapan dirinya akan mati. Subhanalllah.

Jadi persoalan hujan, Allah lah yang menentukan dan mengetahuinya dengan memerintahkan malaikat untuk menurunkan hujan pada suatu waktu, di daerah tertentu dan dalam jumlah tertentu pula. Apabila kita menginginkan turunya hujan mintallah dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT, yaitu shalat meminta hujan/istisqo. Jangan meminta hujan lewat perantara seperti pawang hujan dan yang lainnya. Jangankan pawang hujan, ketidak tahuan akan turunnya hujan pun disadari oleh pakar cuaca sehingga turunnya hujan tidak dapat ditentukan dengan pasti, hanya masalah peluang dan perkiraan. Peluang dan perkiraan saja sifatnya belum pasti apalagi pra-kiraan. Terkadang kita mengira hari ini akan turun hujan karena langit telah gelap gulita, namun pada kenyataanya hujan yang ditunggu tunggu pun tak turun-turun juga, sebaliknya kita mengira bahwa hari ini akan panas terik dan rasanya tak mungkin hujan turun, namun ternyata terjadilah hujan. Wallahualam.