Terkadang salah satu pembeda antara seorang laki-laki yang sudah menikah dengan bujangan adalah dari berat badannya. Survei membuktikan dari beberapa teman-teman saya yang telah menikah ternyata ditemukan beberapa orang yang mengalami peningkatan berat badan yang cukup signifikan. Termasuk saya🙂. Istilahnya ‘melebar”, bertambah volume/bobot badannya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ?

Ada beberapa alasan yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada yang beragumen bahwa menikah itu hidupnya senang dan bahagia, “secara” dia telah menemukan tambatan hati. Ada pula yang berpendapat bahwa beban pikiran berkurang karena kalau ada satu masalah bisa “dikeroyok” bersama-sama, bahkan dengan solusi yang lebih ajib bila dibandingkan dengan apabila kita menyelesaikan permasalahan tersebut sendirian. Yang tak kalah pentingnya bagi saya adalah adanya “intervensi istri” terhadap kualitas dan kuantitas makanan yang kita makan.

Bagaimana bentuk intervensinya ?

Sebagai contoh, dari segi kuantitas terkadang ada beberapa orang yang memiliki jadwal makan yang tidak teratur. Pagi kadang sarapan, makan siang mungkin terlewat karena kesibukan, akhirnya hanya mengandalkan makan malam. Atau bahkan tidak ketiga-tiganya. Setelah menikah istri mempersiapkan sarapan pagi untuk kita, sempat atau tidak pasti sesuap atau dua suap pastinya masuk ke dalam mulut. Kalau tidak mau makan sendiri, pastinya “disuapin”.

Dilanjutkan dengan makan siang, saat kita berangkat bekerja istri sudah menyiapkan bekal makanan untuk kita makan nanti siang. Kita tidak repot-repot pergi ke luar tempat kerja untuk membeli makanan, waktu istirahat kita akan lebih lama. Terakhir, saat kita lelah pulang dari pekerjaan, sudah terhidang masakan yang tak kalah mengundang selera. Lengkaplah dalam satu hari kita makan 3 kali. Belum lagi ditambah kudapan yang tak kalah beragamnya.

Dari segi kualitas, lidah kita akan menyesuaikan diri dengan racikan yang dibuat oleh istri. Setelah selesai memasak istri selalu meminta pendapat saya tentang cita rasa masakan istri. Sehingga diketahui kisaran rasa asin, manis dan pedas yang cocok untuk lidah kami berdua. Terkadang menurut istri saya terlalu asin belum tentu menurut saya, disanalah kompromi hadir menentukan berada di batas mana rasa asin itu bisa diterima oleh lidah kita masing-masing sehingga makanan yang terhidang memang makanan kami berdua.

Selain itu tidak seperti sebagian makanan yang dijual di luar, kami menetapkan standar tertentu untuk setiap makanan yang dihidngkan seperti bahan baku harus bersih, dicuci terlebih dahulu. Jika sayuran jangan dimasak terlalu lama, begitu pun dengan daging harus benar-benar masak sempurna. Bahkan kami menghindari penyedap rasa yang berlebihan atau kalau bisa dikurangi sama-sekali. Inilah beberapa buah karya istri tercinta🙂

IMG_0051
cah jamur cinta suci
IMG_0057
pancake pisang semanis istriku
IMG_2714
tumis sayur cinta bergelora plus telur puyuh
IMG_0522
kacang merah pasta kerinduan
IMG_4738
sop ikan bikin kangen
IMG_1022
salad buah segar bugar
IMG_0478
ikan gurame goreng bumbu asam manis dan imut
IMG_4183
pindang kecap bikin deg-degan,

Agar lebih menarik kami menamakan masakan istri dengan nama-nama khusus seperti cah jamur cinta suci, pancake pisang semanis istriku,  nuget ikan penuh harapan, tumis sayur cinta bergelora plus telur puyuh, salad buah segar bugar, kacang merah pasta kerinduan, ikan gurame goreng bumbu asam manis dan imut, sop ikan bikin kangen, pindang kecap bikin deg-degan, dan  lain-lain.

itulah salah satu bekal cinta, apa yang kita makan, dan yang kita nikmati bersama keluarga🙂

Wallahualam..

Sudahkah anda membawa bekal makan siang ke tempat kerja ?